"Dibawah seru abis. Lagi ada yang rayain ulang tahun." Ujar Chandra pada Javas.
Saat ini mereka tengah berada di ruangan VVIP milik mereka sendiri. Javas sedari tadi tak mau henti melihat wanita cantik yang tengah melakukan pertunjukan striptease di atas tiang.
Javas sedang merasa lelah pada kehidupannya. Terlalu lelah pada penolakan Tiur lebih tepatnya. Mengingat Tiur, Javas jadi ingat kejadian tadi pagi ketika ia mengobrol di ruang meeting yang berujung dirinya marah dan memutuskan begitu saja obrolan mereka. Javas sudah benar-benar tidak habis pikir pada pikiran adik Ratama itu.
"Mata lo nggak pernah kedip kalau udah lihat beginia!" Chandra melempar kulit kacang dan mendarat sempurna mengenai kening Javas.
"Sialan lo!" Javas balas melempar sesuatu pada Chandra. Bukan kulit kacang melainkan kacang satu genggam yang ia lempar tanpa rasa kasihan pada sahabatnya itu. Kemudian ia kembali meneguk minuman beralkohol di mejanya.
Sejujurnya Javas sudah setengah mabuk dan Chandra sudah berkali-kali mengatakan untuk berhenti meminum minuman beralkohol itu namun Javas seolah tak peduli pada apa yang di katakan Chandra.
"Ingat Laras, Jav! Katanya lo mau coba serius sama dia. Memulai hal yang serius juga dari diri elo, tobat Jav, tobat!" Cerocos Chandra meski setelah mengatakan itu dirinya juga ikut minum.
Javas cukup tersenyum geli saja mendengar celotehan Chandra. Tanpa perlu Chandra ingatkan pun ia masih ingat kalau di dunia ini ada Laras. Meski ketika di tempat ini, Javas akan melupakan sejenak wanita itu. Bagi Javas, club itu seperti tempat yang berada di dunia lain. Di dunia pararelnya. Beda dimensi.
Ketika sedang menikmati tarian striptease di depan, ponsel Javas yang tergeletak begitu saja di meja berdering. Javas mengabaikannya, bahkan dia tak sedikitpun melirik pada ponselnya.
Justru Chandra yang penasaran. Pria itu melihat layar ponsel Javas yang terus menyala. Ada nama Tiur yang tertera disana sebagai si penelpon. "Tiur tuh. Siapa tau dia mau ngajak berteman lagi. Angkat gih!"
"Males banget gue sama cewek jadi-jadian kayak dia!"
"Yaa elah, gitu aja udah nyerah. Mana nih Javas yang katanya buaya darat! Naklukin cewek yang katanya jadi-jadian aja lo nggak mampu! Parah lo, Jav! Sini titit lo gue potong biar nggak malu-maluin." Seloroh Chandra.
Merasa terlihat lemah di ejek begitu saja oleh seorang Chandra, Javas terpaksa mengangkat telpon itu.
"Ha—halo, Pak? Pak tolong saya. Saya ada di hotel Martin kamar nomor 67. Saya—arrggh....!"
Kening Javas mengernyit ketika yang pertama kali ia dengar adalah suara histeris dari Tiur dan terdengar ketakutan. "Halo—Tiur? Tiur?" Javas melihat layar ponselnya yang ternyata sudah tidak tersambung dengan Tiur.
"Kenapa?" Tanya Chandra mulai penasaran.
"Dia minta tolong. Katanya lagi ada di hotel Martin kamar nomor 67." Jelas Javas masih mencoba mencerna apa yang tadi Tiur katakan. Astaga.. alkohol membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.
Mata Chandra melebar. "Ngapain cewek kayak dia ada di hotel Martin? Segala nelpon lo sama kasih nomor kamarnya. Eh, jangan-jangan dia—"
"Apa? Nggak usah bikin gue panik!"
"Cieee yang panik sama adiknya musuh sendiri."
Javas mendengus mendengarnya. Dia memang akan selalu salah jika di depan Chandra.
"Lo nggak penasaran dia ngapain disana, Jav?" Javas menggeleng.
"Lo nggak mau nyamperin dia?" Javas juga menggeleng.
"Saran gue mending lo samperin. Siapa tau lo bisa memanfaatkan sesuatu disana untuk balas dendam. Kali ini gue percaya dan terserah elo deh mau ngelakuin apa aja sama tuh si adik Tama. Lama-lama gedek juga gue dengar cerita lo yang selalu putus nyambung sama dia."
"Gue males."
"Udah nih, nyerah? Yakin lo mau lepasin Tama hidup damai gitu aja? Sedangkan lo masih berjuang mati-matian buat ikhlasin Kirana buat si Tama? Kalau gue jadi elo sih mending lanjutin aja rencana awal." Kompor Chandra.
Javas berdecak dan mendesis. Meski kepalanya sudah ingin pecah, dia akhirnya menuruti apa kata Chandra. Dengan kesadaran yang masih tersisa setengah, Javas mengendarai mobilnya ke tempat yang tadi Tiur sebutkan. Hotelnya tak jauh dari club Javas.
Tak sampai sepuluh menit Javas sudah tiba di lokasi. Dia bergegas mencari kamar nomor 67. Tiba disana, kamarnya terkunci. Javas mencoba menghubungi nomor Tiur untuk memberitahu kalau dirinya sudah tiba. Namun nomor Tiur justru tidak aktif. Merasa janggal, Javas meminta petugas hotel untuk meminta kunci pintu cadangan.
Kamar hotel telah dibuka, Javas dibuat syok oleh pemandangan disana. Tiur sedang di cumbu oleh seseorang yang tak di kenal. Wanita itu terlihat meronta. Tanpa pikir panjang ia langsung menerjang pria tersebut. Memberinya beberapa tonjokan dan berujung perkelahian antar keduanya.
Javas mendapat dua tinjuan yang membuat pipi kirinya memar. Tapi untungnya pria yang tak dikenalnya itu memilih kabur.
Masih memiliki tenaga, Javas berdiri menghampiri Tiur yang duduk ketakutan di tepi ranjang. Wanita itu menangis tersedu. Javas meneliti pakaian yang dikenakan Tiur. Seperti berbeda dari yang setiap hari Javas lihat. Dan, wanita itu malam ini menggunakan make up. Kacamata minusnya juga tidak di pakai. Membuat penampilan Tiur di mata Javas terlihat lebih manusiawi. Dan Javas akui dengan penampilan Tiur yang seperti itu, dia terlihat cantik.
Cantik meski rambut wanita itu sudah berantakan akibat pria tadi. Ah, ya ampun! Javas hampir lupa alasannya datang kemari untuk apa. Tapi, dia juga tidak tau alasannya apa sih.
Diam dan memandang Tiur yang masih menangis tersedu, tiba-tiba Javas menemukan ide bagus yang menguntungkan untuknya. Ketika Tiur berdiri hendak melangkah ke arahnya entah untuk apa, Javas segera mengunci pintu kamar dan menyimpan kuncinya di saku membuat Tiur yang awalnya sudah lebih rileks sekarang jadi ketakutan.
"Pa—Pak Javas, saya ingin pulang." Pintanya.
Javas dengan kesadaran yang masih tersisa setengah ini menghampiri Tiur. Di otaknya sudah bersarang hal-hal yang akan ia lakukan pada adik Ratama ini. Mungkin, ini saat yang tepat untuk benar-benar membuat hidup musuhnya itu sedikit berantakan.
Chandra bilang, sahabatnya itu akan menyetujui apa saja yang akan Javas lakukan pada Tiur. Jadi, Javas akan melakukan apa yang kini sudah ia pikirkan matang-matang.
Tanpa mempedulikan raut ketakutan Tiur, Javas mendorong tubuh wanita mungil itu.
"Pak Javas mau apa?" Tiur semakin dibuat bingung. "Ja—jangan seperti ini! Akh—" Dia mengaduh ketika Javas menindih tubuh kecilnya.
"Kamu tanya apa mau saya? Kamu! Saya mau kamu, Tiur!" Balas Javas matanya mulai dipenuhi oleh hawa nafsu.
Tidak memberikan waktu sedikit saja untuk Tiur bersuara, Javas segera membungkam bibir yang malam ini terlihat Pink natural itu. Javas mencumbu Tiur dengan brutal tanpa peduli pada penolakan adik Tama ini. Bahkan tangis Tiur sudah Javas anggap sebagai nyanyian indah.
Selanjutnya, Javas benar-benar melakukan hal yang akan membuat Tama murka dan kebingungan. Javas meniduri Tiur.
**
Pagi yang cerah menyapa mata Javas. Pria ini mendesis lantaran sakit kepala tiba-tiba melandanya. Kepalanya menoleh kanan kiri dan menemukan seseorang yang tertidur lelap di sampingnya. Javas diam memperhatikan wanita yang tidur di sebelahnya itu.
Otaknya mulai mengingat kejadian semalam. Dimana Javas mengambil mahkota Tiur yang begitu berarti bagi wanita itu. Javas tersenyum miring membayangkannya. Begitu bangga karena ia telah berhasil melewati misinya dengan lancar.
Tangan nakal Javas menyentuh selimut yang menutupi tubuh Tiur sampai leher. Javas menyibak sedikit selimut itu dan tersenyum bangga ketika menyadari tubuh polos Tiur dibalik selimut.
Kegiatan Javas membuat Tiur yang tadinya tidur nyenyak jadi merasa terganggu. Buru-buru Javas membenarkan letak selimut Tiur kemudian ia beranjak turun. Menggunakan pakaiannya kembali dan pergi dari kamar itu.
Tentu saja Javas tak perlu mempedulikan Tiur yang masih tertidur nyenyak. Javas harus segera pulang dan masuk kantor.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Taste
Ficción GeneralJavas tidak terima ketika perasaannya diabaikan begitu saja oleh seorang model cantik bernama Kirana. Wanita itu justru memilih Ratama seorang Dokter hewan yang berpenampilan biasa saja dan dari kalangan orang bawah. Ketika mengetahui Kirana akan me...
