Sudah empat bulan semenjak berita itu mulai menyurut, Javas sudah kembali dengan kehidupan pribadinya. Dia masih tetap menjabat di perusahaan sang Ayah. Tentu saja. Tuan Jeremy Pramana tidak akan membiarkan Javas melepas begitu saja jabatannya setelah membuat onar dan membuat kepalanya hampir pecah.
Semuanya sudah kondusif seperti sedia kala. Tentang Tiur, terakhir yang Javas dengar adalah kehadiran Kakak dari wanita itu yang mengantarkan surat resign. Tentu saja Javas tidak peduli dengan hal itu. Masa balas dendamnya sudah selesai meski ia sedikit merasa kurang. Seharusnya Tama depresi dan gila karena adik kesayangannya sudah membuat malu.
Mengenai Laras, sang mantan kekasih yang memutuskannya dengan sangat tidak hormat, Javas sampai saat ini belum mendengar beritanya. Ia juga sudah menghapus nomor Laras seperti yang wanita itu inginkan.
"Pak, lima belas menit lagi meeting dengan para kepala direksi akan segera di mulai." Interupsi dari Soya membuat Javas terbangun dari lamunannya.
Dia bergegas beranjak dari duduknya untuk segera menuju ruang meeting diikuti Soya di belakangnya.
"Saya ada jadwal pertemuan dengan klien di luar nggak?" Tanyanya setelah masuk ke dalam lift.
"Ada, Pak. Tapi bukan klien."
Kening Javas mengernyit. "Maksud kamu?"
Soya mengutak-atik tab di tangannya kemudian menatap punggung Javas. "Jam empat Bapak ada pertemuan dengan Pak Chandra di restoran Jepang yang sudah beliau tetapkan."
Javas memaki dalam hati. Sialan Chandra. "Apa kamu kurang pekerjaan sampai jadwal seperti itu ikut di tulis disana, Soya?"
Soya si haters sejatinya Javas memutar bola mata. "Yee.. bukan saya yang nggak ada kerjaan, Pak. Tapi teman Bapak tuh yang maksa saya buat nulis nih jadwal. Udah saya tolak tapi dia malah ngasih saya voucher menggiurkan, jadi saya tulis deh. Hehehe."
Javas menjatuhkan rahangnya dengan bibir terbuka. Kepalanya menengadah ke atas. Ya Tuhan, kenapa dia memiliki sekretaris yang mata duitan sih?
"Pak?" Panggil Soya.
"Ada apa?" Sahut Javas sedikit ketus. Entah kenapa Javas tidak pernah bisa bersikap baik kepada Soya meski sekretarisnya itu sudah bekerja dengan baik dan sesuai keinginannya.
Soya itu sebenarnya sekretaris idaman. Dia bisa menghandle apapun dan selalu tenang ketika mengerjakan sesuatu. Bahkan ketika ia memintanya untuk menguntit kegiatan Tiur di masa itu, Javas sangat puas dengan pekerjaan Soya.
"Mau tau berita hot hari ini nggak?"
Javas segera menggeleng enggan. Dia sudah tau apa yang akan Soya perlihatkan padanya. Tentu saja berita yang tidak berbobot seperti sepasang kekasih selebriti yang akhirnya go public setelah sekian lama.
"Kali ini bukan berita artis, Pak. Berita model. Berita model terkenal, pasti Bapak suka. Tuh." Soya memamerkan layar ponselnya tepat di depan wajah Javas.
Disana di beranda instagram pribadi milik Soya, terdapat postingan dari akun milik Kirana.
"Mantan terindah Bapak kemarin habis tujuh bulanan." Ujar Soya.
Javas diam melihat foto di hadapannya. Disana ada Kirana yang sedang berpose dengan Tama. Tapi bukan itu yang Javas pandang sampai matanya tak berkedip. Seseorang yang berada di belakang pasutri itu adalah yang membuat Javas sulit untuk berkedip. Ada wajah Tiur yang tidak sengaja terpotret disana.
Wanita itu... apa kabar? Javas penasaran dengan kehidupan Tiur yang sekarang. Setelah dinyatakan hamil, apakah wanita itu memilih menggugurkan kandungannya atau justru dipertahankan? Javas tidak tau karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Si Pak tua Jeremy benar-benar menghukumnya dengan memberinya banyak tugas. Membuat Javas tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal lain selain pekerjaan dan usaha clubnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
