Semalam Javas berakhir tidur di kamar lain. Dia tidak memiliki kamar utama di rumah megahnya itu karena memang jarang ditinggali untuk menginap. Semua kamar memiliki ukuran dan fasilitas yang sama.
Minggu pagi yang cerah ini, Javas sudah mandi dan berpakaian santai. Dirinya tengah menikmati sarapan yang disajikan oleh Mbok Mar. Sembari menunggu Mbok Mar memanggil Tiur untuk bergabung sarapan—ya jika wanita itu mau sih.
Sepuluh menit menunggu, Mbok Mar malah datang sendirian tanpa Tiur. Langkahnya terpogoh-pogoh menghampiri Javas yang mengernyit bingung.
"Duh, anu Tuan, Non Tiur tadi muntah-muntah." Lapor Mbok Mar begitu tiba dihadapan Javas.
Javas langsung berdiri hendak melangkah, tapi segera dicegah oleh Mbok Mar. "Eeh, jangan disamperin. Tadi Non Tiur pesan kalau Tuan nggak boleh nengokin."
"Terus Mbok Mar disini ngapain?" Tanya Javas mulai kesal.
"Mau bikin teh anget."
"Keadaan dia gimana sekarang?"
"Masih muntah-muntah, Tuan." Sahut Mbok Mar sambil berlalu ke dapur.
Ah, persetan untuk pesan yang dibilang Mbok Mar! Dia bergegas ke kamar yang ditempati Tiur. Begitu pintu kamar dibuka, Javas tidak menemukan Tiur, tapi dia mendengar suara berisik dari dalam kamar mandi yang tertutup. Javas menghampiri dan mengetuknya beberapa kali.
"Tiur.. bisa buka pintunya sebentar?" Serunya yang tak mendapat sahutan dari dalam.
Sampai pada menit yang entah keberapa ia menunggu di depan pintu kamar mandi, akhirnya Javas bisa melihat keadaan Tiur. Wanita itu keluar dengan wajah pucat—seperti biasa, hanya saja sekarang pakaian wanita itu sudah berganti lebih baik.
"Pak Javas, ngapain disini?" Tiur bertanya dengan tangan menutupi mulut. Bukan karena ingin muntah lantaran melihat wajah Javas pagi-pagi, hanya saja ia malu karena habis muntah.
"Kita ke Dokter." Putus Javas tiba-tiba, menarik pergelangan tangan Tiur begitu saja.
"Saya nggak mau!" Sekuat tenaga Tiur menahan kakinya sendiri agar tidak ikut terseret.
Javas berhenti, berbalik melihat Tiur. "Kamu tidak baik-baik saja. Lebih baik kita ke Dokter kandungan."
"Ini namanya morning sickness Pak, semua wanita hamil merasakannya. Dan itu normal."
Bibir Javas berdecak. Apapun itu sebutannya, dia tetap ingin membawa Tiur ke dokter. "Setidaknya kalau kita ke dokter, kamu bisa mendapatkan obat anti mual, kan?"
Tiur tetap menolak. Semenjak hamil, dia malas untuk pergi-pergi ke luar. Bahkan untuk check-up kehamilan sekalipun. Kalau tidak dipaksa Tama untuk check-up, mungkin Tiur sampai sekarang belum pernah melihat janinnya di USG.
Javas menerima alasan penolakan Tiur, meski sedikit terpaksa. Alhasil, wanita itu hanya meminum teh hangat buatan Mbok Mar untuk meredakan rasa mualnya.
"Mau sarapan bubur?" Tawar Javas.
Tiur menggeleng dengan ekspresi merengut. "Saya pengin Batagor, Pak."
"Apa?"
"Batagor. Gorengan tepung yang disajikan dengan saos kacang dan kecap manis."
Iya, Javas tau apa itu Batagor. Hanya saja, ini jam berapa? Javas melirik arlojinya yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Dimana dia akan menemukan penjual Batagor sepagi ini?
"Ini masih jam tujuh pagi. Penjualnya juga pasti lagi sibuk bikin adonan di rumah." Ucap Javas sekenanya.
"Batagor belakang kantor kayaknya enak deh." Tiur mengabaikan ucapan Javas dan berbicara sendiri sambil membayangkan enaknya makan Batagor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Fiction généraleJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
