part 9

70.4K 3.6K 44
                                        

Melihat Lyora yang duduk dipojok kantin, Noel segera menghampiri dan duduk didepannya. Wanita itu tetap menelungkupkan kepalanya di meja, tidak menyadari kehadiran Noel walau suara kursi yang digeser pria itu harusnya mampu menyadarkannya.

Noel menatap Lyora dengan kening berkerut. Menilai sikap temannya itu beberapa hari belakangan. Ia mengulurkan tangannya menepuk kepala Lyora.

Mendapat tepukan itu, Lyora tersentak dan segera mengangkat kepalanya. Setelahnya wanita itu mendengus melihat ternyata Noel yang melakukan itu.

"Aku yakin kalaupun ada kebakaran disini, Kau akan tetap duduk manis" Sindir Noel

Lyora mendelik dan menyampirkan rambut ketelinganya. Ia mencabut airpods yang terpasang dikedua telinganya. Kemudian menodongkan kedua airpods itu tepat didepan mata Noel.

"Ada apa denganmu?" Karena sepengetahuannya, Lyora bukanlah seseorang yang suka untuk menyumbat telinganya ditengah keramaian.

"Tidak ada apa-apa. Memangnya ada yang salah dengan mendengarkan musik disiang hari?"

Bohong

Lyora berbohong. Airpods itu sama sekali tidak menyala, hanya terlalu banyak hal dipikirannya hingga tidak menyadari sekitarnya.

"Kau kehabisan uang? Atau karena Ayahmu?"

Mendengar pertanyaan Noel, Lyora merubah rautnya secepat mungkin. Noel sangat peka, kalau Lyora tidak cepat mengatasi situasi ini. Pria itu akan terus bertanya hingga akhirnya Lyora akan keceplosan dan mengatakan semuanya.

"Daddy, you want to give this little girl money?" Lyora menggoda Noel dengan tatapan polosnya

"Hentikan. Kau menjijikan"

Noel meraup wajah Lyora, menjauhkan wanita itu darinya. Sedangkan Lyora tertawa lebar mendapat reaksi seperti itu dari Noel.

....

Hari ini merupakan hari terakhir UAS. Noel dan Lyora berjalan berdampingan di lorong gedung fakultas. Hingga tiba di lobby gedung, terdapat Edmund yang sepertinya tengah menunggu Renata.

Noel menunggu Lyora melepaskan rangkulannya dan berlari kepada Edmund. Tetapi itu tidak terjadi. Lyora sama sekali tidak berhenti dan mereka tetap berjalan menuju parkiran mobil.

"Kau sedang memainkan play hard to get?"

Lyora terdiam sejenak sebelum membalas "Ya, bisa dibilang seperti itu"

"Play hard to get harusnya dimainkan jika Edmund memiliki perasaan kepadamu hanya saja pria itu denial dengan perasaannya. Melihat sikap Edmund selama ini, Aku rasa-"

"Kenapa Kau cerewet sekali hari ini?"

"Aku hanya membiarkannya kali ini. Lagipula minggu depan Aku memiliki waktu setiap hari untuk bersama Edmund dan tidak akan ada Renata"

"Berapa lama Kau pergi?"

"Satu minggu. Kenapa? Kau takut merindukanku ya?" Lyora menaikan alisnya menggoda Noel yang mendengus jijik.

Ia akan tetap pergi ke Prancis menonton pertandingan Edmund. Selain karena Ia sudah menghabiskan banyak tabungannya untuk tiket pesawat dan hotel. Ia rasa butuh untuk pergi liburan kali ini untuk menghilangkan bayangan-bayangan yang terus menghantui pikirannya.

Semoga saja setelah Ia kembali, pikirannya akan kembali jernih seperti semula.

Noel menyentil dahi Lyora keras "Lebih baik Kau pikirkan sidang akhir nanti"

"Hei.. sidang itu masih 3 minggu lagi. Setelah Aku pulang dari sana, Kau harus mengajariku"

Lyora sudah merampungkan tugas akhirnya. Saat ini Ia tinggal menunggu jadwal sidang.

"Tidak. Lebih baik Aku belajar untuk sidang akhirku dari pada membantumu tanpa mendapat apa-apa"

Mulut Noel memang memuntahkan penolakan. Tetapi pada akhirnya Ia akan tetap mengajari wanita itu, walaupun jadwal sidangnya hanya berbeda 2 hari dari Lyora.

"Tenang, sayang. Aku akan memberimu banyak kecupan jika Aku lulus nanti"

Lyora tertawa lebar dan segera berlari menghindari Noel menuju mobil Noel.

....

Mobil milik Noel sampai di sebuah rumah yang cukup besar, berlantai dua dengan sentuhan klasik. Setelah mampir makan siang disebuah kafe, Noel bertanya kepada Lyora, apakah wanita itu ingin mampir ke suatu tempat lagi. Pertanyaan Noel hanya dibalas gelengan, Lyora berkata ingin tidur di rumah.

Sebelum Lyora menurunkan kakinya, Noel menahan tangannya. Lyora kembali menatap Noel dan mengernyit melihat sebuah kartu diulurkan kepadanya.

"Ambillah. Aku berbaik hati kali ini"

Lyora mengerti maksud pria itu. Ia menyunggingkan senyumnya lebar. "Jadi pria bodoh ini benar-benar mengira Aku kekurangan uang sedari tadi ya?" Pikir Lyora dalam hati.

"Oh my god, Aku terharu. Entah apa yang Aku perbuat dulu. Hingga bisa memiliki seseorang seba-"

Noel segera membekap mulut Lyora karena muak mendengar kata-katanya yang berlebihan itu. Namun, wanita sinting itu malah mengecup basah telapak tangannya membuat Noel langsung menarik tangannya.

Sontak tawa Lyora terdengar kencang. "Kau yakin tidak menyesal memberikan kartumu ini padaku?"

"Cepat turunlah" Noel mendorong Lyora agar wanita itu segera keluar dari mobilnya.

"Okay, daddy. Terimakasih banyak. Baby-"

Noel membunyikan klakson dengan keras. Hal itu membuat Lyora semakin tertawa, Ia menuruti Noel untuk keluar dari mobilnya dan setelah Ia menutup pintu, Pria itu langsung menancap gas.

Sisa tawa itu semakin redup melihat mobil Noel yang semakin tidak terlihat. Lyora kembali memutar kejadian itu dikepalanya.

Mungkin Edward memang benar. Ia adalah perempuan murahan yang tidak tahu diri, memaksa untuk memiliki Edmund.

Ia menghembuskan napasnya lelah. Sepertinya Ia harus memanfaatkan waktu satu minggu kedepan untuk menyegarkan pikirannya. Sebelum harus menghadapi sidang akhirnya dengan hasil memuaskan. Ya, harus memuaskan karena dengan hasil memuaskan pun. Ayahnya tidak akan memujinya, apalagi dengan hasil pas-pasan.

Tbc

Blame The Cupid [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang