Call It Fate, Call It Karma - The Strokes
—
"Kamu sangat menginginkan dia?"
William Tjokrowinata bertanya menelisik kepada sang anak. Duduk berdamping-dampingan tanpa saling menatap, pandangan mereka sama-sama ke depan, di kursi penumpang belakang. Menyisakan hanya mereka berdua di dalam mobil. Michael, asisten pribadi William berjaga di luar, ditemani sopir setelah memarkirkan mobil.
Di tangan William tergenggam arloji emas antik yang terus di usap perlahan. Kakinya bersilang. Punggungnya tegap bersandar. Mengenakan setelan tailored suits kasmir licin jahitan khusus Gieves & Hawkes, sangat berbanding dengan pakaian santai Bian. Aura dingin di dalam mobil bukan hanya disebabkan dari pendingin yang menyuarkan wewangian chrysantemum dan jasmine.
"Cucu perempuan Yanai, kamu menginginkannya?" Lontaran pertanyaan William Tjokrowinata seolah mendesak kala Bian tidak menjawab, tetapi aneh ketika ketuk suaranya terlalu tenang, seperti pihak yang mempertimbangkan penawaran. "Berikan Papa alasan kenapa kamu harus memilikinya."
Bian mendesis tipis. "Briana bukan barang."
"Barang atau bukan, semuanya tetap harus dipertimbangkan." William bertutur datar.
"Jika alasan yang kamu berikan bisa Papa terima, Papa akan membantu kamu mendapatkannya."
Tawaran William Tjokrowinata diiringi ketuk arloji berdengung cepat di telinga Bian yang mengepalkan tangan. Mengeraskan rahang. Netranya menajam.
"Seperti Papa yang mempertimbangkan untuk menceraikan Mama?" Bian menarik bibir, sinis.
"..."
"How funny," Suara Bian tenang, menajam. "Papa menawarkan bantuan, di saat Papa yang secara sadar telah menjauhkan aku dengan Briana."
"..."
"Tidak perlu susah-susah menawarkan bantuan."
Suara Bian dingin. Duduk tidak kalah tegak dengan aura mencekam dari pria paruh baya di sebelahnya.
Pria yang seharusnya mirip dengannya.
Bian tidak akan gentar, tidak untuk Bee-nya. Sebab Bian sangat tahu, selalu akan ada bayaran di balik bantuan, kemurahan hati yang Papanya berikan.
William yang perfeksionis, selalu memperhitungkan—sebut seperti yang beliau katakan, pertimbangan matang. Harus ada imbal balik yang setimpal—lebih besar. Segala yang menghalanginya, akan dipenggal.
Belum menanggapi, William menurunkan jendela tepat di sebelahnya. Memanggil Michael yang lekas menghampiri hanya dengan ketukan teratur jari. Michael sedikit merunduk kala William berujar pelan, seumpama berbisik. Cerutu diangsurkan oleh Michael kepada William. Diletakkan di celah bibir olehnya. Nyalak asap bergumul perlahan ke udara usai pematik dihantarkan oleh Asisten Pribadinya.
Hisapan cerutu dilakukan setenang suasana malam, di luar bangunan megah yang menghelatkan pesta. Bak sangat berbanding semerayaknya. William menghembuskan asap, pekat abu, aroma tajam mengalahi ketentraman harum bunga-bunga.
"Kamu berpikir untuk bertindak sendirian?"
"Melawan mereka semua?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
