Javas keluar dari lift dengan penuh percaya diri seolah dia tidak melakukan apapun tadi malam. Padahal, pria yang menjadi pimpinan di JCI ini semalam baru saja merenggut keperawanan anak orang.
"Selamat pagi menjelang siang, Pak. Selamat bekerja." Sapa Soya setengah malas karena jam-jam menjelang mau makan siang seperti ini Javas baru masuk kerja. Tadinya Soya sudah berbesar hati kalau Javas hari ini tidak masuk, namun ternyata tiba-tiba saja atasannya itu menghubunginya menanyakan jadwal hari ini.
Javas tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kusut sekretarisnya. "Kamu kecewa saya berangkat, Soya?"
Dibalas Soya dengan cengiran kuda yang dia paksakan. "Enggak, Pak. Muka saya emang lagi begini hari ini." Terangnya tak mau membuat masalah hari ini. Mood nya sudah berantakan ketika mendapati kabar kalau Javas akan berangkat, jadi Soya tidak mau membuat masalah yang justru akan membuatnya terbakar oleh emosi.
"Tolong belikan saya sarapan, ya!" Pinta Javas ketika akan memasuki ruang kerjanya.
"Nggak sekalian di rapel makan siang aja, Pak? Satu jam setengah lagi jam istirahat kok?" Tawar Soya. Wanita itu terlalu malas untuk turun dan membeli makanan secara langsung.
Javas mundur satu langkah kemudian menatap Soya. "Saya laparnya sekarang."
"Iya, iya. Ini saya belikan sarapannya." Soya langsung berangkat untuk membeli makanan.
Sedang Javas duduk santai di kursi kerjanya sembari menilik berkas yang tergeletak di atas meja. Javas membaca berkas itu dalam hati namun pikirannya justru melayang pada kejadian semalam. Dimana Javas akhirnya berhasil membuat Tiur berada di posisi paling terpuruk. Adik Ratama itu sekarang sudah tidak perawan lagi.
Javas tersenyum geli membayangkan betapa bodohnya Tiur ketika wanita itu berteriak kesakitan kala Javas memasukinya. Wanita itu bahkan sampai meminta ampun dan akan melakukan apa saja bila Javas mau berhenti melakukan itu. Tapi Javas tidak menghiraukan apapun yang keluar dari mulut Tiur. Ia justru membungkam bibir Tiur dengan bibirnya. Memberikan wanita itu sentuhan-sentuhan yang membuat Tiur justru merinti dan melayang. Bisa Javas lihat, sesuatu berwarna merah membekas di seprai kasur. Itu berarti Javas benar-benar berhasil.
Lama membayangkan, Javas baru ingat kalau semalam dia juga sudah membuat gaun cantik Tiur terkoyak tak terbentuk. Mengingat itu, Javas mengambil ponselnya untuk menyuruh salah satu petugas di hotel milik temannya itu untuk membelikan pakaian satu set untuk kamar nomor 67.
Setidaknya itu yang bisa Javas bantu untuk Tiur. Jadi wanita itu tidak kebingungan lagi ketika bangun dan melihat pakaiannya sudah tidak terbentuk.
Tak lama, pintu ruangannya terbuka, muncul Soya dengan tangan membawa makanan yang di pesan Javas.
"Mau saya panggilkan Tiur sekalian, Pak?" Tawar Soya mengerti pada kebiasaan Javas.
Javas mengernyitkan keningnya. "Memangnya dia berangkat?" Hebat sekali jika Tiur benar-benar berangkat ke kantor setelah kejadian semalam. Tapi, bukankah wanita itu tadi masih tertidur pulas?
"Kok Bapak tau dia nggak berangkat?"
Javas menghembuskan napasnya yang sempat tertahan karena menanti jawaban Soya. Javas pikir Tiur beneran berangkat.
"Eh, eh. Tadi saya dapat info dari orang analyst, Pak."
"Info apa?" Javas jadi penasaran.
"Jadi nih, ya. Semalam kan salah satu staf analyst ada yang ngadain pesta ulang tahun gitu di club. Terus si Tiur di undang tuh sama mereka. Nah, sampai disana, dia malah salah kostum padahal di kartu undangannya udah tertulis untuk menggunakan pakaian seksi. Tapi dia malam pakai gaun sok princess!" Cerocos Soya dengan wajah julidnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Genel KurguJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
