Ratama tak bisa menahan rasa bahagianya melihat Kirana dan Tiur tampak bahagia bercengkerama di kamar bersama Kinanti di gendongan Tiur. Membiarkan dua wanita kesayangannya itu, Tama melipir ke dapur untuk makan.
"Pokoknya nanti kamu kalau melahirkan nggak usah panik. Ikuti saja perintah Dokter. Pake metode tiup-tiup, eh tiba-tiba bayinya udah keluar!" Ujar Kirana penuh semangat membagi pengalamannya ketika melahirkan secara normal.
"Tapi Mbak, itu tetap sakit kan?"
Kirana menggeleng. "Nggak kerasa malah. Yang sakit tuh pas kontraksi. Aku sampai sekarang masih trauma sama rasanya. Nggak mau punya anak lagi ah!"
Tiur menunduk melihat bayi usia dua minggu di pangkuannya. "Jadi takut deh."
"Nggak apa-apa. Kamu pasti bisa. Rajin-rajin olahraga saja. Kalau bisa pijat perineum-oh nggak deng." Hampir lupa kalau adik iparnya belum memiliki suami.
"Mbak, nanti temani aku melahirkan, ya?"
"Pasti! Kamu akan aku temani sampai selesai. Kinan nanti biar sama Neneknya dulu selama aku ngurus kamu."
"Makasih ya, Mbak. Mas Tama beruntung punya Mbak Kirana. Aku nggak tau lagi kalau nggak ada Mbak."
Kirana mengibaskan tangannya. "Nggak usah dipikirin ah. Eh, tapi aku penasaran deh soal kamu yang bilang kalau Tama membuang kamu. Emang bener, Javas bilang begitu?"
Sebelum menjawab, Tiur meletakkan Kinan di box bayi kemudian kembali duduk di pinggiran ranjang. "Pak Javas bilang begitu. Itu makanya waktu Mbak tanya aku mau pulang atau nggak, aku jawab cukup tau diri. Karena aku kira Mas Tama membenciku."
"Dasar Javas gila! Selama kamu disana, dia nggak melakukan kekerasan kan?"
Tiur menggeleng. "Pak Javas jahat, tapi baik."
"Kadang aku masih heran sama kelakuan dia. Bisa-bisanya dia nyulik kamu sampai berbulan-bulan! Untung Tama sabar dan mau menurut apa kata Om Jeremy. Hasilnya sekarang mereka membantu kamu untuk pulang."
"Bu Amanda, beliau baik banget, Mbak."
Kirana mengangguk setuju. "Tante Manda emang baik banget. Dulu waktu Javas masih dekat denganku, beliau selalu ngirim makanan apapun yang dibuat. Tante Manda tuh mertua idaman banget, tapi sayang anaknya agak lain."
"Mereka berapa saudara si Mbak?"
Mata Kirana memicing was-was. Kenapa Tiur tiba-tiba kepo soal keluarga Javas?
"Dua. Satunya cewek masih kuliah. Kenapa? Kok kamu tiba-tiba kepo?"
"Nggak. Waktu di rumah Pak Javas aku lihat foto keluarga, tapi nggak ada anak ceweknya."
Kirana ber-oh saja.
Kiranya sudah tidak ada bahan gibah lain dan tidak ingin mengganggu Kirana lebih lama lagi, Tiur pamit untuk kembali ke kamarnya. Dia juga harus istirahat, agar calon anaknya tetap sehat.
Memasuki kamar, rasa hampa langsung memerangkapnya. Tiur duduk bersandar di kepala ranjang sembari mengelus perut buncitnya. Kepalanya melirik jam dinding dekat pintu kamar. Menunjukkan pukul sembilan malam.
Dia belum mengantuk. Ada sesuatu mengganjal di pikirannya. Ini sabtu malam, jika dia di rumah Javas, biasanya pria itu akan berkunjung sambil membawa buah tangan. Kemudian mereka menyantapnya bersama-sama.
Tiur tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengingat momen tersebut. Momen bersama pria yang sudah membuat hidupnya berantakan. Momen yang seharusnya tidak ia ingat dan perlu di hapus.
Tapi justru ingatan tersebut melekat kuat di pikirannya. Membuatnya jadi menginginkan hal itu terjadi malam ini.
Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Ratama bisa ngamuk besar jika melihat Javas ada di rumah ini. Lagi pula, kenapa dirinya jadi aneh begini sih!
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Fiction généraleJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
