Farzan memeluk istrinya sampai tangis sang istri mereda. Ia mengusap wajah cantik istrinya dan bertanya mengapa ia menangis.
"Adek, kenapa adek menangis? Apa orang tadi menyakiti adek?" tanya Farzan.
"Adek khawatir ada apa-apa sama abang karena sulit dihubungi, tapi adek sudah lega abang nggak kenapa-napa. Orang tadi hanya mencengkram tangan adek aja kok."
"Sini, abang lihat tangannya. Tadi kayanya dia mencengkram tangan adek kuat." Farzan menarik lembut tangan Miru dan membuka lengan baju istrinya.
Akibat cengkaraman Faiz tadi, ternyata meninggalkan jejak kemerahan di kulit Miru yang terbalut lengan baju. Farzan benar-benar merasa geram. Bisa-bisanya ada orang yang berani menyentuh dan menyakiti istrinya.
"Maafin abang ya, tadi abang nggak pukul orang itu. Abang nggak mau menodai nama baik kamu di sekolah ini karena suaminya memukul salah satu rekan kerja istrinya." Farzan mengusap lembuh tangan Miru.
"Nggak apa-apa bang, nanti juga bekas kemerahannya hilang. Soal yang tadi kita lupakan saja, sekarang karena abang sudah di sini maka ayok kita urus semua urusan pernikahan kita. Bagaimana?"
"Ayo, oh iya malam ini kita ke rumah ibu sama bapak ya?"
"Siap, Abang!" Miru memeluk Farzan dengan sangat senang.
Hari itu semuanya berjalan baik-baik saja dan soal urusan guru pengganti pun terselesaikan. Farzan bercerita bagaimana ia mengurus semua berkas begitu cepat untuk segera pulang ke Indonesia. Waktu untuk mengurus semua berkas harusnya memakan waktu dua bulan, tapi Farzan benar-benar seperti orang kehilangan akal mengurus semuanya kurang dari sebulan.
🍁🍁🍁
Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua orang akhirnya tiba. Resepsi pernikahan Farzan dan Miru digelar begitu mewah di sebuah hotel yaitu the Alana jogja hotel. Rekan kerja Farzan sesama mengajar ketika di kampus benar-benar tidak menyangka jika dirinya menikahi perempuan yang dulunya adalah mahasiswanya sendiri. Citra yang dulu adalah dosen pembimbing Miru benar-benar terkejut karena tidak menyangka kalau Farzan yang cukup kaku menikah dengan mahasiswa lembut nan aktif seperti Miru. Teman-teman seangkatan Miru semuanya diundang dan mereka juga sama terkejutnya. Hal yang lebih mengejutkan lagi ialah mereka sudah melakukan akad di Belanda.
"Wah masyaAllah sahabat cantikku, Bisa-bisanya yang dulu sebel banget eh malah berjodoh," ujar Anin ke Miru.
Miru hanya tersenyum mendengar tanggapan dari Anin maupun teman-teman lainnya. Miru hanya mengundang beberapa teman dan sahabat yang ia anggap cukup dekat dengan dirinya. Sebenarnya Farzan maupun Miru hanya ingin walimah mereka digelar dengan sesederhana mungkin, tapi ternyata tidak dengan keluarga besar mereka. Kedua belah pihak keluarga sepakat ingin memberikan yang terbaik untuk Miru dan Farzan.
Miru dan Farzan yang duduk di pelaminan tersenyum dengan malu-malu melihat ke arah tamu yang semakin lama semakin banyak.
"Bang, adek agak cape loh. Kapan pestanya selesai?" gerutu Miru sedikit memanyunkan bibirnya ke hadapan Farzan.
"Sebentar ya dek, sebentar lagi pasti selesai. Adek kalau capek duduk saja, biar abang yang menyalami para tamu nanti." Farzan mengusap lembut punggung tangan istrinya.
"Bang, kita kabur yuk dari sini?" ide yang tidak masuk akal mulai muncul di kepala Miru.
"Adek, siapa yang ajarin begitu? Ayoklah!"
Mereka berdua tertawa bersama dan hal itu disaksikan oleh fotografer yang sesegera mungkin mengambil potret keduanya. Miru mulai sedikit teralihkan dari rasa lelahnya dan Farzan juga tidak henti membrikan loluconnya untuk Miru.
KAMU SEDANG MEMBACA
Long Time & Distance
EspiritualSequel "Turkish Airline-67" Baca dulu ya, kalo suka masukkan ke list bacaan kalian dan jangan lupa vote + komen 😁 Kamu itu bagaikan angan semu yang sulit untukku gapai Kamu itu bagai bulan yang jauh untuk ku raih Aku hanya bisa diam dan tidak ta...
