dua puluh tujuh

1.3K 43 1
                                        

Tiur sedang berkemas untuk bersiap pulang. Lima menit lagi jam pulangnya telah tiba.

Ketika hendak melangkah keluar dari ruang kerjanya, ponsel di genggaman Tiur berdering. Nama Saga tertera disana sebagai si penelpon. Tiur menghentikan langkahnya sebentar untuk menjawab panggilan itu.

Meski sedikit bingung mengapa Saga tiba-tiba menghubunginya di jam-jam sore seperti ini. Karena memang sangat jarang temannya itu menelepon di sore hari.

"Ya, Saga? Ada apa?" Sapanya langsung seperti biasa dengan nada riang.

"Kamu dimana? Aku sudah ada di depan kantormu." Sahut Saga dibalik telpon.

Kening Tiur berkerut. Di depan kantornya? Sedang apa pria itu disana?

"Kamu—ngapain kesini? Maksudku—"

"Jemput kamu. Kamu dimana?"

Ya ampun! Tiur menepuk keningnya sambil berjalan keluar agar lebih cepat menemui Saga. "Ngapain jemput-jemput segala sih? Ini aku lagi jalan mau ke lift. Tunggu sebentar, ya?"

"Oke! Aku tutup telponnya."

Tiur membiarkan panggilan teleponnya dimatikan sepihak oleh Saga. Ia melajukan langkahnya lebih cepat untuk segera menuju lift. Saat di persimpangan koridor, ia justru tidak sengaja bertemu dengan pria yang bahkan Tiur malas menyebut namanya.

Javas. Pria itu kini berdiri di depannya, menatapnya seolah tidak ada apa-apa di antara mereka. Napas Tiur memburu, dia tengah menahan emosi dan rasa ingin menampar pipi pria di depannya ini. Namun Tiur hanya mampu terdiam sebelum akhirnya memilih pergi tanpa sepatah kata, ia masuk ke dalam kotak lift.

Entah kenapa air matanya kini justru menetes. Melihat wajah pria itu membuat Tiur kembali di gandrungi oleh perasaan menyesal.

Sedang Javas sendiri, pria itu menautkan kedua alisnya memandang kepergian Tiur. Wanita itu terlihat sangat marah padanya. Tentu saja. Javas tidak peduli semarah apa Tiur. Yang Javas nantikan adalah sebuah fakta yang sebentar lagi akan terbongkar.

Adik Ratama yang terlihat culun dan pendiam, ternyata sudah tidak perawan lagi. Javas tersenyum miring membayangkan betapa terpukulnya Tama.

Javas sudah tidak sabar untuk menanti masa-masa Tama dengan rasa marahnya.

Menggelengkan kepala, Javas melirik arlojinya kemudian melangkah menuju lift khusus pimpinan di kantor ini. Ia harus segera menyusul Laras di studio untuk melakukan makan malam bersama.

Rasanya, Javas seperti menjadi Javas Abiya Pramana yang dulu. Javas yang selalu keluar masuk studio untuk menjemput atau sekedar memberikan surprise kepada Kirana. Bedanya, Javas yang sekarang adalah Javas yang akan menjemput Laras, teman Kirana.

Sore ini ia sengaja menjemput Laras dan mengajak wanita itu untuk makan di luar. Karena, ada sesuatu hal yang akan Javas ungkapkan pada wanita yang sudah lama memendam perasaan padanya itu.

Bisa dikatakan, malam nanti Javas akan mengajak Laras untuk menjalin hubungan. Hubungan yang lebih serius dan lebih dari sekedar teman. Javas rasa, ini saatnya yang pas untuk mencari pasangan. Dan pilihan Javas jatuh kepada Laras.

Setelah misinya untuk balas dendam kepada Tama menurutnya sudah selesai, Javas ingin memulai hidup baru dan menjalin hubungan dengan wanita yang dia ingin. Dan entah kenapa, yang Javas tuju adalah Laras. Mungkin karena wanita itu yang akhir-akhir ini memang sering jalan bersamanya.

Keluar dari area kantor, mata tajam Javas tidak sengaja melihat Tiur sedang berdiri bersama seorang pria yang menurut Javas sudah tidak asing lagi.

Itu Sagara. Si pemilik Cafe O'Gara, pria yang dicintai Tiur dalam diamnya wanita itu. Mereka terlihat begitu bahagia sore ini.

Another TasteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang