Dua bulan semenjak kejadian di kamar hotel itu, Tiur kini sudah bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Dia terus mencoba untuk melupakan kejadian itu meski seringkali teringat ketika tak sengaja berpapasan dengan Javas atau melihat Javas.
Menurut Tiur, setelah dia pikir-pikir meski ia terus berlarut-larut dalam kesedihan dan penyesalan, hidupnya akan terus tetap berjalan. Dan bila ia terus merasa menyesal dan malas menjalani hidup itu akan menjadi hal yang sangat merugikan dirinya. Tiur jadi malas melakukan pekerjaan dan menjadi wanita yang lebih suka berdiam diri.
Tapi sekarang, Tiur mulai bisa beradaptasi dengan orang-orang sekitar. Sekalian dia ingin mengubah kebiasaannya yang sulit berkomunikasi dengan orang lain yang bahkan seringkali ia temui.
Tiur ingin mengubah pola hidupnya yang monoton. Wanita ini merasa selama ini ia telah menyia-nyiakan waktu hidupnya. Jadi, Tiur membuat sisa waktu yang ada untuk berbaur dengan para manusia yang ada di dunia ini.
Pagi ini, Tiur dengan senyum bahagianya memasuki ruang kerja bersama salah seorang driver yang membawakan belanjaannya dari Cafe O'Gara.
"Belanjaan saya taruh di meja itu saja, Pak." Pintanya pada sang driver sambil menunjuk meja sudut ruangan yang di atasnya ada printer namun masih ada tempat kosong.
Pagi ini ruang data analyst masih sepi belum berpenghuni satupun. Tiur memberikan uang tip untuk driver kemudian ia menyusun belanjaannya yang akan ia bagikan pada seluruh rekan kerjanya di divisi ini.
Sebuah kopi di pagi hari dan egg tart namun dalam jumlah banyak. Ia akan membagikan makanan favoritnya ini pada teman-teman yang bahkan tidak menganggapnya ada, yang bahkan menganggap Tiur sebagai Kutu.
Tiba-tiba saja seseorang masuk dan melihat apa yang sedang Tiur lakukan. Melihat ada salah satu rekan kerjanya yang sudah masuk, Tiur bergegas menghampiri dan memberikan kopi serta egg tart pada orang itu.
"Ini untukmu."
Jian, nama orang yang baru masuk itu menerima makanan di tangan Tiur dengan penuh pertimbangan. Ada angin apa seorang Tiur mau berkomunikasi dan memberikan makanan pada orang lain? Begitu pikirnya.
"Ini maksudnya apa?"
Tiur tersenyum simpul menanggapi pertanyaan Jian. Ia menjelaskan kalau hari ini Tiur memang sedang ingin berbagi makanan untuk teman-teman semua.
Sampai pada akhirnya, para staf data analyst sudah menerima makanan dari Tiur tak terkecuali juga Dandi atasannya. Meski mereka tidak ada yang mengucapkan terimakasih dan hanya mengatakan 'tumben' ketika Tiur menyerahkan makanannya, ia rasa sudah cukup. Tiur sudah merasa puas dengan tanggapan mereka. Yang penting baginya, mereka mau memakan apa yang telah Tiur bagi.
Dan hal itu mampu membuat mood kerja Tiur menjadi semangat. Bahkan wanita ini tersenyum terus-menerus sambil melakukan pekerjaannya. Sebelum sebuah suara heboh membuat Tiur langsung melenyapkan senyumnya seketika.
"Ada Pak Javas mau sidak kesini! Dia sebentar lagi sampai!" Seseorang berteriak heboh dan membuat para rekan kerja Tiur mulai membereskan meja kerja agar tidak terlalu berantakan.
Jantung Tiur sudah mengacu cepat ketika nama pria yang akhir-akhir ini jarang terlihat di kantor ini di sebut. Ya, Javas. Pria itu memang belakangan jarang ada di kantor. Dan beberapa minggu lalu yang Tiur dengar dari para staf yang menggemari Javas, si anak pemilik perusahaan itu tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Seseorang yang para karyawan takuti ketika sedang melaksanakan sidak kini mulai memasuki ruangan divisi. Tiur semakin merasa tidak aman ketika ia tidak sengaja melihat wajah Javas. Napas Tiur mulai berantakan. Ia ingin segera keluar dari ruangan ini namun hal itu pasti justru akan membuatnya berkomunikasi dengan Javas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
