Sebuah fakta yang sebenarnya telah terungkap. Baru saja dokter kandungan yang memeriksa Tiur mengatakan kalau Tiur telah positif hamil. Dan sekarang, Tama terdiam lama di tempat dengan fakta yang mengejutkan itu.
Pria yang kini duduk di depan dokter kandungan itu masih diam membisu mencerna perkataan dokter. Sedangkan Kirana mencoba terus menyadarkan Tama takut-takut kalau suaminya ini jadi hilang ingatan atau kesurupan.
Adiknya. Adiknya yang Tama rawat sejak kecil, sejak orangtua mereka meninggal. Hingga kini telah beranjak dewasa dan mampu mencari uang sendiri. Tama menggelengkan kepalanya masih tidak habis pikir. Tangannya yang tengah mencekal kuat foto hasil usg Tiur tak sanggup lagi untuk berkata-kata.
Selama ini, Tama pikir pergaulan sang adik tidak terlalu negatif. Bahkan, adiknya itu tidak pernah membawa teman prianya. Dan Tama juga pernah memantau ponsel Tiur sebulan full. Disana tidak ada yang mencurigakan.
Ah ya, satu yang Tama curigakan saat ini. Satu-satunya teman laki-laki Tiur. Teman yang Tiur peroleh sejak SMA. Sagara. Tama mencurigai pria itu. Biar meskipun ia dan Saga berteman baik, tetap saja jika sudah menyangkut tentang sang adik, siapapun yang membuat adiknya hancur maka akan Tama hancurkan pula orang itu. Tanpa terkecuali.
Detik kemudian, Tama berdiri dan melangkah pasti ke ruang pemeriksaan dimana adiknya berada. "Jawab dengan jujur, apa kamu pernah melakukan hal di luar batas dengan lawan jenis, Tiur? Tolong jawab pertanyaan Mas dengan sejujur-jujurnya!" Teriak Tama tanpa mempedulikan suster yang masih berdiri di samping ranjang pemeriksaan.
Tama juga tidak peduli pada keadaan Tiur yang masih lemah dan lemas. Tidak peduli pula pada air mata adiknya yang sejak pemeriksaan belum surut juga.
"Jawab, Tiur! Mas nggak peduli dengan air mata kamu. Jawab atau Mas akan mendatangi pria yang Mas curigai!" Ancam Tama.
"Tama, jangan terlalu keras! Tiur masih sakit. Kamu tega bicara keras di depan adikmu yang sedang sakit?" Kirana masuk ke ruangan dan mencekal kuat tangan Tama.
"Persetan!" Sahut Tama tidak mau peduli. Saat ini dirinya sedang di rajai oleh amarah. Amarah yang baru pernah ia keluarkan di depan Tiur selama hidupnya.
Tiur sendiri semakin mengalirkan air matanya. Melihat Tama seperti itu membuatnya merasa sangat bersalah. Dan, Tiur tau maksud yang dikatakan Tama. Pria yang di curigai Kakaknya pasti Saga. Karena memang hanya Saga yang menjadi temannya.
"Jawab!" Bentak Tama lagi tak mampu mengendalikan emosinya. Bahkan mata pria itu sudah memerah.
"Bu—bukan Saga." Ucap Tiur sebisa mungkin meski sedikit terbata-bata.
Mata Tama melotot tajam ketika nama yang di curigai di sebut oleh adiknya.
"Mas nggak menyebut dia. Dan kamu yang menyebutnya sendiri. Jadi benar, kalau Saga adalah pelakunya?" Tebak Tama masih bersama amarah.
"Bukan dia!" Bantah Tiur keras.
"Lalu siapa? Jawab yang benar! Jangan membuat Mas semakin marah dengan kamu! Jawab yang jujur."
Tiur menggelengkan kepalanya. Suasana semakin ricuh karena Tama terus memaksa Tiur untuk jujur sedangkan adiknya itu masih tetap bungkam enggan mengatakan yang sebenarnya.
Akhirnya dengan sekuat hati Kirana melerai keduanya. Ia memutuskan untuk membawa pulang Tama dan Tiur. Ia membujuk Tama agar mau menyelesaikan masalahnya nanti di rumah saja. Lagi pula, Tiur butuh istirahat. Dokter bilang, kesehatan Tiur menurun karena terlalu banyak beraktivitas dan banyak pikiran. Hal itu dapat membuat perkembangan janin di perut Tiur menjadi mengkhawatirkan.
Meski tidak tau Tiur mendapat benih itu dari mana, Kirana sebagai sesama wanita seperti Tiur dan sama-sama sedang berbadan dua tentu merasa prihatin pada adik iparnya. Tama mungkin bisa emosi karena tidak tau betapa susahnya menjaga bayi di dalam perut wanita.
Sampai di rumah, Tama tidak memberi waktu Tiur untuk istirahat dan menenangkan pikiran seperti yang Kirana suruh. Pria itu tetap memaksa meminta penjelasan pada adiknya yang kini sedang duduk bersandar di ranjang kamar.
"Mas tanya sekali lagi, Tiur. Mas tanya sekali lagi dan kamu tidak mau jawab. Itu artinya kamu memang tidak menyayangi Mas. Jadi, siapa yang sudah menyentuh kamu? Sebutkan namanya. Atau, jelaskan kenapa kalian bisa berbuat seperti itu sampai menghasilkan anak di dalam perut kamu!"
"Ak—aku—aku di per—perkosa." Tutur Tiur terbata. Demi Tuhan ia tidak bisa menjelaskan tragedi itu. Ia masih trauma.
Dan saat itu juga setelah Tiur mengucapkan hal yang sebenarnya, dunia Tama seperti runtuh seketika. Adiknya. Adiknya yang sangat ia sayangi. Adiknya yang ternyata Tama belum becus menjaganya.
Tama dan Kirana menenangkan tangis Tiur. Tidak. Tama sudah tidak lagi meminta Tiur untuk menjelaskan hal yang lebih detail lagi. Karena Tama tau, adiknya tengah mengalami trauma.
Sampai pada akhirnya setelah tangis Tiur reda dan pikiran Tiur mulai tenang, dia menceritakan tragedi miris itu kepada Tama dan Kirana tanpa menyebut siapa pria yang sudah memperkosanya. Tiur merasa sudah siap untuk cerita dan perlu untuk Tama dan Kirana tau.
"Tiur, Mas boleh tanya sekali lagi?" Pinta Tama pelan dan hati-hati. Sudah tidak ada raut marah yang Tama pelihatkan untuk sang adik.
Tiur mengangguk.
"Siapa pria yang memperkosa kamu? Tolong, jawab pertanyaan itu dengan jujur, ya. Ini demi kebaikan kamu. Mas janji nggak akan melakukan hal yang kamu khawatirkan. Mas janji."
Tiur terdiam sesaat sembari menimbang-nimbang apakah ia akan mengatakan kalau Javas dibalik tragedi semua ini atau tidak.
"Tiur?" Kali ini Kirana yang memanggilnya.
Tiur menoleh melihat Kakak iparnya yang begitu teduh menatapnya. "Katakan yang sebenarnya agar kamu mendapatkan hak yang seharusnya kamu dapat sebagai korban." Kata wanita itu.
"Pria itu..." Tiur menggantungkan kalimatnya.
"Saga?" Tebak Tama tidak sabaran.
Tiur menggelengkan kepala. Kenapa selalu Saga yang dibawa-bawa? Bahkan temannya itu tidak tau menahu soal ini.
"Jadi siapa?"
"Dia—anak pemilik perusahaan tempatku bekerja."
Kening Tama mengernyit tak mengerti. Sedangkan Kirana sudah nahan napas karena terlalu terkejut.
"Kamu tau siapa anak pemilik perusahaan tempat Tiur bekerja?" Tanya Tama kepada sang istri yang masih syok.
Kirana mengangguk lemah. Ia menatap suaminya penuh khawatir.
"Siapa?"
"Dia, Javas—"
"Bajingan itu! Aku akan membunuhnya!" Pekik Tama setelah sedetik nama Javas di sebut sebagai anak pemilik perusahaan yang kata Tiur sebagai si pelaku.
"Tama, tenangkan dirimu." Kirana mencoba menenangkan emosi suaminya agar tidak kembali menggebu-gebu seperti tadi.
"Apa? Kamu mau membelanya? Kamu mau membela pria itu, Kirana?" Teriak Tama pada Kirana untuk pertama kalinya.
"Mas Tama mengenal—"
"Ya! Mas mengenalnya! Javas. Dia yang dulu pernah Mas ceritakan ke kamu. Dia yang sudah membuat Mas pulang dengan wajah babak belur." Tama menyela begitu saja ucapan Tiur.
Fakta mengejutkan apalagi ini? Jadi, Javas adalah pria yang dulu pernah membuat keributan di klinik hewan tempat Kakaknya bekerja?
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
General FictionJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
