Javas terbangun dari tidurnya. Dia mengusap wajah berkali-kali kemudian melirik jam di dinding kamar. Pukul dua dini hari dan ia terbangun karena mimpi lucu yang mana disana ada dirinya dan Laras.
Javas turun dari ranjang dan melangkah ke dapur. Kebiasaannya jika sudah terbangun dari tidurnya, maka Javas tidak bisa lagi untuk tidur. Entahlah, meskipun matanya sudah mengantuk tapi tetap saja bila di tidurkan maka hanya mata saja yang terpejam tapi pikirannya melayang entah kemana.
Duduk di kursi counter dengan sebotol air mineral dingin dan wajah yang kusut khas bangun tidur. Javas melupakan bunga mimpi yang membuatnya terbangun. Pria ini justru memikirkan kejadian tadi pagi yang membuatnya benar-benar naik pitam.
Masih dengan masalah yang Tiur perbuat. Wanita itu muntah di depannya, seolah Javas adalah tong sampah yang pantas di muntahi begitu saja.
Javas mendengkus dan membuang muka ke samping. Dia murka, tentu saja. Jadi, setelah Tiur keluar dari toiletnya, Javas langsung meminta Tiur untuk pergi dari hadapannya. Dia muak dengan wajah adik Ratama.
Sepertinya Javas harus memberi pelajaran berharga untuk Tiur. Agar wanita itu bisa lebih hati-hati padanya. Agar Tiur tau sebenarnya siapa Javas ini.
Di lain dapur, dengan lampu yang sedikit temaram, Tiur sebisa mungkin tidak membuat suara gaduh. Saat ini, di jam dua dini hari ia tengah membuat teh hangat untuk dirinya yang tadi sempat muntah-muntah lagi.
Tubuhnya juga merasa demam. Jadi untuk meredakan rasa yang tidak enak itu, Tiur memutuskan untuk membuat teh hangat. Setelah selesai membuat teh hangat Tiur kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas ranjang sambil bersandar di bahu ranjang. Matanya kosong menatap dinding kamar. Pikiran Tiur melayang pada kejadian pagi tadi. Itu sangat menyakitkan. Tiur harus mati-matian menahan rasa muntah dan pada akhirnya ia memuntahkan isi perutnya di depan Javas.
Bahkan pria itu tidak memiliki rasa belas kasih padanya yang sedang lemas. Javas justru menyuruhnya untuk segera keluar dari ruangan pria itu. Ya ampun! Memangnya apa yang Tiur harap dari sikap Javas yang memang seperti itu?
Pria tanpa perasaan itu, tentu saja tidak mempedulikan karyawannya yang sedang kesakitan bahkan di depan mata pria itu sendiri.
Tiur mengelus perutnya. Ada satu kejanggalan yang membuat Tiur uring-uringan memikirkannya, selain memikirkan sikap Javas yang tidak bisa disebut sebagai manusia itu.
Tiur merasa aneh pada tubuhnya. Dia merasa, demamnya ini seperti bukan demam biasa. Dulu ketika awal-awal sebelum mengetahui kakak iparnya ternyata sedang mengandung, Kirana juga demam seperti Tiur.
Tiur terlalu takut menyebut ini sebagai pertanda bahwa ia sedang mengandung. Mengingat ia pernah di setubuhi oleh Javas tanpa pengaman saat di hotel Martin beberapa bulan lalu.
Juga, kejanggalannya pada siklus menstruasinya yang kini tidak normal. Bulan kemarin dan bulan ini Tiur belum merasakan menstruasi lagi. Tapi ia terus berpikir positif kalau hal itu bisa saja terjadi karena ia merasa sedang banyak pikiran saja. Tapi tetap saja Tiur merasa takut.
Satu tangan Tiur membekap mulutnya lantaran tak kuasa menahan rasa ingin menangisnya. Tidak! Tiur mohon, apapun yang sedang ia pikirkan dan sedang Tiur takutkan, semoga saja tidak terjadi.
Semua akan menghujatnya bila hal itu benar-benar terjadi.
Tangis Tiur semakin menderas dan tak bisa ia bendung. Menangis hingga tak kenal waktu dan pada akhirnya Tiur tertidur pulas dengan air mata yang membasahi pipi.
Esok paginya, Kirana yang sudah selesai membuat sarapan dan menyiapkan bekal makan untuk suami dan adik iparnya. Dia berniat untuk membangunkan Tiur. Tumben sekali adik iparnya itu jam segini belum keluar kamar. Biasanya, Tiur akan keluar dengan penampilan fresh dan membantunya di dapur meski sekedar membuat susu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Fiksi UmumJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
