Hari berikutnya dengan segenap keberanian yang Tama punya dan untuk segala kesakitan yang telah adiknya derita, pria ini menghampiri kantor tempat adiknya bekerja.
Langkah tegak Tama kini menuju tempat resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya resepsionis itu kepada Tama.
"Saya ingin bertemu dengan Javas." Pungkas Tama langsung.
"Maaf, apakah sebelumnya anda sudah membuat janji lebih dulu dengan Pak Javas?"
"Saya tidak perlu membuat janji lebih dulu dengan pria bajingan itu! Saya hanya ingin bertemu dia sebentar!" Teriak Tama di depan resepsionis. Dia tidak peduli dengan para pasang mata yang menatapnya aneh.
"Maaf, Bapak tidak bisa bertemu dengan Pak Javas. Beliau tidak pernah menerima tamu yang tanpa membuat janji dengannya lebih dulu."
Tama semakin marah. "Kalau begitu saya akan mencari ruangan dia sendiri. Tanpa bantuan kalian." Tunjuk Tama kepada dua resepsionis yang menatapnya penuh sinis.
"Pak, anda tidak boleh lancang disini. Atau, saya akan panggilkan security!"
Tama tidak peduli dia melangkah pasti menaiki lift dan berhenti tepat di lantai yang terdapat ruangan Javas berada. Entah feeling dari mana, yang jelas Tama tidak mau ragu-ragu untuk membunuh Javas.
Security mengikutinya dari belakang dan kini di depan Tama sudah ada wanita cantik yang menatapnya tak suka. Itu Soya. Tentu saja Soya berdiri paling depan ketika Tama hendak memasuki ruangan Javas. "Anda tidak sopan!"
"Saya hanya sedang mencari pria bajingan itu! Dimana atasan kalian? Dimana dia?!"
"Dimana kalian menyembunyikan pria banci itu? Kalian tau, pemimpin kalian itu sudah menghamili adik saya! Dan saya kemari untuk meminta pertanggungjawaban dari dia!" Seru Tama.
Soya tentu mengenal Tama meski Tama tidak mengenal Soya. Yang Soya tau, Tama adalah istri dari model cantik dan kaya raya bernama Kirana. Juga, Tama yang Soya kenal adalah Kakak dari Tiur. Dan, entah yang dikatakan Kakak Tiur ini benar atau tidak jika Javas sudah menghamili Tiur. Yang jelas, Soya berdiri di sini untuk tuntutan pekerjaan demi melindungi atasannya.
"Pak Javas tidak—" ucapan Soya terhenti ketika ia mendengar suara pintu terbuka dari ruangan Javas. Bosnya yang sedang ia lindungi keberadaannya dari ancaman Tama justru keluar dengan santainya.
Javas menghampiri Tama dengan tampang datar namun dapat dilihat betapa bencinya pria ini pada suami Kirana.
Tama sendiri sudah mengepalkan kedua tangannya bersiap untuk menghajar dan membuat babak belur wajah tampan Javas. Tanpa pikir panjang saat Javas hendak mengeluarkan suara, Tama tidak membiarkan itu terjadi karena kini ia sudah membuat satu tinjuan kencang yang mendarat tepat di sudut bibir Javas.
"Shit!" Maki Javas tubuhnya terhuyung ke belakang dan ketika ia menyentuh sudut bibirnya, terdapat noda merah disana.
Para security bersiap menangkap Tama agar tidak melanjutkan kegaduhan yang pria itu buat namun hal itu di tentang oleh Javas. "Biarkan. Bebaskan dia."
Javas suka perkelahian ini. Meski ia tak tau apa maksud Tama menghampiri tempat kerjanya dan membuat kegaduhan disini.
"Apa yang dia katakan?" Tanya Javas kepada Soya karena tadi Javas sempat dengar Tama berteriak tapi tidak terlalu bisa di cerna kalimatnya oleh telinga dan otak Javas.
"Dia bilang kalau Bapak telah menghamili adiknya." Jawab Soya kali ini dengan profesional dan seperti enggan untuk ikut campur lebih dalam.
Javas terdiam. Dia cukup terkejut dengan fakta itu. Hamil? Tiur—hamil? Pikiran Javas jadi kembali pada kegiatan mereka saat di hotel beberapa bulan lalu. Dan kini Javas memaki dalam hati ketika ia baru sadar kalau saat menyentuh Tiur, Javas tidak menggunakan pengaman! Sial! Bisa-bisanya ia kecolongan. Demi Tuhan, Javas baru menyadari sekarang kalau ia tidak menggunakan pengaman ketika meyentuh Tiur.
"Bukan menghamili! Dia—" Tama menunjuk wajah Javas. "Dia memperkosa adik saya dan berujung pada kehamilan!" Ralat Tama kemudian pria ini kembali menghajar Javas yang masih terdiam di tempat.
Dan entah kenapa pria yang kini Tama hajar justru masih diam tanpa mau membalas tinjuannya. Membuat Tama leluasa untuk menghajar Javas. Tama menarik kerah kemeja Javas membuat si empunya merasa tercekik.
"Jawab sekarang! Apa yang harus saya lakukan untuk membalas perbuatanmu kepada adik saya!" Teriak Tama.
"Apa? Apa yang harus saya lakukan?! Meminta pertanggungjawaban! Saya meminta pertanggungjawaban dari anda dalam bentuk menyerahkan diri ke kepolisian!" Lanjutnya kemudian Tama melepaskan kerah kemeja Javas begitu saja membuat pria itu jatuh terkapar di lantai.
Dengan wajah penuh lebam dan kedua sudut bibir yang berdarah, Javas masih bisa menerbitkan senyum miringnya untuk mengejek ucapan Tama.
"Saya memang sengaja melakukan itu. Itu untuk balas dendamku karena anda sudah merebut Kirana!" Ucapnya dengan sadar. Karena setelah Javas pikir ulang, tidak ada ruginya bila perbuatannya justru membuat Tiur hamil. Bukankah hal itu akan membuat Tama semakin pusing? Seperti sekarang ini.
Sekali lagi Tama memberi hantaman kuat di perut Javas. Emosinya semakin mencuat keluar lantaran melihat Javas yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah di perbuatnya.
Serta merta Soya langsung meminta para security yang tadinya diam menyaksikan bosnya di hajar oleh orang tidak di kenal kini membawa Javas ke ruang perawatan khusus yang ada di kantor ini.
Sedangkan Tama, dia sudah merasa berhasil membuat Javas babak belur. Hari ini dia tidak bekerja. Sudah dua hari Tama melepas pekerjaannya begitu saja. Dia bahkan hampir melupakan Kirana jika istrinya itu tidak sering-sering mengajaknya mengobrol. Karena fokusnya sekarang bagi Tama adalah Tiur. Adiknya. Tiur membutuhkan support orang-orang sekitar.
Setelah berhasil menghajar Javas, Tama pulang dan mendapat kabar dari Kirana kalau Tiur mengalami mual lagi. Tama menatap prihatin pada sang adik yang bahkan sampai saat ini belum sembuh dari sakitnya. Di tambah rasa mual yang harus ia rasakan setiap saat.
Tama sedikit bingung dengan kondisi kehamilan Tiur. Tama membandingkan kondisi Tiur dan istrinya yang juga sedang mengandung dan jarang mengalami mual.
"Kenapa Tiur masih mengalami mual? Kamu juga hamil—tapi nggak gitu juga." Tama membagikan kebingungannya pada sang istri yang kini tengah memijat kaki Tiur agar terasa rileks.
Kirana berdecak mendengar ucapan suaminya. "Yaaa orang hamil kan beda-beda. Kebetulan aku memang dapatnya jarang mual."
Tama mengangguk mengerti meski sebenarnya tidak paham juga. Toh, dia tidak merasakan hal itu jadi Tama tidak tau.
Tak lama setelah Tiur tertidur, Tama meminta Kirana untuk mengobrol sebentar di luar. Pasangan suami istri itu duduk bersebelahan di ruang tengah.
Tiba-tiba saja Tama berlagak romantis dengan menggenggam jemari istrinya. "Makasih ya sudah menjaga Tiur. Sudah sayang sama dia. Sudah mau bersusah payah meski lelah." Katanya.
Kirana mengangguk saja. "Tiur juga adikku, Tam. Dan aku—aku ikut terluka dengan apa yang sedang dia alami. Jadi, kamu jangan marah-marah lagi ya sama dia?"
"Iya, aku nggak akan marah. Aku akan marah di depan pria yang sudah membuat adikku seperti itu. Aku tadi habis menghajar Javas di depan ruangan kerja dia. Tepat seperti dia menghajarku dulu ketika di depan klinik tempatku bekerja."
Kirana menahan napas mendengarnya. Jadi, rambut berantakan suaminya ini karena habis menghajar Javas?
"Kamu—kamu menemui dia, Sayang?" Tanya Kirana tidak habis pikir.
Tama mengangguk bangga. "Aku akan menuntut dia lewat jalur hukum. Aku akan melakukan apapun untuk keadilan Tiur, Sayang."
"Tapi ini— kamu yakin, Tam? Lawan kamu ini Javas. Anak Jeremy Pramana." Kirana tidak yakin kalau Javas bisa segampang yang Tama pikir untuk menjebloskan pria itu di jeruji besi.
"Aku tidak peduli. Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan kasus ini. Kirana, tolong support aku."
Kirana mengangguk meski ada keraguan disana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
