"Rembulannya cantik banget."
Menikmati malam tenang tanpa suara bising kendaraan berlalu-lalang di jalan raya sedikit membuat telinga damai untuk beberapa waktu.
"Dan di sebelah saya tidak kalah cantiknya, malahan lebih cantik," ungkap Lucanne gamblang ikut menatap langit.
Merasa tersinggung, Anna pun langsung menoleh untuk menatap Lucanne. "Mulai," ucapnya dengan mata menyipit tajam.
Lucanne mengerutkan kening, "Mulai apa?" tanya Lucanne bingung.
"Ngegombalnya lah!"
Mendengar itu Lucanne ber-oh ria saja. "Gak juga, tidak pernah saya menekuni bakat itu," sergah Lucanne membantah.
"Masa? Kok aku baper?"
Ruh itu hanya mengacak rambutnya sendiri. "Sungguh. Kamu cantik dari sudut pandang manapun," celetuknya masih mengerlingkan mata genit.
"Kamu juga ganteng. Banget malah," puji Anna.
Ia terkekeh mendengar gadisnya memuji ketampanannya. Seperti menjadi hiburan tersendiri bagi dirinya. "Malah ketawa, aku serius loh," dengus Anna memanyunkan bibir. Kemudian mendongak menatap wajah Lucanne. Ah, tubuh ruh itu terlalu tinggi.
"Saya percaya, kok. Karena memang dari lahir saya sudah tampan," ucapnya jumawa sembari merunduk, menatap wajah Anna.
Anna menopang dagu sembari menatap langit, diikuti oleh sang hantu yang terus-terusan menatapinya intens.
Kalo ganteng, minimal jangan beda dimensi lah.
"Aku insecure deh," celetuk Anna tiba-tiba, Lucanne yang kebetulan sedang bergumam langsung mengedipkan mata.
"Insecure kenapa?" Lucanne merasa Anna sudah cukup sempurna di matanya.
"Hidung. Punya kamu mancung banget," sahut Anna. Oh, jadi alasan mengapa Anna insecure adalah melihat hidungnya? Begitukah?
"Saya malah insecure sama hidung kamu. Mungil dan sangat lucu. Seperti pemiliknya," balas Lucanne masih sibuk memegangi hidung Anna.
Keduanya tertawa setelah beberapa saat bertukar pikiran.
"Pengen deh aku tenggelamin ke dalam biar hidung kamu jadi pesek," kata Anna tersenyum licik.
"Lakukan saja kalau bisa. Hidung saya sudah pahatan dari sananya. Mau kamu modifikasi seperti apapun tetap tidak bisa," ucap Lucanne dengan suara lembut.
"Bulu mata kamu lentik, alis tebel luar biasa, hidung mancung, bibir cantik. Gak semua orang punya wajah kayak kamu. Sempurna banget sih," puji Anna belum sepenuhnya menilai. Tidak bisa, ia tidak bisa jika harus menilai. Karena terlalu ... sempurna.
"Jika sempurna, seharusnya saya bahagia, kan?"
Anna mengangguk takzim masih tidak lepas menatap wajah Lucanne. "Tetapi saya justru menderita. Wajah tampan saya, wajah sempurna saya malah menjadi malapetaka bagi saya." Lucanne tersenyum kecut.
"Kamu kecepatan sih lahirnya. Maaf, aku bikin kamu sedih Lucanne," sesal Anna kembali membuka luka lama ruh tersebut.
"Tidak apa-apa. Saya tidak merasa sangat sedih. Mungkin bahagia saya datang melalui perantara kamu," balas Lucanne meraih tangan Anna dan menciumnya sangat lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUCANNE [TAMAT]
HororBukan manusia maupun tokoh fiksi. Dia nyata hanya beda dimensi. Kalau masih ragu sama keaslian ceritanya, jangan terlalu dipikirkan, yang penting menghibur.
![LUCANNE [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/329403617-64-k160619.jpg)