"Jadi beneran? Fix sih emang jodoh lu berdua" seru Aldo ketika mendengar cerita Aran yang dijodohkan dengan Chika.
"Tapi Lo seneng kan Ran?" Tanya Bian. Ia mengambil tempat duduk di sofa ruangan Aran. Keduanya sengaja mengunjungi Aran saat jam kerja karena mereka berdua gabut. Padahal Aran sendiri sedang sibuk. Memang mereka berdua tak berakhlak.
"Seneng lah, gila aja. Inceran gue" balas Aran sembari terkekeh.
"Tapi ya sebenernya gue gatau kalo bokap gue mau jodohin gue sama Chika. Kalo tau mah udah gue iyain dari dulu, hahaha" lanjutnya.
"Hoki seumur hidup lo kepake Ran, hahaha"
"Emang paling beruntung dah si Aran. Meskipun dapet janda anak satu, tapi kalo jandanya kaya Chika mah gue juga mau" ucap Bian
"Anjir, iya lagi. Hahahha" tawa Aldo meledak seketika mendengar ucapan Bian.
"Tai emang! Tapi bener sih, hahahaha"
"Tapi jujur deh, gue emang beneran udah sesayang itu sama dia dan anaknya, apalagi anaknya lengket terus sama gue" Aran membenarkan duduknya menjadi tegak seperti semula sembari mengotak atik layar komputernya.
"Kayanya Lo emang udah ditakdirin buat jadi bapak sambungnya. Anak selucu dia siapa coba yang gamau jadi bapaknya, apalagi emaknya juga cakep. ya gak do?"
"Betul" ucap Aldo memberikan jempolnya.
"Tapi nyokapnya Chika juga cakep banget cuy, kaya arghhh gila emang keluarga turunan bidadari" lanjut Aldo
"Naksir lo ama emaknya?" Bian melempar kulit kacang yang ia temukan di sela-sela sofa kepada Aldo.
"Ngadi ngadi emang bocah"
"Ya siapa coba yang ga ngakuin kalo Tante Shani tuh cantik? Masih awet muda pula, bahkan kaya masih seumuran sama Chika" ucap Aldo.
"Ya iya sih, Tapi Lo liat suaminya juga ganteng gitu. Satu keluarga emang visualnya bukan maen"
"Malah gibahin camer gue si anjir. Bodo ah, lu berdua kalo masih mau disini jangan macem macem ya, gue mau meeting dulu" ucap Aran berdiri sembari merapikan beberapa berkas dan laptop yang akan ia bawa ke ruangan meeting.
"Siap pak, aman kok kita berdua mah. Ga akan macem macem"
"Yaudah gue tinggal dulu"
"Yoai"
Aran berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang meeting. Ia membiarkan saja kedua temannya yang masih berada diruangannya, mereka berdua memang sering mengunjungi kantornya. Bahkan terkadang dua orang gabut itu sampai menunggunya pulang. Aran percaya mereka berdua tidak akan mecam macam, paling paling dua orang itu hanya menumpang tidur di ruangan pribadinya.
***
"Lo serius Chik?!"
Chika hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Wah gila sih sampe speechless gue dengernya"
"Lebay banget, biasa aja kali"
"Ya gue sih seneng aja gitu. Akhirnya Christy punya bapak baru"
"Mulut lu ya ka Eli!"
"Yakan bener, eh tapi Chik Lo sendiri gimana? Lo udah ada rasa ama dia?" Tanya Eli serius. Ia duduk di depan meja kerja Chika.
"Sedikit. Gue ngerasa nyaman aja kalo lagi deket dia, berasa lagi deket sama mas Vino" ucapnya
"Jangan bilang Lo mau sama dia karna berasa deket sama almarhum, bukan karena Lo suka sama dia?" Tanya Eli penuh selidik. Sedangkan Chika tidak menjawab, ia hanya mengindikkan bahunya acuh lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Married With You [END]
Conto[END] "Mau dengan siapapun kamu, bahkan bukan dengan aku sekalipun, kalau bukan dari diri kamu sendiri yang mau bebas dari masa lalu itu, kamu gak akan bisa" -A Just Fiction!!
![Married With You [END]](https://img.wattpad.com/cover/328521923-64-k871378.jpg)