Pergi ba'da sholat subuh dari rumahnya menuju rumah sakit sebelum berangkat kerja adalah rutinitas hariannya saat ini. Bukan itu saja, bahkan ia juga akan mampir kembali ke rumah sakit setelah pulang kerja sebelum ia kembali ke rumahnya. Meskipun tidak bertemu, namun hanya melihatnya dari kejauhan saja sudah cukup mengobati rasa cemas dalam dirinya. Ia hanya ingin memastikan bahwa gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
Dia adalah Farzan, yah dia tidak pernah melewatkan satu haripun untuk tidak mengunjungi Miru. Tidak ada yang tau mengenai rasa cintanya ke Miru selain Ansel, Hariz dan Ali. Ansel tidak marah sama sekali karena Farzan mencintai putrinya, namun ia rasa waktunya tidak tepat untuk saat ini. Tragedi yang dialami Miru tidak diketahui siapapun kecuali keluarganya dan orang terdekatnya saja. Bahkan untuk urusan kampus, Ansel sangat hati-hati menyampaikan ke beberapa pihak kampus agar Miru mengambil cuti karena ada urusan keluarga.
"Umi, Miru kangen banget loh sama Abi. Kenapa Abi lama di Jakartanya dan nggak jengukin Miru ya? Katanya Abi sayang banget sama Miru, tapi kenapa nggak pernah datang?" tanya Miru kepada Arsyila di sela-sela obrolannya seraya menatap ke arah jendela rumah sakit.
"Kamu kangen berat ya sama Abi?"
"Pasti kangen dong Mi, bahkan kok aku ngerasa aneh ya, Mi. kenapa Abi, Ayah hariz, adek sama Ali kompakan nggak ada yang datang jenguk aku? Mereka ini pada kemana sih?" Miru menoleh sambil bersungut-sungut.
"Anak umi ini kalau sudah ngambek jadi lucu. Lihat tuh pipi kamu kaya balon kalau kamu berekspresi seperti itu." Arsyila menunjuk-nunjuk pipi putrinya dengan jari telunjuk guna meledek.
"His Umi, aku serius. Oh iya aku juga pengen cepet pulang loh. Aku bosan kelamaan di rumah sakit terus."
"Sabar ya, kalau kata dokter sudah boleh pulang pasti kita langsung pulang kok."
Miru terus berbincang dengan uminya, tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya di balik pintu. Ia terus menatap dengan senyuman melihat kondisi Miru yang semakin membaik. Ia juga bahkan sangat senang karena Miru sudah bisa tersenyum seperti itu.
"Umi!"
"Kenapa, sayang?"
"Kok tadi aku seperti lihat dosen aku ya, mi?" tanya Miru ketika melihat siluet bayangan Farzan yang pergi dari depan ruangannya.
Hari ini adalah hari terakhir ia ke rumah sakit karena besok ia sudah harus berangkat ke Jakarta sebelum lanjut penerbangan ke Belanda dua hari lagi.
"Dosen kamu yang mana?" tanya Arsyila.
"Pak Farzan, itu loh anak kliennya Abi yang pas itu gagal menikah. Umi masih ingat dengan beliau 'kan?"
"Ooohh, kamu salah lihat kali. Lagi pula ngapain dia ke rumah sakit?"
"Umi tunggu di sini ya, aku mau memastikan dulu." Miru turun dari brankar dan membawa infus bersama penyangganya.
"Miru, mau kemana?" teriak Arsyila setelah melihat putrinya berjalan dengan cepat keluar ruangan.
Miru terus berjalan dan tidak mendengarkan Arsyila. Tidak tau mengapa rasanya ia sangat yakin bahwa ia melihat Farzan. Sebenarnya trauma Miru sedikit pulih tanpa ada yang menyadari hak tersebut. Ia terus berjalan menyisiri lorong rumah sakit untuk memastikan bahwa yang ia lihat itu beneran Farzan.
Brugh!
"Asshhh,"
Miru terjatuh setelah menabrak orang karena berjalan terlalu cepat. Ketika orang yang ia tabrak ingin membantunya bangkit, tiba-tiba Farzan segera meminta orang tersebut pergi. Ia mencoba membantu Miru dengan memegang kuat penyangga infusnya agar Miru bisa berdiri dan tidak terlepas infusnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Long Time & Distance
SpiritualSequel "Turkish Airline-67" Baca dulu ya, kalo suka masukkan ke list bacaan kalian dan jangan lupa vote + komen 😁 Kamu itu bagaikan angan semu yang sulit untukku gapai Kamu itu bagai bulan yang jauh untuk ku raih Aku hanya bisa diam dan tidak ta...
