33. Hidup Baru

143 16 2
                                        

Assalamualaikum semuanya ...
Btw maaf ya telat UP ada masalah jaringannn 🙏

Oh iya happy reading dan hati2 typo bertebaran!
Jangan Lupa kasih vote ya biar aku makin semangat UP nya ☺️

🍁🍁🍁

Seorang pria dengan balutan jas kini tengah duduk dengan penuh rasa kegugupan yang mendera perasaannya. Setelah hari itu dimana ia meminta restu orang tuanya, ia begitu sangat bahagia karena orang tuanya setuju dengan keputusannya. Mereka menganggap hal ini mustahil, tapi kehendak Allah tidak ada yang musthil. Ia dulu pernah berpikir apakah dirinya pantas untuk bersanding di samping putri dari Derris Anselino Atmadja?

Semua orang telah berkumpul, terlebih lagi setelah menyelesaikan sholat subuh berjama'ah. Kebanyakan dari mereka berasal dari Turki. Memang masjid ini di urus oleh orang-orang yang berasal dari Turky. Pria ini duduk dengan badan yang tegap dan kaki menyilang di hadapan salah seorang imam yang dipercaya di masjid tersebut. Semua orang termasuk beberapa sahabatnya yang sama berasal dari Indonesia ikut menghadiri acara ini setelah Ansel memberitahu mereka. Ia meminta sahabat-sahabatnya untuk membantunya mempersiapkan diri termasuk ada yang sebagai saksi.

"Apakah kamu sudah siap, Zan?" tanya Ansel kepada pria yang sebentar lagi akan menjadi menantunya.

Layar monitor yang telah disiapkan sahabat-sahabat Farzan juga sudah terpasang. Wajah kedua orang tua Farzan dan beberapa kerabatnya terlihat jelas di monitor. Meskipun harus virtual, orang tua Farzan bahagia karena akan melihat putra satu-satunya akan menikah.

"InsyaAllah siap, Om." Jawabnya dengan mantap.

Ansel menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia menjabat tangan seseorang yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap putrinya nanti. Ia percaya apa yang akan ia lakukan ini adalah takdir terbaik untuk putrinya, meskipun sampai saat ini baginya Miru adalah putri kecilnya dan akan selalu seperti itu.

"Bismillahirrohmanirrahim, Ankahtuka wa zawwajtuka makhtubataka Mihrimah Hanindira Putri Atmadja Binti Derris Anselino Atmadja alal mahri thalathin ghiraman min aldhahab hallan."

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq."

"Alhamdulillah...." Seketika gemuruh ucapan lafadz hamdalah terdengar riuh setelah semua saksi mengatakan sah baik yang hadir secara langsung maupun kedua orang tua Farzan yang melihatnya melalui monitor.

Salah seorang imam pun memimpin doa sebagai rasa syukur telah terlaksananya ijab kabul kedua insan yang telah Allah persatukan. Mereka yang hadir dengan khusyu' mengangkat kedua tangan secara bersama-sama berdoa untuk kebahagiaan Farzan dan Miru. Serangkaian ijab kabul telah selesai dan kini seorang gadis dengan balutan dress putih panjang didampingi oleh dua wanita kesayangan dalam hidupnya  keluar berjalan menuju tempat dimana ijab kabul dilaksanakan sebelumnya. Di masjid ini memang ada beberapa ruangan dan salah satu ruangan tempat dimana Miru menunggu sebelum ijab kabul selesai dilaksanakan.

Farzan terus menunduk menunggu Miru yang didampingin oleh Arsyila dan Anggi mendekat ke arahnya. Walaupun ijab kabul telah selesai dilaksanakan, namun kegugupannya semakin menjadi lebih besar dari sebelumnya karena kini gadisnya telah sah menjadi istrinya. Satu tepukan dipundaknya mengisyaratkan kalau ia harus menatap pasangan halalnya yang sudah berdiri di hadapannya. Tepukan itu berasal dari Ansel yang sedari tadi memperhatikan Farzan.

Miru telah berdiri di hadapannya, beningan cair mulai keluar dari pelupuk matanya. Ia terus berusaha menghapusnya dan perlahan mengangkat kepala. Ia masih benar-benar tidak percaya bahwa gadisnya kini telah jadi istrinya.

Long Time & DistanceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang