dua puluh enam

1.1K 33 0
                                        

Malam harinya Tiur langsung di sidang oleh Kakaknya. Tama menyuruh Kirana untuk memanggilkan adiknya agar ke ruang kerja Tama.

Jika biasanya Tiur memasuki ruang kerja Tama dengan raut ceria, kali ini Tiur merasa cemas dan malam ini ruangan itu terasa menyeramkan dan mencekam.

"Jadi, kemarin malam kamu habis dari mana sebenarnya?" Tanya Tama langsung. Bukan lagi wajah slengean yang biasa Tama tampilkan, kali ini Tama lebih serius. Bahkan panggilan panjang yang seringkali Tama sebut untuknya kini tidak terdengar.

"Aku—ke pesta ulang tahun rekan kerjaku, Mas."

"Terus, kenapa nggak pulang rumah? Bahkan saat coba Mas telpon nggak kamu angkat. Mas khawatir, Dek."

Tiur menundukkan kepala semakin dalam. Ia tak sanggup bila melihat wajah marah Tama. "Maaf."

"Mas nggak butuh maaf. Mas lebih butuh penjelasan kamu kenapa nggak jawab telpon orang rumah."

"Ponselnya aku silent, Mas."

Kepala Tama geleng-geleng tak habis pikir. "Kenapa semalam nggak pulang? Kamu nginep dimana? Jawab jujur dan jangan ada yang ditutupi. Kamu tau Mas nggak suka di bohongi kan?"

"A—aku nginep di rumah temanku yang semalam juga ikut ke pesta. Maaf nggak ngabarin dulu. Semalam kita udah pada capek, Mas. Jadi langsung pada tidur."

"Yakin?" Tiur mengangguk.

"Tadi pagi kamu langsung berangkat kerja?" Tanya Tama.

"Iya."

"Terus gimana keadaan kamu sekarang? Kata Kirana kamu lagi nggak enak badan."

"Sudah mendingan kok."

"Yaa sudah, ayo kita makan malam. Lain kali jangan seperti ini lagi. Mas benar-benar khawatir kalau menyangkut tentang orang-orang berharga di hidup Mas. Termasuk kamu dan Kirana."

Tiur diam membeku mencerna ucapan tulus dari Tama. Orang-orang berhaga di hidup Tama. Kakaknya begitu menyanyanginya. Tiur semakin dibuat takut bila ia membuat kesalahan lain setelah ini. Tiur takut justru membuat Kakaknya terluka karena kesalahannya.

"Dek? Kamu melamun?" Tiur menggeleng linglung. Ia berdiri dan mengikuti langkah Tama keluar dari ruang kerja Kakaknya.

**

Tiur terpaksa memaksakan diri untuk berangkat ke kantor. Ia sudah alfa kemarin. Tidak mungkin jika hari ini ia tidak berangkat lagi. Atasan di divisinya adalah orang yang paling membenci anak buah yang suka sekali tidak berangkat. Tiur tidak mau di panggil untuk ke ruangan Dandi dan mendapatkan berbagi ultimatum dari pria beristri itu.

Pagi ini Tiur sengaja tidak membeli kopi. Tadi Kirana memberinya tumblr yang berisi kopi. Entah kenapa semenjak hamil, kakak iparnya suka sekali berjibaku di dapur, membuat sesuatu disana.

"Nah, ini nih yang kemarin jadi trending topik!" Seru Carla heboh ketika Tiur memasuki ruangan dan kebingungan dengan apa yang dikatakan Carla.

Jadi trending topik?

"Heh, jadi kemarin malam lo dibawa pergi sama siapa?"

Tiur tidak menggubris pertanyaan Carla. Ia menyibukkan diri dengan membereskan meja kubikelnya dan mulai menyalakan layar komputer.

"Bener ya kata orang-orang tuh! Dimana-mana cewek yang kelihatan culun dan pendiam itu diam-diam menghanyutkan. Dateng ke club sendirian eh keluar club bareng cowok nggak dikenal."

Ketika mencerna apa yang di bilang Carla, Tiur sedikit lebih lega karena ternyata sesuatu yang Tiur takutkan terungkap ternyata tidak.

Orang-orang belum tau bahwa kemarin malam ia dan Javas—tidak! Tiur tidak mau mengingatnya lagi. Kini tangannya menyentuh dada. Entah kenapa bila menyebut nama Javas rasanya sakit sekali. Mengingat pria itu pernah melakukan hal di luar ekspektasi Tiur.

Another TasteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang