As The World Caves In - Matt Maltese
—
"Kenapa sih nggak mau putus?"
"Menurut lo?"
"Ditanya, malah nanya balik," sewot Briana, dirinya melengos jengkel. Mencibir Bian yang sedang serius mencuci piring di sebelahnya, dengan Briana yang kebagian tugas mengeringkan, meletakkan alat makan ke rak. Briana sudah merasa baikkan. Dirinya tidak bisa diam saja setelah diberi makan—lagi, yang sebenarnya ingin Briana tolak, tetapi ternyata Briana lapar—sehingga setelahnya Briana memaksa ikut mencuci piring dengan Bian. "Selalu nyebelin."
"Am I?"
Briana menaikkan sebelah alis.
"Selalu nyebelin?"
"Menurut lo?" Briana membalik perkataan Bian tadi. "Enak 'kan? Ngasih orang pertanyaan, dijawab pertanyaan juga?"
"Dendam," Bian menoleh pada Briana. Rautnya datar, bukan jenaka, saat menjentikkan jemari yang terdapat busa ke kening gadis di sampingnya. "Kurang-kurangin."
"Bian! Ishh!" Wajah Briana tertekuk. Mengelap keningnya, untuk kemudian memeperinya ke kaos hitam Bian. "Iya, selalu nyebelin." sungutnya.
Briana lanjut mengelap piring kelewat bersemangat. Menumpahkan kekesalannya melalui piring-piring yang akan ia buat putih mengkilat. Sedang Bian, masih merunduk, membilas cucian, yang awalnya dilakukan cepat, lama-kelamaan melambat.
Sesaat, tak ada lagi obrolan di antara mereka. Pun seharusnya, pembicaraan-pembicaraan selewat yang telah dilakukan selama mereka mencuci piring, bahkan sebelumnya, ketika Briana makan ditemani Bian, ketika Briana harus minum obat dengan paksaan Bian, tidak bisa dikategorikan obrolan. Sebab terlalu asal, tak ada simpul, dilakukan mengawang.
Sekarang, beberapa menit waktu hanya diisi suara air yang mengalir dari keran. Gesekan alat makan dengan sponge busa cuci piring. Radio yang dinyalakan, samar-samar mengudarakan as the world caves in. Meongan Billy dan Willy dari ruang tengah, semoga tidak terjadi kekacauan. Tidak ketinggalan, gerutuan penuh kesungguh-sungguhan Briana, yang Bian bisa dengar.
"Bee."
Kening Briana bertaut, agak sangsi mendengar suara Bian yang memanggilnya saat ini—lagi, dengan nama kecil yang lelaki itu sematkan untuknya dulu. Suara Bian yang berat, mengalun rendah, pelan tanpa penekanan, terlalu halus untuk orang sepertinya.
Jujur saja, dulu ataupun sekarang, setiap Briana mendengar Bian memanggilnya 'Bee' apalagi dengan nada suara lelaki itu saat ini, Briana—
"I miss you."
Merinding.
"Gila..." celetuk Briana begitu saja.
Dirinya terpaku. Tangannya yang memegang piring mengawang di udara, sedikit bergetar. Menatap profil samping Bian, dirinya terdiam, bingung harus berkata-kata atau diam saja pura-pura tak mendengar. Namun, bagaimana bisa pura-pura tak mendengar, ketika yang selanjutnya lelaki itu ungkapkan bagai bualan besar.
"Ya," balas Bian tenang. "Hampir."
Yakali? Seorang Bian? Relax, Bri. Briana menarik napas, halus."Gue minta putus, terus lo bilang kangen, itu nggak make sense, Bian." hardik Briana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
