"Eeeh, Pak Javas, emang beneran ya, si Tiur ada di rumah Bapak?" Seolah memiliki sembilan nyawa, tanpa tedeng aling-aling Soya menanyakan hal tak terduga pada sang Bos besar. Padahal, kantor sudah menambah peraturan baru, untuk seluruh karyawan JCI tidak boleh ada yang bergosip atau menyinggung mengenai skandal Javas dan Tiur. Jika karyawan melanggar peraturan tersebut, maka akan dihadiahi surat pemutusan kerja.
Javas melirik dua perempuan yang tadi dia suruh untuk kembali ke kantor—setelah tadi mengurusnya di klinik. Terutama Soya, Javas jatuhkan lirikan maut pada sekretarisnya itu. "Kamu mau saya jawab pertanyaanmu itu?"
"Ya, iyalah, Pak!"
"Dengan syarat lima puluh persen gajimu saya potong."
"Yaelah, Pak! Timbang jawab doang apa susahnya. Lagian, Bapak ngapain perkaos si Tiur sih, kenapa nggak saya aja? Saya nih, siap lahir batin deh di titipin benih dari Bapak."
Napas Javas sampai tertahan mendengar ocehan Soya yang diluar angkasa itu. Untung saja posisi mereka saat ini ada di parkiran klinik yang kebetulan tidak terlalu ramai. Tidak hanya Javas yang syok, perempuan di sebelah Soya juga tak kalah terkejut dengan keasbunan Soya.
"Itulah kenapa saya tidak menitipkan benih saya di kamu." Anehnya Javas justru meladeni kegilaan Soya.
"Kenapa, Pak?"
Pake nanya!
"Gila!" Ketus Javas kemudian dia sekali lagi mengusir dua wanita itu untuk kembali ke kantor. Sedang dirinya akan mengendarai mobilnya sendiri untuk pulang. Pulang, melihat keadaan adik Ratama Prabu si pembuat onar.
Disela perjalanan, Javas merasa ada sesuatu yang janggal. Dia semakin fokus meneliti mobil yang berjalan di belakang kendaraannya. Dan langsung tersadar bahwa dia sedang diikuti. Javas tau ulah siapa itu. Ya, tentu saja. Jeremy Pramana. Antek-antek Jeremy tentu tidak akan mau susah-susah tutup mulut untuk tidak mengabari Ayahnya mengenai kegaduhan yang diperbuat Tama tadi.
Urung pergi ke kediaman rahasianya, Javas mengubah rute idenya untuk pulang ke apartemen saja. Dia tidak mau orang-orang Jeremy tau keberadaan rumah rahasia itu.
"Sialan!" Kesalnya sambil menendang ban mobil, ketika sudah sampai di basement tower apartemennya.
Tak jadi pergi untuk melihat keadaan Tiur yang dikabarkan sudah siuman dan menangis histeris—info dari Mbok Mar, akhirnya Javas melempar tubuhnya ke sofa. Diam sebentar untuk menyusun strategi.
Beberapa saat kemudian, dia menghubungi Willy untuk merealisasikan strateginya.
"Will, gue lagi diikuti orang-orang suruhan bokap. Gue butuh tiga orang buat jaga diluar. Ah ya, satu lagi. Minta satu orang lagi untuk jadi aspri gue."
"Oke oke. Lo serius butuh aspri?"
"Ya. Gue nggak mungkin hanya mengandalkan Soraya disela sambil mengurus adik musuh gue."
Terdengar suara tawa dari balik telepon. "Nanti gue kasih Aga. Dia mantan aspri walkot. Lo tenang aja, dia udah pengalaman."
"Oke, besok langsung suruh ke kantor aja. Ke ruangan gue. Nanti biar gue bilang ke sekre."
Selesai dengan urusan pertama, Javas beralih menghubungi Soya untuk mengkoordinasi kedatangan Aga.
Demi Tuhan, dia benci dengan situasinya saat ini. Diikuti oleh orang-orang Jeremy, memutuskan meminta bantuan Willy untuk mengawasinya kemudian memiliki asisten pribadi. Entah kemana kehidupan seorang Javas Abiya Pramana yang dulu terasa ringan, santai dan bebas.
Javas melempar ponselnya begitu selesai menghubungi Soya. Kehidupannya berubah semenjak Kirana meninggalkannya. Atau, semenjak mendekati Tiur untuk balas dendam? Entahlah, Javas mulai muak dengan semuanya. Tapi dia tidak bisa tutup mata untuk membiarkan begitu saja keadaan Tiur di kehidupan sekarang ini. Wanita itu sedang mengandung anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficção GeralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
