part 38

56K 3.6K 377
                                        

Setelah semalaman di rawat, kondisi Lyora sudah sangat membaik. Ia tak lagi merasakan sakit pada ulu hatinya akibat asam lambung yang menyiksa.

Pagi-pagi tadi suster sudah melakukan visit. Mengecek dan menanyakan keadaan Lyora. Suster itu berkata kalau Lyora kemungkinan bisa pulang siang ini sambil nanti menunggu dokter yang akan mengkonfirmasi keadaannya.

"Aku sudah sembuh"

"Kau itu selalu menghindariku setiap membuat masalah. Kenapa? Kau sudah tidak menganggapku lagi ya?"

Lyora memberengut sebal. Ia sedang mengangkat panggilan video dari Noel. Setelah semalam menolaknya berkali-kali dengan alasan kalau Ia sedang membuat pesanan dan Lili sudah tidur.

Alasan klasik Lyora tiap kali menghindari Noel. Seperti kejadian kemarin waktu Ia bermasalah dengan Edward.

Dan Noel tak percaya begitu saja karena biasanya Lyora akan tetap mengangkat panggilan darinya. Membuat pria itu akhirnya menghubungi Kathrine.

"Membuat masalah? Aku itu sakit. Memangnya Aku tak boleh sakit?" Rutuk Lyora.

Noel pun memasang raut kesal disebrang sana "Bukan begitu. Tapi Kau selalu menyepelekan kesehatanmu. Itu yang menjadi masalah"

Ekhem

Ekhem

Ekhem

Suara dehaman berkali-kali itu berasal dari pria yang baru saja bangun dari tidurnya dan duduk disofa. Membuat Lyora mengalihkan pandangannya dari layar handphone. Memberikan lirikan sinis pada Edward.

"Bukannya Kau sendirian disitu?"

"Hm. Itu hanya petugas yang mengantarkan sarapanku"

"Oh. Baiklah. Aku akan kerumah mama saat pulang nanti" Ucap Noel. Pria itu memang sedang berada di luar kota disebuah daerah pegunungan untuk melihat tanah perkebunan yang akan dibelinya.

"Jangan bekerja terlalu keras lagi. Kau tak kasian pada Lili? Anakmu itu masih menangis saat Aku menelpon mama tadi pagi"

Lyora menjawab dengan murung. Ia bisa membayangkan Lilliane, putri semata wayangnya itu pasti menangis saat terbangun tadi pagi dan tidak ada dirinya. Atau bocah itu mungkin menangis sejak semalam.

Setelah mematikan panggilan itu, Lyora termenung. Ia merasakan bola matanya berkaca-kaca. Sebelum kembali memasang raut datar karena ada Edward diruangan ini.

Dan pria itu masih menatap lekat ke arahnya membuat Lyora kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.

Tak lama keheningan itu melanda. Pintu ruangan Lyora diketuk. Kali ini sepertinya petugas yang mengantar sarapan. Lyora tak berniat membuka selimut karena airmatanya masih mengalir. Lagipula ada Edward yang bisa menerima sarapan itu.

Lyora menyusut air matanya sambil memikirkan Lili. Setelah ini, Ia berjanji pada dirinya sendiri agar tidak terlalu sibuk dan mengabaikan bocah kecil itu.

Dirasa cukup tenang, Lyora membuka selimut dan langsung tersentak karena ada Edward tepat disamping brangkarnya. Bahkan pria itu masih memegang nampan sarapan Lyora.

'Sejak kapan pria itu ada disampingnya?' Rutuk Lyora dalam hati.

"A-pa?" Suara Lyora terdengar gugup.

Edward menaikan sebelah alisnya "Sarapanmu, Nyonya"

Lyora tau kalau pria itu menyindirnya. Tetapi masa bodoh dengan sindiran sinis pria itu. Karena tak mungkin Lyora mengatakan kalau Ia berada dirumah sakit dengan ditemani oleh ayah kandung dari putrinya itu pada Noel. Walaupun sebenarnya tak ada masalah juga tetap saja Lyora malas untuk mengatakan keberadaan Edward.

Blame The Cupid [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang