Suara isak tangis itu mengusik pendengarannya. Terpaksa Javas membuka mata dan melihat seseorang yang tadi tidur bersamanya, kini tengah tergulung oleh sebuah selimut di sekujur tubuhnya.
Javas tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Sebuah drama. Tiur pasti marah besar padanya. Jadi, untuk sedikit meredakan tangis pilu itu, Javas terpaksa bangun. Duduk bersandar di kepala ranjang, pandangannya fokus pada si tubuh terbalut selimut di sampingnya. Tangan Javas hendak menyentuh selimut itu namun urung karena suara tangis Tiur yang semakin kencang dan membuatnya malah panik.
Kali ini Javas justru menggulingkan buntelan selimut tersebut untuk menghadapnya dan ya, Tiur meronta kuat sampai membuat tangan Javas terhempas. Wanita itu kembali menutupi wajahnya yang tadi sempat Javas lihat. Namun untungnya, Tiur tidak kembali membalik badan.
"Hei, saya minta maaf. Kita bicarakan baik-baik sekarang, ya?" Ucap Javas selembut mungkin sambil menunduk agar bisa didengar Tiur. "Saya tau kamu pasti marah. Saya benar-benar minta maaf, Tiur." Lanjutnya, kali ini sembari mencoba melepas selimut yang menutupi wajah Tiur.
"Saya mau pulang!" Suara samar Tiur terdengar.
"Pulang? Pulang kemana?"
"Ke rumah Mas Tama!"
Waduh, gawat!
Javas diam sejenak untuk memikirkan jawaban. Pulang ke rumah Tama? Yang benar saja!
"Pulang ke rumah Ratama? Dia sudah membuangmu, kalo kamu lupa." Javas akhirnya ingat juga kalau dirinya pernah mengelabuhi pikiran Tiur tentang itu.
"Kalo begitu antar saya ke tempat kerja sahabat saya."
Jangan bilang sahabat yang Tiur maksud adalah si tukang kopi!
"Siapa?" Tanya Javas, wajah khawatirnya tercetak jelas disana.
"Sagara."
Kan. Javas membuang muka kemudian memaki kasar. Tebakan asalnya benar. Memang, siapa lagi sahabat wanita ini selain si tukang kopi itu?
Hah! Nafsu sialan! Andai dia tidak menuruti hawa nafsunya, hal seperti ini pasti tidak akan terjadi. Sekarang dia bingung sendiri bagaimana caranya untuk menenangkan Tiur.
"Antar sa—" ucapan Tiur terhenti oleh Javas.
"Tidak bisa. Kamu mau membawa pergi calon anak saya? Tidak. Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
Fitnah macam apa itu? Ah, Javas juga tidak habis pikir dengan idenya yang ada saja.
"Lebih baik sekarang kamu tenangkan diri dulu. Kemudian kita bicara baik-baik. Maaf saya belum diterima kan? Saya akan meminta maaf lagi." Oh, manisnya mulut Javas.
"Buka wajahmu, Tiur. Saya khawatir kamu sesak napas kalo di tutupi seperti itu terus. Kasihan anak saya yang ada di perutmu."
Baru ingat dirinya sedang hamil, Tiur segera membuka selimutnya kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Tiur melirik sekilas pada Javas di sampingnya kemudian kembali menghadap depan. Tangannya ia eratkan pegangan pada selimut yang menutupi sampai leher lantaran tubuhnya tidak memakai sehelai busana.
"Kenapa Bapak melakukan ini ke saya?" Tiur memberanikan diri melayangkan pertanyaan.
Javas yang terlihat frustasi itu meraup wajahnya kasar. "I'm so sorry. Saya benar-benar kelepasan."
Tangis itu kembali terdengar memilukan. "Kenapa? Kenapa harus saya lagi?"
Iya, kenapa? Javas juga tidak tau. Beberapa bulan setelah ia berhasil membalaskan dendamnya pada Ratama lewat Tiur, Javas sudah tidak pernah minat untuk HS atau sekedar ONS. Dan tadi siang, hanya melihat Tiur makan nasi goreng buatannya, justru membuat sesuatu di bawah sana menginginkan sentuhan Tiur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
