Setelah lama tidak membutuhkan jasa Willy, kali ini Javas kembali menghubungi Willy. Dia membutuhkan jasa Detektif untuk kembali memantau seseorang yang beberapa hari lalu ia temui.
Tiur. Setelah pertemuan tidak sengaja mereka ketika di Mall tempo hari, pikiran Javas tidak bisa bekerja dengan jernih. Tiur dengan kondisi wanita itu membuat Javas memikirkannya terus-menerus. Aneh memang. Tapi itulah yang Javas rasakan.
Tubuh mungilnya, tampak begitu ringkih saat kali pertama Javas kembali bertemu. Dan kondisi Tiur yang seperti itu entah kenapa sangat mengganggu pikirannya.
Apa Tama tidak pernah memperhatikan pola makan adiknya? Apa Tama hanya memperhatikan kehamilan istrinya saja? Apa selama mengandung Tiur justru di asingkan oleh Tama? Pikiran seperti itu justru akhir-akhir ini membuat Javas tidak tenang.
Sebagai pria yang telah menyumbangkan benih ke dalam rahim Tiur—ya meski tidak sengaja, karena awalnya ia hanya berniat memperkosa adik Ratama saja. Dalam lubuk hati Javas yang paling dalam, dia merasa tidak terima bila calon bayinya di perlakuan seperti itu oleh orang lain.
Javas akui keberadaan janin dalam kandungan Tiur. Bagaimana pun juga, dia adalah darah dagingnya. Kehadirannya memang tidak diinginkan, tapi Javas merasa kalau calon anaknya tidak harus diperlakukan seperti itu. Bahkan sebelum lahir di dunia.
Ponsel Javas berdering. Dia segera melenyapkan lamumananya yang akhir-akhir ini dipenuhi oleh sosok Tiur.
Panggilan masuk dari nomor Willy. Hal yang sangat Javas tunggu-tunggu.
"Apa ada pergerakan, Will?" Tanyanya langsung tidak sabaran.
"Target baru aja keluar dari rumah. Sama cowok, nggak tau siapa."
Kening Javas mengernyit. "Gue bisa pantau lewat tab?"
"Bisa."
Kemudian Javas mengambil sebuah tab dan menyambungkannya dengan jaringan milik anak buah Willy, tanpa memutuskan panggilan telponnya dengan si detektif itu. Bisa dilihat, disana ada Tiur yang tengah berjalan di pekarangan rumah bersama—Sagara?
Javas menatap lekat sosok pria itu. Tak menyangka jika Sagara masih berhubungan dengan Tiur meski kondisi wanita itu sudah tidak sama lagi.
Sepertinya Tiur akan mengantar Sagara pulang. Javas segera meraih ponselnya. Dia harus membuat tindakan nekat.
"Bawa Tiur ke gue. Sekarang juga dan gimanapun caranya!"
"Oke."
"Kita ketemu di tempat biasa."
Javas bergegas keluar dari ruang kerjanya. Dia berhenti di meja Soya sebentar. "Saya akan keluar. Tolong hendel pekerjaan saya." Ujarnya kemudian tanpa menanti jawaban Soya, Javas kembali melanjutkan langkahnya.
Anak sulung Jeremy ini lantas mengendarai kereta besinya ke rumah miliknya. Ya, rumah rahasia. Tapi sudah tidak rahasia lagi untuk Willy. Si detektif itu sudah mengetahui rumahnya dan kali ini Javas meminta Willy untuk menculik dan membawa Tiur ke rumahnya itu.
Javas sampai lebih dulu. Dia menanti kedatangan Willy di depan pekarangan rumahnya. Hingga di menit dua puluh, mobil hitam milik Willy terlihat memasuki area rumahnya.
Sosok yang Javas tunggu-tunggu keluar. "Dia di dalam." Ucap Willy menunjuk mobilnya dengan dagu.
Javas mengangguk paham. Dia menghampiri mobil temannya itu dan membuka pintu bagian penumpang. Terlihat Tiur tertidur disana. Tanpa menunggu waktu lama, Javas membawa wanita berbadan dua itu ke gendongannya kemudian melihat Willy. "Thanks, Will!"
"So, tugas gue cuma nyulik wanita hamil doang nih?" Balas Willy.
"Hmm. Tugas lo hanya itu."
"Oke, kalau begitu. Gue cabut."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficção GeralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
