Chapter Twenty Three

8.3K 625 7
                                        

Usai memasuki pintu gerbang sekolah, pemandangan pertama kali Anna lihat adalah siluet seseorang tengah berlari cepat menghampirinya. Dalam hitungan detik siluet itu sudah sampai dan menubruknya. "Kangen!"

Ya, dia adalah Rani. Setelah sekian purnama akhirnya bertemu juga dan bisa memeluk satu sama lain. Anna menepuk pelan pundak Rani untuk mengurai pelukan, terlalu sesak.

"Kamu mau bunuh aku, hah?" ucapnya usai pelukan di lepas.

Rani nyengir lebar, "Sorry-sorry. Btw, apa kabar?"

Anna mengulas senyum sambil menaikkan tali ransel ke atas pundak, "Alhamdulillah kabar aku baik. Kamu sendiri, gimana?" balas Anna.

"Alhamdulillah baik juga. Agak gimana gitu rasanya pas tau si Eva pindah," balasnya menatap sendu.

"Bener. Aku ngerasa kalo kurang lengkap tanpa dia." Anna membayangkan jika masih ada Eva di sini. Pasti pelukan ala Teletubbies bertambah lengkap dan pastinya menjadi sorotan para anak-anak lain.

"Pengap sebenarnya pake masker," adu Rani menurunkan masker lalu memakainya kembali, takut jika ketahuan lepas masker di tegur guru.

"Iya, kurang bebas hirup udaranya," timpal Anna.

Mereka berjalan menuju kelas masing-masing. Ini hari pertama ulangan dan mapel agama. Anna sudah mempelajarinya semalam, sekarang hanya perlu di ulang dan mengingat-ingat poin penting sesuai Lucanne ajarkan.

"Fokus banget, Mbak!" ujar Rani sambil duduk di depan Anna.

"Iya dong! Biar dapet nilai di atas KKM," balas Anna semangat.

"Bener, bentar aku mau tanya dong!" celetuk Rani berbasa-basi. Raut wajahnya tampak serius, Anna menutup bukunya sebentar.

"Mau tanya apa?"

"Kamu masih ada hubungan sama hantu Belanda itu?" bisik Rani.

"Masih, ada apa?" jawab Anna lirih.

"Dia gak jahat sama kamu, kan?" Rani menatap khawatir.

Anna terkekeh melihatnya. "Dia baik, kan, aku udah pernah bilang dia gak jahat, dia baik banget sama aku," ujarnya masih terkekeh kecil.

"Aku takut aja, denger kamu jawab gini, kan, Alhamdulillah. Kamu baik-baik aja," papar Rani lega.

"Iya, makasih udah khawatir kan aku."

"Kalo ada masalah, jangan sungkan cerita ke aku. Mungkin gak bisa kasih solusi yang tepat, tapi setidaknya aku bisa jadi sahabat terbaik buat kamu, Na."

"Sweet banget sih, iya, iya. Kamu juga, jangan di pendem sendiri, ntar busuk."

Mereka melanjutkan belajar sampai suara bel masuk mengintrupsi dan satu-persatu di antara mereka mulai memasuki ruang ujian. Saling support juga akan belajar bersama nanti.

Kini Anna sudah duduk anteng menunggu guru berjalan membagikan kertas ulangan. Memejamkan mata sejenak merapal doa-doa.  Semoga kali ini apa yang tadi di pelajari akan keluar.

"Anna, semangat!" suara bisikan lembut dari belakang membuat Anna tersentak lalu menoleh.

"Lucanne," gumamnya lirih.

Lucanne melambaikan tangan, "Hai. Saya disini buat kasih semangat kamu," ujarnya memberikan kepalan tangan mengudara.

"Silakan kerjakan masing-masing!" suara guru membuat atensi mereka pada kertas. Tidak berani menoleh ke kanan kiri, karena guru pengawasnya sangat galak.

"Baik Bu!" jawab mereka serempak.

Anna mulai membubuhkan tinta pulpen ke atas lembar kertas jawaban. Menyilang salah satu huruf saat menjawab pertanyaan bentuk pilihan ganda. Beruntung, karena dari semua yang ia pelajari, setengahnya bahkan lebih keluar.

LUCANNE [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang