Hari Senin dengan cuaca Jakarta yang panas, rupanya tidak kalah panasnya dengan kepala Soraya — si sekretaris Javas yang katanya paling profesional itu. Sepertinya Soraya sudah terlalu muak dengan sikap Javas yang akhir-akhir ini jadi bego masalah pekerjaan.
"Duuuh, Bapak sebenarnya kenapa sih?! Dari kemarin kerja nggak pernah fokus! Kalo ada masalah, cerita sini, cerita!" Hilang sudah kesabaran Soraya yang memang setipis tisu di belah jadi lima.
Javas yang di bentak-bentak sekretarisnya dari kemarin karena masalah pekerjaan cuma bisa menghembuskan napas panjang sambil bersandar lelah di sandaran kursi.
"Kamu urus sendiri deh. Kepala saya pusing banget, Soya ... jadi tolong jangan bentak-bentak saya dulu." Keluh Javas dengan mata terpejam.
Giliran Soraya yang membuang napas kasar sambil bibirnya komat-kamit memberi sumpah serapah pada atasannya itu. "Bapak sebenarnya kenapa? Ada masalah pribadi? Pak Javas bisa cerita ke saya sebagai sekretaris Bapak. Siapa tau saya bisa bantu. Bantu do'a gitu kan lumayan."
Mata Javas terbuka. Menatap Soraya dan memperhatikan gerak-gerik si sekretarisnya yang duduk di kursi seberang. Sebenarnya ia butuh teman untuk menumpahkan gumpalan yang mengganjal dadanya akhir-akhir ini. Tapi Javas belum menemukan seseorang yang pas untuk diajak cerita. Chandra bukan pilihan yang tepat untuk diajak curhat. Karena bukannya dikasih saran, si mata sipit itu pasti justru meledeknya habis-habisan.
Soraya juga sebenarnya bukan orang yang tepat untuk diajak cerita. Tapi mungkin, wanita di depannya ini bisa memberinya saran. Javas mengangguk kemudian menegakkan tubuhnya untuk memulai sesi curhat dengan Soraya.
"Kamu masih kenal Tiur?"
Bola mata Soraya seolah hampir melompat dari singgasananya begitu Javas menyebut nama mantan staff JCI yang kena skandal itu. "Ooh ... jadi semua sikap bego Bapak yang dari kemarin kambuh-kambuhan itu cuma karena si Tiur?!" Soraya berbicara lantang dan terlampau nyolot.
Javas sampai tak kuasa melihat wajah Soraya yang sudah tidak karuan bentukan ekspresinya. "Ya. Tapi bukan sepenuhnya karena dia. Tapi — "
"Halah, halah! Nggak usah ngeles lagi. Buruan cerita, apa inti permasalahannya?"
Buseett. Javas menelan ludah mendengar hardikan Soraya yang terlalu berani. Tapi Javas sengaja tidak memarahi Soraya soal sopan santun, karena sekarang, Javas sedang ingin menganggap Soraya sebagai teman. Teman curhat, misalnya.
Tiba-tiba Soraya mencondongkan kepala di depan Javas. "Eh tapi, dia masih tinggal di rumah Bapak kan?" Sisi kepo Soraya mulai muncul.
Javas menggeleng lemah dan ekspresi terkejut Soraya menyambutnya. "Jeremy membawa pulang Tiur. Sudah dua minggu lebih."
Sudah tidak heran mendengar Javas menyebut Ayahnya sendiri dengan hanya menggunakan nama, Soraya lebih di kejutkan lagi oleh isi curhatan pertama Javas.
"Lah, lagian si Bapak nyulik anak orang nyampe berbulan-bulan. Mungkin Pak Jeremy pasti kasian sama Kakaknya Tiur, jadi dibalikin si Tiur ke Kakaknya. Saya juga kasian sama Dokter Tama tau, Pak. Karena yang saya tau kan, mereka cuma hidup berdua doang, nggak ada orangtua. Nih ya, kalo Bapak bukan anak orang kaya dan nggak punya kekuasaan, udah pasti sekarang Pak Javas lagi di penjara!" Panjang lebar Soraya menyahuti curhatan Javas yang baru seperempat cerita.
Salah besar memang mengajak sekretaris nyinyirnya bercurhat ria. Javas pikir bakal dapat saran bagus, tapi belum apa-apa dia sudah di ulti.
Tetapi karena Javas tidak mau kalah, dia membuat pembelaan, "Soya, saya membawa kabur Tiur karena Kakak dia yang sialan itu tidak becus mengurus adiknya! Sebelum saya bawa Tiur, saya menemukan dia dengan keadaan kurus dan seperti bukan wanita hamil! Dia kurang gizi! Saya tidak mau anak saya lahir kurang gizi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficção GeralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
