Alexa Smith seorang shewolf malang dengan darah campuran yang mengalir dalam nadinya. Lebih menyedihkan lagi dia sering di siksa dan di perlakukan lebih buruk dari pada pelayan oleh para omega di pack yang menjadi satu-satunya rumah.
Alexa tidak ber...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
. But not in this chapter~~~
.
.
.
Malam kian berlalu. Semburat jingga di cakrawala mewarnai langit. Namun apa yang mewarnai hari-hari Arsenio adalah perburuhan dan pembunuhan. Bermandikan darah ibarat sarapannya sehari-hari. Jika di siang hari ia melakukan tugasnya sebagai Alpha maka di malam hari ia menjelma menjadi hewan buas bak predator kelaparan. Insting liarnya membabi buta. Keinginannya hanya satu. Melepaskan diri dari rasa sakit yang mencengkram jiwa dan raganya. Rasa sakit akibat penghianatan pasangan abadinya.
Siera menjadi saksi kebengisan Arsenio. Belum pernah Siera melihat kakak yang biasanya begitu lembut dan perhatian berubah seratus delapan puluh derajat menjadi iblis tak berhati yang begitu brutal. Tidak ada waktu baginya untuk beristirahat. Hanya tugas dan pembunuhan yang menjadi satu-satunya pelipur lara baginya.
Lolongan pilu? Tidak sama sekali. Arsenio tidak pernah meratap maupun menangis. Kepergian Alexa memang melukainya. Namun jangan harap ia akan melakukan tindakan bodoh yang tidak berguna dan memalukan. Terlebih lagi ia bukanlah werewolf biasa. Ia adalah Alpha, bahkan Alpha terkuat di underworld.
Pelepasannya tidak merugikan siapapun. Pekerjaan di pack jadi semakin teratur di bawah kendalinya. Arsenio mengatur sistem dengan begitu presisi dan terstruktur. Bahkan tak segan mengamuk jika pekerjaan yang baginya mudah tak dapat terselesaikan meskipun sebenarnya pekerjaan itu cukup sulit di selesaikan warrior biasa.
Siera memandang sendu. Kakak yang begitu di sayanginya berubah menjadi lebih seperti mesin hidup yang hanya menjalankan tugasnya. Namun jiwanya kosong tanpa emosi. Satu-satunya emosi yang di tunjukkan adalah ekspresi kepuasan tersendiri ketika memburu rogue hutan dengan sadisnya.
'Kau pasti sedang merencanakan sesuatu bukan?' mindlink Cler. Serigala putih yang biasanya malas untuk sekedar menunjukkan eksistensinya ikut bersuara.
"Tentu saja." Balas Siera sambil merapikan beberapa botol ramuan dan membelai lembut gaun putih cantik yang telah jauh-jauh hari ia persiapkan. Gaun yang anggun namun membuat pemakainya masih leluasa bergerak bebas.
Siera juga mempersiapkan sepasang sepatu kulit hampir setinggi lutut. Kuat dan sangat lentur untuk melindungi kaki. Meskipun terlihat tidak nyaman sepatu itu justru terasa sangat nyaman dan tak akan mudah lepas, sangat cocok digunakan untuk berlari apalagi menginjak wajah seseorang. Terakhir dan yang paling penting adalah sarung tangan kulit dengan bahan yang sama dengan sepatunya. Melindungi tangan sekaligus memperkuat kekuatan pukulan.
'Ramuan itu dapat memulihkan mana seketika, namun tidak boleh digunakan secara terus menerus bukan?' Tanya Cler sedikit tertarik dengan ramuan beraneka ragam di dalam ampul kristal berbagai bentuk. Perhatian Cler terpusat pada ampul paling besar dengan cairan bening kuning keemasan.