tiga puluh delapan

1.7K 89 6
                                        

Pagi hari di sebuah kafe bilangan Jakarta, Kirana mengajak Javas bertemu. Setelah mempertimbangkan banyak hal dan butuh waktu lama untuk memutuskan menghubungi kembali nomor Javas dan mengajak sang mantan gebetan untuk bertemu—akhirnya hari ini telah tiba.

"Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu, kamu tampak sehat dan bahagia, Na." Javas yang pertama kali mengeluarkan suara.

Hanya dibalas lirikan sengit oleh sang bumil. "Aku nggak bisa lama-lama, langsung saja. Aku ajak kamu ketemu karena ingin tau kabar Tiur."

"Dia baik. Sangat baik-baik saja."

"Javas, apa kamu nggak bisa biarkan Tiur pulang? Kamu hampir dua bulan menculiknya."

"Memangnya kalian bisa mengurus Tiur? Akan lebih baik jika dia tetap bersamaku. Kamu cukup fokus saja pada calon anakmu, Na."

"Tapi, Jav—"

"Aku sudah sangat berbaik hati untuk tidak membuat kehidupan suamimu berantakan lagi setelah dia mengunjungi rumah orangtuaku. Jadi, berhentilah meminta hal lebih." Javas masih ingat betul beberapa bulan lalu saat sang Mama bilang jika Tama mengunjungi rumah mereka dan menangis memohon.

"Tapi Tiur membutuhkan Tama! Dia pasti merindukan Kakaknya."

Javas tersenyum miring. Kirana tidak tau saja kalau setiap harinya, Tiur tidak pernah sedikitpun memikirkan Tama. Tentu saja itu karena Javas sudah membuat nama Tama jelek di mata Tiur.

"Bilang ke suamimu, adiknya tidak pernah merindukan dia."

Kepala Kirana geleng-geleng tak habis pikir. "Kamu pria terjahat yang pernah aku kenal, Jav."

"Aku tidak akan seperti ini kalau dulu kamu lebih memilihku, Na."

"Aku justru sangat bersyukur karena tidak memilihmu!"

"Ya, kamu memang lebih cocok dengan kaum rendahan seperti suamimu." Sindir Javas telak.

Tak mau kontraksi di tempat, Kirana berusaha menahan rasa amarahnya. "Apapun itu, dia lebih baik daripada kamu!"

"Berhenti menyanjungnya di depanku!"

"Kenapa? Tentu saja aku akan selalu menyanjung suamiku."

Javas semakin murka. "Kalau memang sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku pergi."

"Tolong sampaikan ke Tiur, seminggu lagi aku akan melahirkan. Kalau memang kamu manusia yang punya hati, biarkan Tiur menemuiku setelah melahirkan."

Javas tidak menyahut apapun, dia pergi begitu saja.

***

"Pak Javas nggak kesini, Bu?" Tanya Tiur pada Mbok Mar yang lebih dia sering panggil Ibu.

Mbok Mar menggeleng. "Nggak tau, Non. Biasanya Tuan kesini seminggu sekali, ya. Tapi ini sudah hampir dua minggu nggak kesini." Semenjak ada Tiur, Javas memang rutin berkunjung setiap seminggu sekali untuk sekedar melihat keadaan Tiur.

"Iya. Giliran ditunggu nggak kesini." Sewot Tiur.

"Emang, Non Tiur ada perlu apa, nunggu Tuan Javas?" Mbok Mar penasaran, lantaran baru kali ini melihat Tiur seperti sangat menantikan keberadaan Javas.

Tiur meraih remot tv kemudian menggantinya secara acak terus-menerus. "Aku pengin sesuatu, Mbok. Tapi cuma dia yang bisa wujudin."

Kali ini apalagi?

Mbok Mar duduk di sofa yang sama seberang Tiur itu menoleh heran. "Ngidam lagi, Non?"

Tiur mengangguk malu sambil mengelus perut buncitnya yang sudah menginjak usia tujuh bulan tapi tak henti-hentinya merepoti Javas soal keinginan. Pasti ada saja sesuatu yang Tiur inginkan dan hal itu selalu harus bersangkutan mengenai Javas. Entah itu Tiur yang ingin makan Mangga muda tapi yang di petik langsung oleh Javas, atau ingin melihat Javas makan Durian di depannya langsung.

Another TasteTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang