tiga puluh dua

1.5K 86 2
                                        

Berita mengenai Javas yang telah memperkosa salah satu karyawannya sendiri sampai hamil sangat cepat menyebar pesat. Jeremy bahkan sudah tahu hal itu dan dia benar-benar marah besar.

Maka begitu berita kotor itu masuk ke telinganya, Jeremy langsung menyuruh bodyguard nya untuk membawa paksa Javas menghadap padanya. Tak lupa pula Jeremy meminta salah satu tangan kanannya yang dia percayai agar melakukan rapat dadakan untuk para petinggi guna memperingatkan agar berita ini tidak sampai menyebar lebih luas sampai ke luar perusahaan.

Pintu ruang kerja Jeremy dibuka dari luar, nampak seseorang yang sangat Jeremy tunggu kedatangannya. Javas tampak tak berdaya ketika bodyguard menyeretnya untuk masuk ke ruang kerja Jeremy. Wajah penuh lebam yang dihasilkan oleh tangan Tama beberapa jam lalu masih terlihat jelas, bahkan di kemeja yang Javas pakai terdapat noda darah yang tadi sempat keluar saat Tama menonjok sisi hidungnya.

Dan dengan ringannya, Jeremy kini menambahkan satu tinjuan kencang di pipi kanan Javas yang sudah tak berbentuk lagi. "Anak tidak tau diri!" Makinya murka.

Satu tinjuan lagi Jeremy layangkan di pipi kiri kemudian mencengkram kuat kerah kemeja Javas. "Puas kamu, sudah membuat Dad tidak punya muka?! Puas, huh?!"

Javas sendiri sudah tidak mampu lagi untuk membuat reaksi. Dia sibuk dengan rasa sakitnya. Ingin memberi senyum mencemooh pada sang Ayah pun rasanya sulit karena kedua sudut bibirnya sudah robek. Jadi yang Javas lakukan hanya menunduk.

"Astaga, Jemy! Apa yang kamu lakukan!?" Amanda datang berjalan cepat memasuki ruanga suaminya dan berdiri di samping bodyguard yang sedang memegangi kedua tangan Javas masing-masing.

Amanda kesulitan bernapas ketika melihat penampakan wajah Javas yang penuh darah dan luka. "Jemy, kamu—"

"Maaf Nyonya, bukan Tuan yang membuat Pak Javas seperti ini. Tapi Kakak dari wanita yang sudah di perkosa oleh Pak Javas." Salah satu bodyguard menyela protesan yang akan Amanda layangkan.

Amanda semakin kesulitan bernapas. Wanita ini sungguh tidak tau apa-apa. Tadi dia sedang asyik belanja di butik langganannya kemudian asistennya memberitahu bahwa Javas membuat kesalahan fatal di kantor. Javas memperkosa salah satu Staf JCI. Awalnya Amanda tidak percaya, tapi begitu melihat semua ini, Amanda benar-benar syok. Apalagi saat melihat kemarahan yang sangat besar di wajah sang suami. Tapi Amanda lebih mengutamakan keselamatan anak sulungnya. Dia meminta dua bodyguard itu untuk membawa Javas ke kamar tanpa persetujuan Jeremy.

"Jangan memberinya belas kasih!" Jeremy menginterupsi ketika dua bodyguard itu hendak melewati pintu keluar.

Amanda yang bertindak. "Jadi kamu lebih memilih membiarkan anakmu sekarat?"

"Dia sudah membuat malu keluarga! Kamu tau apa yang sudah anakmu lakukan, huh?"

"Ya, aku tau. Anakku sudah memperkosa salah satu staf di perusahaan milikmu! Dan aku sebagai Ibunya, tentu sangat terpukul dengan apa yang dia perbuat. Tapi sekali lagi, aku sebagai Ibunya melihat dia babak belur seperti itu tentu sakit hati, Jemy! Dia butuh diobati! Biarkan Javas mendapat pengobatan dulu, setelah itu kita bicarakan baik-baik, Jemy." Pungkas Amanda kemudian menyuruh dua bodyguard itu melanjutkan membawa Javas ke kamar.

Setelah Javas mendapat penanganan medis dan sedikit sudah membaik, Amanda tak habis-habisnya memberi perhatian pada Javas.

"Sudah merasa membaik?" Tanyanya.

Javas mengangguk lemah. Setidaknya luka yang dia dapat sudah mendapat penanganan.

"Jadi bisa kita bicarakan tentang masalahmu? Dad sangat marah, Jav. Dan, Mama juga marah dengan apa yang sudah kamu perbuat."

"Ma, aku—"

"Ayo kita bicarakan dengan Dad juga." Amanda menyela kemudian Ibu dua anak ini membantu Javas untuk menuju ruang tengah dimana Jeremy sudah menunggu mereka.

Another TasteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang