1. Chill Thrill

97.7K 4.7K 496
                                        

©️Don't Copy Paste Anything From Here©️


Resah - Payung Teduh

Agustus 2019

Daun menguning gugur, di setapak tandus, musim kemarau...
Segerombol burung gereja melintasi bening, air danau...
Angin kering berhembus, menitipkan kenangan, masa lampau.

Awan bergumul keabu-abuan di langit tak lagi biru. Matahari belum turun di penghujung. Sekitar jam empat, atau lima. Aroma pekat menggulung ke udara, dari asap tembakau yang telah diputus oleh sosok yang menikmatinya. Menyundutkan bara rokok tersebut ke batu beton di sebelahnya; tempat ia bertumpu, duduk beralas, mengemper, di bagian samping perpustakaan pusat seumpama bongkahan kristal yang sepi. Tak ada orang lain kecuali dirinya di sekeliling pohon mahoni tinggi, rumput ilalang, dan bunga liar.

Di tepian danau, Briana Diamour—Bri panggilan kecil orang lain untuknya, sosok perempuan itu membuang bekas puntung rokok ke tempat sampah terdekat. Merogoh tas bahu dari rumah mode ternama, mengambil parfume. Menyemprotkan ke titik-titik tubuh untuk mengganti aroma pekat tadi.

Berdiri. Briana menata penampilan; mengurai rambut panjang bergelombang sepinggangnya yang baru diwarnai ash brown, membenarkan kaos hitam pendek yang melekat pas di tubuh, menepuk-nepuk celana high-loose warna senada kaos dari debu dan kotoran yang menempel.

Sejenak, tatapan Briana di arahkan ke permukaan air danau. Mengawang. Mematri pada pantulan dirinya di air yang bergelimang, membayang. Tertimpa cahaya matahari ke oranye-oranyean. Tak ada senyum kala kepak sayap segerombol burung terdengar. Bercicitan.

Menghantarkan aroma payau air danau dan daun kanopi pohon. Surai Briana tergerak, tersapu angin. Disematkannya ke balik telinga, menampakkan tindikan di sana. Anting-anting cantik, berpendar. Namun, bukan pada kilauan itu netra Briana mematri. Tetapi, tato kecil di leher. Gambar seekor lebah menyengat.

Menelisik kasat pantulannya di permukaan air yang tenang. Sebelum akhirnya sadar, Briana memutuskan keluar. Meninggalkan hening, sunyi, tempat ia bersembunyi. Merapikan rambutnya kembali.

"Dari mana aja sih lo?" selidik Nessa, ketika Briana sudah duduk di sebelahnya, yang saat ini berada di taman lingkar, depan perpustakaan pusat kampus mereka.

Disebut taman lingkar, mungkin, karena bentuk tempat mereka duduk saat ini serupa undakan berjenjang, bak anak tangga dari paving, nampak membentuk lingkaran. Mengelilingi sebuah pohon kayu jati besar berdiri menjulang, entah berapa umurnya sekarang. Di bagian sisi lain, terhampar pemandangan salah satu danau yang mengalir di kampus mereka. Menampakkan gedung rektorat, gedung kesenian, gedung-gedung lain yang berdiri kokoh di seberang.

Nessa, salah satu teman dekat Briana yang juga dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Program Studi Manajemen, sedang Briana Akuntansi. Mengerutkan kening. Wajah Nessa tertekuk, saat seharusnya gadis penyuka musik itu senang. Sebab penampilan live music dari Payung Teduh yang diundang kala kelas usai akan berlangsung di hadapan mereka.

Briana menyibak rambut ke balik bahu. Melepas tas tenteng dari pundak. Menyilangkan kaki di atas lutut kiri. Membalas singkat. "Nyebat." Menoleh ke kanan, kiri. Mendapati ramai mahasiswa di setiap sisi, namun teman mereka yang lain tidak terlihat di sini. "Fiora sama Hera kemana?"

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang