tiga pulu tiga

1.5K 92 1
                                        

"Bajingan keluarga Pramana!" Maki Tama ketika mendengar sebuah negosiasi yang dijelaskan oleh seseorang suruhan Jeremy Pramana.

Di siang hari yang panas ini, Tama menerima tamu tak di undang yang katanya dari suruhan Jeremy Pramana. Namanya Sandy, pria itu mengatakan kalau keluarga Pramana akan memberikan uang kompensasi kepada korban senilai dua miliar dan tidak ada pertanggungjawaban apapun yang harus dilakukan oleh pelaku.

"Katakan pada Jeremy Pramana, saya tidak butuh uang itu. Dan akan tetap melaporkan tindakan ini ke pihak berwajib."

"Baik. Maka anda harus bersiap dengan konsekuensinya. Pak Jeremy tidak main-main dengan ucapannya. Saya kasih bocoran sedikit, kalau anda tetap membawa masalah ini ke jalur hukum, maka tempat kerja anda akan terkena imbasnya. Atau bahkan, keluarga istri anda pun akan terkena juga."

"Jangan sangkutpautkan masalah ini dengan sesuatu yang tidak ada urusannya."

"Saya hanya menjalankan tugas."

"Kalau begitu biarkan tuanmu sendiri yang mengatakan itu di depan saya. Saya tunggu saat ini juga." Tantang Tama.

Dan benar saja, begitu Sandy menghubungi Jeremy, pria tua itu benar-benar menghadap di depannya. Tama semakin dibuat merasa paling kecil. Dia hanya seorang Doktee Hewan di sebuah klinik kecil dan sekarang harus berhadapan dengan seorang pengusaha yang bahkan bisa di bilang ketua dari dunia perbisnisan.

"Jadi bagaimana Pak Ratama, anda akan menerima uang sejumlah dua miliar dan masalah ini selesai saat ini juga, atau lebih memilih membawanya ke jalur hukum yang artinya kamu sudah siap jika orang-orang di sekelilingmu jatuh miskin." Ujar Jeremy.

Tama menatap sengit pada pria blasteran di depannya ini. Napasnya naik turun karena dia menahan diri untuk tidak mengeluarkan emosinya.

"Jangan membuat semuanya menjadi rumit. Bukankah saya sudah sangat baik untuk memberi kompensasi dua miliar untuk karyawan yang sudah di hamili oleh anakku sendiri? Bahkan kalian bisa membuat usaha besar-besaran dengan uang itu."

"Yang saya bicarakan disini bukan tentang uang, Tuan Jeremy. Ini tentang anak anda yang sudah membuat hidup adik saya hancur."

"Ya ya. Javas, dia memang sangat bersalah. Aku juga membencinya setelah dia membuat kegaduhan ini dan membuatku harus repot-repot datang kemari untuk memohon padamu, anak muda. Jadi, lebih baik kita akhiri saja sekarang. Anggap semua ini tidak pernah terjadi dan hiduplah seperti sedia kala."

"Tidak semudah yang anda katakan. Adik saya mengalami stres berat. Dia belum bisa menerima kenyataan ini. Sedangkan anak anda, dia pasti sedang tersenyum bangga karena masalahnya akan diselesaikan oleh ayah tercintanya."

Jeremy tersenyum kecil. "Jadi? Apa yang akan kamu pilih?" Desaknya.

"Saya akan tetap membawa kasus ini ke jalur hukum."

"Baik. Sepertinya sudah cukup. Jangan terkejut ketika mendengar berita buruk yang akan sering terjadi, ya. Hubungi nomor Sandy kalau kamu tiba-tiba berubah pikiran. Saya pamit."

**

Ternyata ucapan Jeremy tidak main-main. Dua hari setelah Tama melaporkan kasus adiknya ke kepolisian, Tama mendapat kabar bahwa klinik tempatnya bekerja mengalami kebakaran. Kebakaran ringan yang kejadiannya cukup janggal. Dan Tama yakin itu pasti ulah Jeremy.

Kemudian, malam selanjutnya Tama kembali mendapat kabar tidak menyenangkan dari mertuanya. Rumah Sakit milik keluarga Kirana sedang mengalami kasus. Ada dua dokter yang telah mengalami kesalahan kerja. Satu dokter salah mendiagnosa pasien dan berujung kematian, kemudian yang kedua, dokter tersebut salah memberikan resep pada pasien dan berujung keadaan pasien semakin memburuk. Semua itu membuat citra Rumah Sakit keluarga Kirana menjadi buruk dan nilai saham mereka semakin anjlok.

Another TasteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang