Zas

79 3 0
                                        

JANGAN LUPA VOTE TERUTAMA KOMEN
BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN MAKIN BAGUS TULISANNYA.


.



Meskipun hari sudah larut namun Xavier masih belum menutup kios kecil yang menjadi tempat mata pencahariannya, masih ada beberapa orang juga yang sejak sore sudah diam duduk disana karena motor mereka rusak di tengah perjalanan yang hanya di isi kanan dan kiri pohon pinus.

Juga ada satu motor yang baru saja datang untuk tambah angin.

"Alhamdulillah" batinnya.

"Masih lama bang?" Kata anak SMA yang dari penampilannya keliatan akan naik gunung.

"Bentar lagi nih, soalnya bocor halus. Nih juga ban nya jangan di paksa perjalanan jauh udah tipis banget" terang Xavier sambil memanaskan ban untuk di tambal.

"Bang isi angin!" Seorang lagi datang, seperti warga sini. "Bentar bang" jawab Xavier terburu buru.

Sambil menunggu ban dari pengendara yang ingin naik gunung itu panas meleleh untuk kembali di tambal, Xavier berjongkok untuk menekan ban depan lalu ban belakang pria yang baru datang ingin mengisi angin saja.

Sssttttttt.....

Ssttttt......

"Berapa bang?"

"Dua ribu per ban, karna dua ban jadinya empat ribu bang"

"Yah..... Cuman bawa uang tiga ribu bang" ungkap pria itu menyesal sebab uangnya kurang untuk mengisi angin.

"Ya udah gapapa bang, orang mana bang?" Tanya Xavier penasaran. "Orang kampung Bayu, samping ini lho bang gak sampai 10 menit dari sini"

"Ohh orang kampung Bayu tohh.... Ya udah bang gapapa lagian besok isi angin lagi disini" guyon Xavier. Dia ingin bengkel nya ramai terus seperti ini agar keuangan nya membaik sebab ada ekor yang harus ia isi jengkal perutnya.

Ia ingin punya banyak customer baik warga kampung sini ataupun orang asing yang sekedar lewat sebab bengkel miliknya ini tepat di pinggir jalan lintas di hiasi pohon pinus kanan dan kiri sehingga banyak pengendara yang ingin bepergian jauh apalagi melewati hutan pinus yang panjang menyempatkan berhenti di bengkel Xavier sekedar untuk mengisi angin.

Benar.

Xavier membuka bengkel kecil kecilan dari uang hasil menjual motor kesayangannya yang ia beli di Mandalika 4 tahun lalu sehabis menonton MotoGP.

Bahkan motor yang Xavier pakai selama ini adalah motor yang sama di pakai oleh pembalap MotoGP juara 1 di setiap musim selama 11 tahun berturut-turut.

Ia terpaksa jual karena saat itu butuh uang untuk operasi separuh hidupnya.

Meskipun sayang terhadap motor itu, Xavier tentu tahu harus memilih mana ketika situasi rumit seperti kemarin.

Sudah pukul 21.48
Namun bengkel ini masih terang benderang diantara gelapnya hutan.

Dari jauh nampak seorang wanita berjalan goyah di setiap langkah menapak kerikil kecil yang bisa saja membuat nya terjatuh.
Xavier masih sibuk memasukkan ban dalam untuk di pasang kembali setelah di tempel. "Vier....." Lembut suara wanita yang jaraknya masih 300 meter di ujung sana.

Namun Xavier tahu itu suara siapa, panik ia mencari sumber suara wanita kecintaannya.

"Zas? Ngapain kesini?" Buru buru ia menghampiri untuk memapah wanita manis di dekapannya itu.

"Kamu jalan kaki dari rumah kesini? Anak anak sama siapa? Aku masih ada customer dari tadi" jelasnya agar wanitanya tak usah bertanya lagi kenapa Ia lama sekali pulangnya padahal di hari biasa pukul 18.00 adalah waktu terlama untuk Xavier kembali pulang kerumah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 01, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

XAVIER (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang