"Maaf jika keputusan Anna membuat Ibu dan Ayah kecewa."
Ya, ia baru saja mengutarakan isi hatinya dan menolak untuk dijodohkan dengan baik-baik. Kedua orangtuanya memaklumi dan tidak mempermasalahkan jika sebuah penolakan yang mereka terima. Toh, pada dasarnya memang semua tidak ada unsur pemaksaan.
"Gapapa. Nduk jangan merasa bersalah ataupun sampai berpikir kami sangat kecewa. Apapun keputusan nduk ambil, kami terima kan, Yah?" senggol Ibu pada lengan Ayah.
"Bener. Nanti Ayah akan mengabari keluarga dia. Sejak dari awal memang ingin menyambung tali silaturahmi," timpal Ayah.
Anna menatap mereka dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih," lirihnya.
"ASSALAMUALAIKUM!"
Suara kencang nan cempreng dari arah luar membuat ketiga penghuni rumah terlonjak. Dengan tergesa mereka keluar rumah melihat siapa yang datang.
Wajah kesal Anna mendadak berubah binar. Rani dan Eva datang!
Mengapa tidak mengabarinya dulu?
Brukh!
Anna menubruk tubuh mereka dan memeluk begitu erat. "Kalian kapan datang dan kenapa gak kabar-kabar?" cecar Anna sambil mengurai pelukan.
Keduanya nyengir. "Surprise!"
"Aku ke Surabaya karena ada hal penting," jelas Rani.
"Aku juga balik ke Indonesia karena ada hal penting," timpal Eva.
Kok bisa bareng?
"Oh gitu, ayo masuk!" ajak Anna senang menggandeng tangan kedua sahabatnya.
"Gas!"
Saat melewati kedua orangtuanya Anna, mereka berdua mengedipkan sebelah mata penuh arti. Sengaja mereka ke Surabaya hanya demi Anna. Mendengar jika sahabat mereka terus-terusan di landa gundah gulana, akhirnya memutuskan untuk menemani Anna sementara waktu.
Tidak bisa lama, mungkin dua hari saja. Kuliah mereka juga penting. Apalagi Eva yang berkuliah di luar negeri.
Kamar Anna masih sama sejak satu tahun setengah mereka masih bersekolah. Rapi, wangi dan bikin betah siapa saja yang tidur di sini.
Untuk membahas Lucanne, mereka pikir nanti saja. Sekarang menikmati waktu bertiga yang entah kapan bisa di ulang lagi nanti.
"Kuliah kamu gimana, Na?" tanya Eva basa-basi sambil menghitung buku-buku tebal di rak.
"Baik. Kalian gimana?" balas Anna mengambil duduk di karpet.
"Baik juga," balas Rani.
"Semenjak kuliah aku udah jarang liat do'i konser dan kegiatan mereka," kata Anna yang dimaksudkan do'i adalah member Stray Kids.
"Yo'i sama aja. Sibuk bikin makalah, ppt dan tetek-bengek lainnya," kekeh Eva.
"Kamu enak mau lihat secara langsung pun bisa," ucap Rani. Oh iya, kan Eva berada di Korea.
"Hehe, iya, sih. Cuma sering gak sempet. Apalagi sekarang aku oleng ke drachin," balas Eva santai.
Hadirnya Eva dan Rani membuat Anna bahagia, setidaknya tidak ada air mata lagi yang perlu keluar. Ia bisa memendamnya sendiri. Semalam ucapan Lucanne ia cerna baik-baik, jika Lucanne bisa menerima maka Anna harus bisa ikhlas.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUCANNE [TAMAT]
HorrorBukan manusia maupun tokoh fiksi. Dia nyata hanya beda dimensi. Kalau masih ragu sama keaslian ceritanya, jangan terlalu dipikirkan, yang penting menghibur.
![LUCANNE [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/329403617-64-k160619.jpg)