Keesokan harinya Liona dan Aca seperti biasa berangkat ke sekolah, dan ketika waktunya istirahat Liona pun menghampiri Aca dikelasnya diikuti oleh kedua sahabatnya plus Briana yang entah kenapa selalu mengintili kemana pun Veve pergi.
"Anjirlah kenapa sih lo ngikutin kita terus?! Mau masuk circle kita huh?!" Ucap Veve.
"Emang kenapa sih?! Sensi banget perasaan kalo gue ada dideket lo?! Lagian hak gue kali mau pergi kemanapun!" Balas Briana sambil memutar bola matanya.
"Berantem mulu sih kalian berdua! Nggak bosen apa kalian berantem? Gue aja yang dengerin bosen sumpah deh" Ucap Yuna.
"BACOT!" Balas Veve dan Briana secara bersamaan.
"Aciiee barengan~" Goda Liona.
"APAAN SIH?!" Ucap Veve dan Briana secara bersamaan lagi. Keduanya reflek saling menatap satu sama lain dan secara bersamaan memalingkan wajah mereka.
"Tuh kan barengan mulu, udah cocok lah kalian jadi pasangan" Ucap Liona dengan nada mengejeknya.
"Bener banget Li! Dua bocah ini udah cocok jadi pasangan" Timpal Yuna.
"Bacot bege!" Ucap Veve sambil menoyor dahi Yuna.
Melihat tingkah kedua sahabatnya Liona hanya bisa geleng-geleng kepala sedangkan Briana diam-diam memperhatikan ekspresi Veve dan tersenyum kecil ketika melihat ekspresi kesalnya yang menurutnya imut.
Begitu tiba di kelas sang pacar tatapan Liona langsung bergerak mencari keberadaan Aca.
Dan saat melihat sosok sang pacar Liona pun buru-buru menghampiri pacarnya itu kemudian memeluknya dari belakang.
Cup!
Tak lupa Liona berikan sebuah kecupan singkat dipipi Aca dan membuat orang-orang seketika memutar bola mata mereka.
"Bisa nggak sih kalo bucin jangan disekolah?" Ucap malas Lia.
"Kenapa? Lo iri?" Balas Liona sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Dih ngapain gue iri sama kalian" Ucap Lia sambil menunjukkan ekspresi jijiknya.
"Udah jangan didengerin omongan si Lia. Kalian lanjutin aja mesra-mesraannya mwehehe" Timpal Cici sambil senyum-senyum sendiri.
"Alah biar halu lo makin lancar kan buat bikin cerita!" Cibir Lia sambil menoyor jidat Cici.
Seketika Cici pun menunjukkan cengirannya dan membalas, "Itu udah tau~" Ucapnya.
"Aca kita makan yuk" Ajak Liona kemudian mendekatkan wajahnya ke leher Aca.
"Iyaa ayo makan, mau ke kantin sekarang?" Balas Aca.
"Ay-"
BRAK!
"SINI LO ACA SIALAN!" Teriak penuh amarah Axel.
Mendengar teriakan tersebut seketika ekspresi Aca dan Liona berubah menjadi datar.
Disaat Axel akan menarik kasar tubuh Aca, Liona sudah terlebih dahulu menahan tangannya itu.
"Apa maksud lo hah dateng-dateng langsung marah-marah nggak jelas ke pacar gue?!" Ucap marah Liona.
"DIEM! GUE NGGAK ADA URUSAN SAMA LO LIONA!" Balas Axel sambil menunjuk wajah Liona.
Seketika Liona pun terkekeh sinis lalu menunjukkan ekspresi datarnya, "Berani banget lo huh nunjuk gue?! Nggak takut gue patahin tuh jari hah?!" Ucapnya.
Axel berdecih pelan lalu mengacak rambutnya dengan frustasi, "Gue nggak mau lo jadi sasaran amarah gue Liona, jadi mending lo diem!" Ucapnya.
Tatapan Axel pun beralih kearah Aca yang tengah menatapnya dengan ekspresi datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
WTF?!
FantasyApa kalian percaya akan Transmigrasi? Gue sebetulnya nggak pernah mempercayai hal itu, sebelum akhirnya entah gimana gue tiba-tiba ngerasain hal diluar nalar tersebut. INI KENAPA GUE TIBA TIBA ADA DI PINGGIR JALAN WOY! Perasaan gue tadi lagi ngantr...
