Pagi-pagi kantor sudah di buat heboh oleh salah satu rekan kerja Tiur yang akan merayakan ulang tahunnya. Tiur sendiri tak merasa iri ketika yang lainnya mendapatkan kartu undangan untuk menghadiri acara tersebut yang akan di selenggarakan nanti malam, begitu yang Tiur dengar dari pembahasan mereka.
Seperti biasa Tiur menikmati sarapannya dengan satu cup kopi dan sepotong egg tart di Cafe langganannya sambil ia menulikan pendengaran dari riuhnya teriakan teman-temannya.
Tiur baru merasa terganggu ketika seseorang yang nanti malam akan merayakan ulang tahun tersebut berdiri di depan kubikel kerjanya.
"Heh, Kutu!" Panggilnya.
Mulut Tiur berhenti makan. Ia mengangkat kepala untuk melihat Rena. "Ada apa, Ren?"
Yang bernama Rena sibuk memainkan kertas kecil yang pagi ini wanita itu bagikan pada teman-temannya. "Nanti malam gue mau adain party ulang tahun. Kalau gue undang elo, lo mau datang?" Tanyanya kali ini masih bisa dibilang sopan.
Tiur terdiam sejenak. Pikirannya mencerna kembali apa yang tadi Rena katakan. Wanita itu mengundangnya ke acara ulang tahunnya? Tiur masih tak percaya. "Kamu—mengundangku?" Tanyanya untuk memastikan.
"Yaa itu sih kalau lo mau."
Entah kenapa ada gejolak kebahagiaan di hati Tiur ketika ada seorang teman yang memgundangnya pada acara ulang tahun. Tanpa pikir panjang adik Ratama ini mengangguk antusias. "Aku mau!"
Rena menyerahkan kartu undangan pada Tiur. "Oke, gue kasih undangan untuk lo. Awas kalau nggak datang!" Ancamnya.
Hanya dibalas anggukan oleh Tiur lantaran wanita ini sibuk membaca ketentuan di kartu undangan. "Acaranya di—club malam, Ren?"
"Yes! Betul sekali. Kenapa? Lo keberatan untuk datang? Kalau nggak mau, bawa sini kartunya biar gue kasih ke yang lain aja."
"Bi—bisa kok, Ren. Bisa. Aku cuma kaget aja." Tiur tak mau membuat temannya kecewa. Meski ia sendiri masih merasa trauma pada club malam, tapi Tiur pastikan nanti malam ia akan datang. Memberi ucapan selamat pada Rena karena telah bertambah usia, kemudian ia akan duduk saja. Ah ya, Tiur janji akan minum air mineral saja dan tidak akan mau kalau ada salah satu dari temannya yang menyuruhnya untuk meminum alkohol di sana. Tiur tidak mau kejadian buruk beberapa bulan lalu terjadi lagi.
Kejadian yang membuatnya justru mengenal Javas karena ia tak sengaja menjatuhkan employee card milik perusahaan.
"Gue tunggu kedatangan lo nanti malam!"
Tiur mengangguk pasti. Setelah Rena sudah tak lagi berdiri di depan kubikelnya, ia kembali membaca isi kartu undangan itu. Disana tertulis dresscode yang harus di kenakan. Harus menggunakan pakaian seksi. Seumur-umur Tiur belum pernah menggunakan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Aah, mungkin tak masalah bila ia tidak menggunakan pakaian yang di haruskan. Yang terpenting, dirinya ada di sana.
"Hei, Kutu!" Kali ini ada lagi yang memanggilnya.
Tiur mendongak untuk melihat si asal suara. Carla berdiri di depan kubikelnya dengan raut wajah menatapnya sinis. Hari ini sepertinya Tiur banyak menerima tamu di kubikelnya. "Ada apa, Car?"
"Hari ini Pak Dandi nggak berangkat. Jadi, lo yang gantiin dia untuk ikut meeting." Terang Carla masih mempertahankan wajah sinisnya. Kapan sih Carla tidak sinis pada Tiur? Sepertinya mustahil.
Kening Tiur berkerut tak mengerti maksud Carla. "Bukankah biasanya kamu yang gantiin Pak Dandi untuk meeting, Car? Kenapa sekarang jadi aku?"
"Gue lagi ada kerjaan lain. Ini perintah langsung dari Pak Dandi. Jadi jangan coba-coba menolak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
