part 15

74.2K 4.2K 129
                                        

5 years later...

"Mama pusing denganmu, Edward"

Diseberang sana Edward hanya fokus pada makan siangnya, tak menanggapi ibunya.

Ayahnya tiba-tiba menghubunginya tadi pagi. Dan setelah Ia menjawab panggilan itu, bukanlah suara Arnold yang terdengar melainkan suara Sofia, Ibunya yang belakangan ini menerornya dengan pesan maupun panggilan.

Sofia mendramatisir keadaan, mengatakan kalau Edward sudah malas berhubungan dengan ibunya karena tidak menjawab ataupun membalas pesannya.

Memang Edward sengaja melakukan itu. Karena semua pesan dan panggilan Sofia pada intinya hanyalah memaksanya untuk segera menikah.

Tak ingin membuat Sofia memperpanjang drama yang dibuatnya. Edward mengikuti kemauan Ibunya untuk makan siang dirumah.

"Umurmu sudah 34 tahun. Kapan lagi Kamu mau menikah dan memberi mama cucu? Umur mama mungkin sudah tidak lama lagi"

"Sofia" Bentakan itu keluar dari bibir Arnold. Ia memang tidak ingin ikut campur tetapi Ia sangat tidak suka jika Sofia sudah membawa-bawa kematian.

Edward menahan dirinya untuk tidak tertawa melihat ibunya mendadak ciut didepan sang ayah.

"Makanya Kamu suruh Edward untuk menikah. Bahkan Sasha pun sudah setuju, tetapi anakmu itu keras kepala"

"Aku dan Sasha hanya berteman, ma"

"Justru itu. Kalian sudah mengenal sejak kecil. Akan lebih mudah untuk kalian hidup bersama. Lagipula selama ini Kamu tidak dekat dengan wanita manapun kecuali Sasha. Memangnya Kamu punya wanita yang kamu sukai?"

"Tidak ada"

"Nah, pokoknya mama mau kamu melamar Sasha"

"Ma, kenapa mama tidak menjodohkan Edmund saja?" Rengek Edward

Edmund memang sudah tidak berhubungan dengan Renata. Adiknya itu ternyata selama ini diselingkuhi dan hanya dimanfaatkan oleh kekasih Renata yang sebenarnya.

"Jangan membawa Edmund. Lagipula usiamu jauh lebih tua"

"Tidak ada bantahan. Mama akan mengurus pertunanganmu dengan Sasha" Lanjut Sofia

Edward hanya mampu menghempaskan punggungnya ke kursi. Terserahlah, Ia hanya akan mengikuti saja keinginan ibunya.

....

"Wow. Big cotton candy"

"Daddy No?" Mata bocah perempuan berusia 4 tahun itu berbinar persis dengan seseorang yang sangat Ia kenal.

Sore ini mereka bermain disebuah taman tak jauh dari rumah. Noel menghembuskan napasnya "Itu tidak dijual, sayang"

"Why?"

"Itu hanya pajangan. Tidak bisa dimakan" Memang permen kapas dengan ukuran besar itu hanyalah hiasan saja. Bagaimana bisa bocah ini meminta Noel untuk membelikannya.

Seketika itu juga mata bulat bocah itu berubah menjadi berkaca-kaca. Membuat Noel mensejajarkan tingginya.

"Hey, baby girl. Jangan menangis. Daddy No tidak bohong"

Noel mengusap pipi gembil bocah itu "Kita cari penjual cotton candy ya? Daddy akan membelikanmu"

"Benar?"

Noel mengangguk sambil tersenyum hangat. Dan bocah kecil itu menghambur dalam pelukan Noel.

"Aku mau beli 10"Pekik anak itu heboh, seolah olah beberapa detik yang lalu bocah itu tidak menangis.

Blame The Cupid [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang