Edward baru saja mendarat di Prancis. Ia pergi seorang diri untuk menonton pertandingan Edmund esok hari.
Ayah dan Ibunya tidak datang karena salah satu saudaranya akan menikah besok. Sehingga Edward pun harus mengosongkan jawalnya yang padat hingga dapat tiba disini.
Edward belum sempat menghubungi Edmund untuk mengabarkan Ia sudah tiba.
Lagipula tidak mungkin Edward tidur di Kamar Edmund. Walaupun adiknya memesan tipe royal suite yang memiliki dua kamar didalamnya.
Ya, tidak mungkin. Karena Edmund membawa turut serta kekasihnya, Renata. Dan Edward tidak ingin menganggu aktifitas sepasang manusia yang tengah kasmaran itu.
Dan saat ini dengan kartu kamar yang sudah berada ditangannya setelah melakukan reservasi di resepsionis tadi. Edward menuju lift. Namun, matanya menangkap kehadiran wanita yang nampak tidak asing.
Wanita itu tampak lesu, Apa karena Ia melihat Edmund bersama Renata tadi di pertandingan bebas?
Edward mendecih dalam hati. Ia berada tepat disamping wanita itu, tetapi wanita itu sama sekali tidak menyadarinya.
Hingga lift berdenting dan Ia mengikuti Lyora masuk. Edward bahkan tidak menekan tombol kamarnya. Ia hanya berdiam diujung memperhatikan lift yang membawa naik mereka berdua. Hingga tiba dilantai tujuh dan Lyora keluar.
Berjalan dibelakang Lyora dengan tenang. Hingga wanita itu terdiam kaku dan berhenti.
Edward ikut berhenti dan tidak melakukan apapun hingga wanita itu meliriknya.
Keterkejutan di wajah Lyora membuat Edward menampilkan seringainya.
"Still havent given up over my brother, Lyora?"
"Rencana busuk apalagi yang akan Kau lakukan?"
Edward memajukan tubuhnya memepet Lyora yang semakin mundur menghindari Edward. Hingga Edward menahan pinggang Lyora yang menjadi semakin kaku.
"Apa Kau sangat terobsesi untuk merasakan sentuhan Adikku, Lyora?"
Bisikan Edward ditelinganya membuat Lyora merinding. Pria itu meniup wajahnya membuat Lyora menutup matanya.
Bruk
Tas yang digunakannya jatuh begitu saja karena tangannya yang gemetar. Isi dari tas miliknya berhamburan keluar karena belum sempat ditutup.
Lyora memberanikan dirinya untuk menatap Edmund dan meminta belas kasihan lewat sorot matanya.
Baru saja Ia akan menunduk untuk membereskan tasnya. Pria itu sudah terlebih dahulu berjongkok dan melihat isinya.
Tidak banyak memang, Lyora hanya membawa passport, handphone, dompet serta-
"7102. We're arrived at your room, sweetheart"
Edward menyeringai sambil memegang kartu akses Lyora yang bernomor 7102 dan mereka saat ini memang sudah berada didepan kamar Lyora.
Pria itu menyerahkan tas milik Lyora yang sudah Ia rapihkan. Kemudian menempelkan access card dan pintu terbuka.
Ia membuka pintu dan menyuruh Lyora masuk lewat tatapan matanya. Tetapi Lyora hanya terdiam kaku.
Jujur Ia sangat takut pada Edward. Dan saat ini pria itu memintanya untuk masuk ke dalam.
'Yang benar saja' Teriak Lyora dalam hati
Otak kecilnya berusaha memikirkan jalan keluar. Baru saja Ia akan berlari menuju lift. Edward sudah kembali dihadapannya dan menyorot tajam dirinya.
Membuat Lyora semakin menciut. Ia terpaksa masuk ke dalam kamarnya dan Edward segera menutup pintu.
"Kenapa? Kau berniat untuk menghampiri Edmund dikamarnya?"
"Aku rasa dari kamar yang Kau sewa ini. Kau tidak mampu untuk mendapat akses menuju lantai Edmund"
Lyora mengerang dalam hati 'Jadi pria ini mengatakan Aku miskin hingga tidak bisa menyewa kamar dengan tipe yang sama dengan Edmund. Walaupun memang pria ini benar, AKU TIDAK MAMPU. Lalu apa masalahnya?'
"Kalau begitu kenapa Kak Edward masuk ke kamar kecilku dengan tipe termurah yang ada dihotel ini?" Tantang Lyora
Edward terkekeh, rupanya wanita yang sudah Ia renggut miliknya itu mulai berani melawan.
"Apa kamu mau bermain dikamarku? Mungkin saja kita akan bertemu Edmund. Tapi rasanya Ia tidak akan peduli karena sedang menikmati waktu dengan kekasihnya"
Lyora melihat kartu yang Edward keluarkan. Kartu berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas bertuliskan 'Royal suites'
"Edmund Edmund Edmund. Kenapa Kakak terus membahas Edmund? Kalau kakak curiga Aku akan melakukan sesuatu. Sekarang Aku tegaskan, Aku bersumpah tidak akan menganggu Edmund lagi" Teriak Lyora dihadapan wajah Edward.
"Dan Kau pikir Aku percaya? Kau mengerikan Lyora. Bahkan setelah Aku menandai mu, Kau masih nekat terbang kesini dan memesan hotel yang sama dengan Edmund" Edward mencengkram dagu Lyora dan menatapnya nyalang.
"You're a slutty stalker girl"
Tangan Lyora yang terbebas menampar pipi Edward keras. Pria itu hanya menatapnya sinis dan mengeratkan cengkraman tangannya.
"Why? Kau tidak terima? Kau memang tidak tau malu, Lyora. Bukankah yang Aku katakan benar, slutty stalker girl. Karena sikapmu yang tidak tau malu itu mengejar Edmund"
"Bahkan Aku tidak percaya Kau masih perawan waktu itu, kalau bukan Aku yang mencicipinya sendiri"
Air mata Lyora mengalir ditengah cengkraman Edward di pipinya.
"Lalu Kakak mau apa sekarang? Aku sudah bersumpah akan menjauhi Edmund" Lyora berkata lirih
"You're late, sweetheart" bibir Edward mencumbu Lyora dengan kasar. Ia berusaha meloloskan baju yang Lyora gunakan.
Sedangkan Lyora ditengah usahanya untuk membebaskan diri. Malah jatuh terlentang diatas kasurnya.
Edward kembali menyentuh dirinya malam ini dan Lyora terbaring pasrah dibawah tubuh besar pria itu.
Tbc
Baik kan Aku update padahal belum sampe target 🤪
Tetep vote n komen yang banyak yaaa 💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Blame The Cupid [Completed]
ЧиклитKeterkejutan nampak diwajah Lyora. Seolah darah tersedot dari tubuhnya. Wajahnya pucat pasi menyadari siapa pria yang saat ini tertidur disampingnya. Bagaimana tidak? Ia berencana menjebak Edmund Leonard tapi mengapa yang ada di kasur bersamanya it...
![Blame The Cupid [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/233876871-64-k683373.jpg)