Malam harinya, meski pikiran Tiur sedang campur aduk memikirkan Javas. Ia tetap mau untuk pergi ke pesta Rena. Jujur saja, Tiur masih kepikiran pada kemarahan Javas di tempat meeting tadi pagi. Meskipun begitu, ia tak bisa bertindak apapun. Meminta maaf? Untuk apa? Bukankah hal itu yang Tiur inginkan dari Javas?
"Mbak?" Panggilnya pada Kirana yang malam ini sedang asyik menonton tayangan televisi seorang diri. Yah, kakaknya belum pulang.
"Kenapa, Tiur?" Sahut Kirana.
"Malam ini aku mau ke acara ulang tahun temanku. Menurut Mbak, baju yang cocok untuk datang ke pesta ulang tahun, seperti apa?"
"Ada dresscode nya nggak?" Tanya Kirana.
Tiur tidak mungkin menyebutkan dresscode nya kan? Dan, ia juga tidak ingin menggunakan pakaian yang terlalu terbuka. "Di kartunya nggak ada, Mbak."
"Eumm... Acaranya dimana?"
Di club! Tiur tidak boleh menyebutkan tempat yang sebenarnya. "Di—restoran." Dia menyebutkan tempat yang menurutnya netral untuk mengadakan sebuah pesta.
Kirana mengangguk-anggukkan paham. "Kamu mandi dulu gih. Terus nanti ke kamar aku. Aku ada dress selutut lengan pendek, kayaknya cocok deh dipakai kamu. Oh ya, mau sekalian di make up nggak?"
"Boleh, Mbak?"
"Boleh dong! Sekalian make up ya? Udah lama nggak main dandan-dandanan nih. Gih mandi!"
Tiur mengangguk semangat. Ia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kadang Tiur masih bingung dengan Kakaknya. Bagaimana bisa kakaknya itu menemukan wanita seperti Kirana. Selain cantik, Kirana juga seseorang yang hatinya lembut dan tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain. Kirana, wanita itu juga bersedia untuk hidup sederhana bersamanya dan Tama di rumah biasa ini.
"Ini bajunya. Gimana menurut kamu?" Tiur baru saja sampai di kamar Kirana setelah selesai membersihkan diri. Dan Kirana langsung menunjukkan pakaian yang akan dikenakan Tiur malam ini.
Tiur terdiam. Dia terpukau melihat dress di tangan kakak iparnya. Tangannya meraba dressn itu dan lagi-lagi Tiur dibuat terkejut merasakan kelembutan bahan dress tersebut. "Ini—boleh aku pakai, Mbak?" Tanyanya untuk memastikan.
Istri Ratama itu mengangguk mantap. "Tapi kayaknya ini buat kamu aja deh. Aku kan sebentar lagi pasti berat badannya naik membludak!"
Tiur mengerjapkan mata beberapa kali. Ia masih tak percaya. Kirana memberinya gaun cantik yang pastinya mahal itu untuk dirinya. Mengapa istri kakaknya ini baik sekali? Bahkan terlalu baik.
Tapi, tiba-tiba sikap tidak percaya diri Tiur mulai datang. Ia menunduk memperhatikan kakinya kemudian meraba tubuhnya dan lanjut ke wajah. Tiur menggelengkan kepala merasa tak pantas. "Tapi... nggak ah, Mbak. Aku—kayaknya nggak pantas pakai dress itu. Aku—"
"Kamu bahkan belum memakainya, Tiur! Ayo coba dulu sambil aku mau menyiapkan alat makeup nya."
"Tapi Mbak—"
"Tidak ada tapi-tapian. Percaya diri saja, Tiur. Dan percaya padaku. Malam ini aku akan membuat kamu menjadi Tiur yang tidak pernah orang-orang lihat sebelumnya."
Meski masih ragu, Tiur menerima dress itu dan masuk ke kamar mandi di kamar Kakaknya. Kini dress hitam dengan potongan lengan sebahu dan panjang selutut sudah terlilit indah di tubuh Tiur. Wanita ini keluar dari kamar mandi dengan kepala yang menunduk dalam.
"Wow! Tuh kan... pas banget di pakai kamu. Tiur.. kamu—sangat memukau! Ayo, kita make up dulu biar lebih sempurna."
"Tapi Mbak—"
"Kenapa lagi? Kamu masih belum percaya diri?"
Tiur mengangguk.
"Anggap saja ketika nanti di pesta, semuanya bukan manusia melainkan batu. Anggap saja begitu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
General FictionJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
