Sejak pukul 5 sore, Edward sudah kembali ke penthouse nya. Sesuatu yang mustahil terjadi kecuali akhir-akhir ini ketika Lili tinggal bersamanya.
Ia sama sekali tidak berniat untuk keluar lagi. Tubuhnya kelelahan dan mood nya sedang tidak dalam keadaan yang bagus.
Tentu saja penyebabnya ialah Lyora sendiri. Wanita itu mengusirnya secara terang-terangan dan tanpa basa-basi. Awalnya Edward tak peduli, Ia tetap memasuki rumah milik Kathrine itu dengan lenggang.
Namun, kehadirannya diabaikan. Sama sekali tidak dihiraukan baik oleh Lyora maupun Lili yang asik bermain dengan Noel.
Sebenarnya Lili tidak mengabaikannya, hanya saja bocah itu bermain diatas karpet dengan Noel. Sedangkan Edward duduk diatas sofa terlalu malas untuk ikut duduk disana karena Noel.
Kepala Edward semakin memanas ketika Lyora datang bergabung dengan mereka sambil membawakan camilan. Hingga tanpa diusir lagi, Edward pulang demgan sendirinya.
Lili menghampirinya sambil mengecup pipinya ketika akan pulang. Ya, sikap manis putrinya itu membuat kekesalan Edward sedikit menguap.
Dan kini, Ia hanya ingin tertidur dikasurnya yang terdapat banyak mainan Lili diatasnya.
Rasanya baru sebentar Edward merasakan kenikmatan ranjang empuknya. Bel penthouse nya berbunyi terus menerus.
Hanya ada satu kemungkinan siapa pelaku dibaliknya yang dapat mengakses untuk naik ke penthousenya dengan mudah.
Nyonya Sofia yang terhormat
Karena tak mungkin jika pelakunya adalah Edmund. Adiknya itu tak perlu menekan bel karena mengetahui pin aksesnya.
Edward mendesah lelah ketika melihat lewat intercome kalau benar Sofia yang berada didepan pintunya.
Sejak diberi kabar kalau Lili dibawa ke rumah sakit yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh keluarganya. Edward sudah dapat menebak kemungkinan Ibunya akan segera tau tentang keberadaan Lili.
Tetapi tak bisakah ibunya itu menunggu sampai hari esok?
Ketika Edward membuka pintu. Wajah ibunya itu seolah ingin menelan Edward hidup-hidup. Sedangkan ayahnya, hanya berdiri tanpa raut apapun sambil merangkul ibunya.
"So, how phi phi island? Is it that great?" Tanya Edward begitu melihat ibunya yang datang dengan ayahnya.
Sofia tak menanggapi Edward. Wanita itu duduk di sofa sambil mengipaskan wajahnya yang panas dan menatap tajam ke arah Edward.
"Yeah. As you know. Your wish come true" Kata Edward akhirnya tanpa beban
"Where's your mind? Kenapa Kamu menyembunyikannya selama ini"
"Technically. Aku pun baru tau. Aku sama sekali tidak menyembunyikannya"
Jawaban Edward membuat sakit kepala Sofia bertambah.
"Aku tidak mendidik mu untuk menjadi pria yang tak bertanggung jawab"
"Aku sudah menawarkan itu. Tetapi ibunya menolak diberi tanggung jawab"
"Bawa mama ke sana"
Edward melebarkan matanya mendengar permintaan Sofia "Ma"
"Cepat"Perintah Sofia galak
"Besok. Aku janji besok" Jawab Edward sambil melirik ke arah Arnold yang sama sekali tak membantu.
Namun, tatapan tajam Sofia kearahnya membuat Edward mengalah.
Dengan napas lelah Edward terpaksa menuruti keinginan ibunya.
Setelah itu Ia meminta Sofia untuk menunggu sebentar. Edward pergi ke kamarnya untuk membasuh wajah kuyunya dan berganti baju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blame The Cupid [Completed]
Chick-LitKeterkejutan nampak diwajah Lyora. Seolah darah tersedot dari tubuhnya. Wajahnya pucat pasi menyadari siapa pria yang saat ini tertidur disampingnya. Bagaimana tidak? Ia berencana menjebak Edmund Leonard tapi mengapa yang ada di kasur bersamanya it...
![Blame The Cupid [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/233876871-64-k683373.jpg)