Anna ...
Jam pasir mainan jatuh dari tangan. Kepala menoleh ribut mencari sumber suara berasal. Di kamarnya hanya ada ia seorang tanpa siapa-siapa.
Mengabaikan lalu kembali fokus menatap jam pasir yang jatuh tergeletak di lantai. Malas ingin meraihnya, "Ck! segala pake jatuh lagi," sungut Anna.
Karena kamu kurang fokus.
Memastikan bahwa indera pendengaran tidak bermasalah, Anna menggosok kedua daun telinganya. Ketika benar-benar fokus, entah kenapa suara itu tidak kembali terdengar.
"Astaghfirullah, kan, hari ini aku ada janji sama Kak Sonya!" pekik Anna beranjak dari tempat duduk. Menyisir rambut lalu mengaplikasikan make up tipis agar lebih terlihat fresh.
"Ibu, Ayah, Anna mau keluar bentar ya," pamitnya menghampiri kedua orang tuanya yang sedang mengobrol.
"Loh, mau ke mana?" tanya Ayah sembari memberikan sebuah uluran tangan.
Anna menerimanya lalu mencium punggung tangan tersebut, "Ketemu sama Kak Sonya," jawabnya.
"Di mana?" Ibu bertanya sejak tadi menyimak.
"Cafe. Gak akan lama, kok."
Setelah berhasil mengantongi izin dari mereka, Anna bergegas meraih kunci motor. Tidak lupa memakai helm. Terhitung sudah hampir satu bulan Anna mencoba berdamai dengan keadaan. Walau kerap kali terlihat melamun seorang diri, Anna berusaha menguasai dan mengendalikan emosi.
Saat di lampu merah, ponsel berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk.
Kak Sonya
Anna, kakak sudah sampai.
You
Wait, kak! lgi otw nih.
Kak Sinta
Aku shareloc cafe nya.
You
Oke.
Anna memperbesar layar dan melihat titik lokasi yang baru saja Sinta bagikan. Setelah paham, ia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku. Rambu lalu lintas kembali berubah menjadi hijau.
Sesampainya di cafe, kepala Anna celingukan. Sebuah lambaikan tangan mengintrupsi atensi. Ia manggut-manggut, "Di sana."
Sinta sudah duduk sambil membaca buku menu. Anna mendudukkan diri di kursi yang berhadapan dengan Sonya.
"Maaf ya Kak, agak lama," ucap Anna tersenyum kaku.
"Gapapa, jalanan macet gak?" balas Sonya seraya menutup buku menu sembari menggeleng lemah. Kemudian ia mempersilakan Anna untuk duduk.
"Enggak juga sih, untungnya aku bisa cepet. Kelupaan sih," papar Anna beralasan.
Sonya menggeleng lemah, sedari tadi tatapannya tidak lepas ketika Anna mendudukkan diri di depannya yang bersekat meja.
"Kenapa Kak? Ada yang salah ya sama pakaian aku?" tanya Anna ketika tidak sengaja melihat Sonya yang sedari tadi diam.
"Enggak ada yang salah sih, cuma Kakak mau tanya sesuatu ke kamu," jawab Sonya menatap netra Anna.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUCANNE [TAMAT]
HorrorBukan manusia maupun tokoh fiksi. Dia nyata hanya beda dimensi. Kalau masih ragu sama keaslian ceritanya, jangan terlalu dipikirkan, yang penting menghibur.
![LUCANNE [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/329403617-64-k160619.jpg)