38. Finish

34 6 2
                                        


"Farzan!" teriak seorang wanita tanpa memperhatikan sekitar.

"Kejar aku, Ma." Balas anak laki-laki yang berlari di sekitar Farzan dan Miru.

"Farzan, berhenti di situ dan jangan berlari lagi, Mama lelah mengejarmu!" ucap ibu dari anak laki-laki tersebut.

Anak lelaki itu berhenti dan melihat ke arah Farzan dan Miru. Mereka saling bertatapan.

"Tante terlihat sangat cantik, tapi seperti anak kecil karena digendong!" ledek anak tersebut kepada Miru.

Miru memanyunkan bibirnya dan meminta Farzan menurunkan dirinya. Kini ia menunduk menyetarakan tubuhnya dengan Farzan kecil.

"Hey, nama kamu Farzan juga?"

"Iya, nama aku Farzan. Kenapa tante sebut Farzan juga? Siapa lagi yang namanya Farzan?" celotehnya dengan melipatv kedua tangan mungilnya di dada.

"Om ini namanya juga Farzan, dia suami tante." Balas Miru memegang tangan suaminya.

Farzan tak bergeming, karena ia benar-benar terkejut dengan wanita yang berjalan ke arah mereka saat ini. Wanita yang beberapa tahun lalu meninggalkan dirinya sendiri di pelaminanan. Wanita yang membuat ia dan keluarganya harus menanggung malu. Inara, wanita yang hampir dijodohkan olehnya. Kini wanita itu berjalan ke arah dirinya dan Miru.

"Inara?" ucapnya.

Miru berdiri dan menoleh ke arah wanita yang namanya tersebut oleh suaminya. Wanita cantik dengan balutan hijab yang kini wajah tersenyumnya berubah sama terkejutnya dengan Farzan dan Miru.

"Farzan?" ia menghentikan langkahnya beberapa meter dari mereka.

Farzan kecil berlari ke arah ibunya dan memeluk kaki sang ibu. Farzan mengerutkan dahinya, siapa anak itu? Pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.

"Assalamu'alaikum Farzan, apa kabar?" tanyanya mencoba menetralkan mimik wajahnya.

"Wa'alaikumsalam, Alhamdulillah aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"

"Alhamdulillah, aku baik. Oh iya selamat atas pernikahanmu." Ucapnya tersenyum. "Aku pikir papan bunga yang berjajar atas namamu di depan hotel adalah sebuah kebetulan. Tapi ternyata benar bahwa itu adalah dirimu yang menikah." Lanjutnya.

"Oh iya, perkenalkan ini adalah istri saya, Mihrimah Hanindira." Balas Farzan memperkenalkan Miru.

Miru tersenyum dan menjulurkan tangannya. Miru terus melihat ke arah Inara yang terlihat sangat cantik. Ternyata wanita yang hampir menikah dengan Farzan sangat cantik, tapi siapa anak laki-laki ini? Apa dia putra Inara? Tapi kenapa ia memberi nama Farzan pada putranya? Itu bukan anak dari Farzan suaminya 'kan? Begitulah isi pikiran Miru saat ini.

"Oh iya, ini adalah Farzan. Putra kecilku. Maaf karena aku lancang menyematkan namamu untuknya. Melalui nama itu aku berharap bahwa ia akan tumbuh menjadi baik seperti dirimu." Jelas Inara seolah tau isi pikiran Miru.

"Bisa kita bicara di restaurant sebentar?" ajak Inara kepada Miru dan Farzan ke Restaurant hotel.

Farzan menoleh ke arah istrinya dan Miru menganggukkan kepala tanda setuju.

Kini mereka duduk dengan Farzan kecil yang sudah fokus menikmati eskrim. Inara menunduk malu di hadapan Farzan dan Miru saat ini.

"Aku minta maaf, mas Farzan. Aku tau aku telah berbuat salah kepadamu dan keluargamu. Aku telah mempermalukanmu di hari seharusnya kita menikah. Tapi dia adalah alasanku membatalkan pernikahan kita." Ekor mata Inara mengarah ke Farzan kecil di sampingnya.

"Apa maksudmu?" Tanya Farzan.

"Aku berbuat kesalahan sebelum bertemu denganmu. Tapi pada saat itu aku tidak tau kalau aku sedang mengandung buah hasil dari kesalahanku dengan mantan kekasihku. Ketika aku mengetahuinya, saat itu juga yang pertama harus aku lakukan adalah meninggalkanmu. Aku tidak mau kamu menanggung kesalahan yang tidak pernah kamu perbuat." Jelas Inara.

"Lalu, dimana ayah anak itu?" Tanya Farzan penasaran.

Inara hanya menaikkan kedua bahunya pertanda bahwa ia sendiri tidak tau dimana ayah dari Farzan kecil yang telah meninggalkannya.

"Aku benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi di masa lalu." Lanjutnya.

"Inara, aku sungguh sudah memaafkanmu dan keluargamu. Aku baik-baik saja, dan jika hal itu tidak terjadi mungkin aku tidak akan bisa menikah dengannya." Farzan menggenggam lembut tangan Miru.

"Terima kasih, sekali lagi aku mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Aku turut bahagia atas pernikahan kalian."

"Terima kasih mba Inara, semoga Allah selalu menjagamu."

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam," ucap keduanya secara bersamaan.

Kini Farzan dan Miru berjalan menuju lift hendak naik ke kamar mereka. Miru dan Farzan saling bergandengan dan tersenyum bahagia,

"Akhirnya semua selesai dan takdir Tuhan membawa kita dengan perjalanan yang cukup panjang." ucap Miru menyandarkan kepalanya di bahu Farzan.

"Iya, tapi takdir Tuhan membawa kita pada hal yang paling baik saat ini dan di masa mendatang," balas Farzan mengusap kepala istrinya.

Pada akhirnya semuanya selesai dan takdir yang tertulis kembali pada tempat yang seharusnya.

_ Selesai _

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 19, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Long Time & DistanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang