part 3

77.3K 3.8K 27
                                        

Edward memutuskan untuk menunggu di sebuah Kafe. Suasana Caffe tidak terlalu ramai, mungkin karena sudah bukan jam makan siang. Edward berjalan menuju kasir untuk memesan kopi. Namun, Ia seperti mendengar suara yang tidak asing. Ia memendarkan matanya dan menangkap seorang perempuan yang tengah tertawa dengan seorang pria.

Lyora, Edward bisa mengenali perempuan itu hanya lewat suaranya karena saat pertandingan Edmund, Suara Lyoralah yang paling keras terdengar dibangku VIP.

Edward memesan Americano dan duduk dimeja yang tidak terlalu jauh dengan Lyora. Lyora tidak melihat Edward karena Ia asik tertawa dan posisi duduknya yang membelakangi Edward.

"Aduh.. Sakit tau"Gerutu Lyora yang masih dapat di dengar Edward, akibat jitakan dari teman prianya.

Handphone Lyora berdering keras. Ia memeriksanya dan memekik kaget "Gawat!"

Noel yang melihat itu ikut penasaran "Ada apa?"

"Bagaimana aku bisa lupa?"Dumel Lyora

"Apa? Kenapa? Apa yang Kau lupakan?"Tanya Noel semakin penasaran

"Hari ini Edmund ulang tahun dan Aku lupa"Jawab Lyora lesu setelah melihat notifikasi kalender di handphonenya.

Noel mendengus kasar. Hidup temannya ini tidak pernah jauh dari Edmund. Noel yakin jika Edmund terjun ke jurang, maka Lyora pada detik itu juga akan terjun.

"Noel, Kau teman terbaikku kan?"Tanya Lyora dengan wajah seperti anak anjing minta makan

Noel hanya menatap Lyora malas. Ia bisa menebak apa yang akan Lyora katakan selanjutnya "Tidak usah memelas. Biar Aku larang, Kau akan tetap pergi juga"

"Kau sahabat terbaikku"Pekik Lyora sambil bangun dari tempat duduknya. Ia bergegas meninggalkan Kafe untuk membeli hadiah untuk Edmund. Namun, sebelum itu.

Cup

"Jangan lupa tulis namaku, Sayang" Lyora terkekeh setelah memberikan kecupan basah di pipi Noel, Ia yakin Noel pasti akan tetap menulis namanya ditugas tersebut.

Sedangkan Edward hampir tersedak kopinya. Lyora mengecup pipi temannya itu. Kelakuan Gadis ini memang sangat diluar nalar.

Mengobrol tanpa peduli kalau suaranya terdengar oleh orang-orang disekitar, kegirangan seperti anak kecil dan mencium pria di tempat umum.

Edward mulai berpikir jika Lyora dapat dengan santainya mencium temannya itu. Apalagi jika ia benar-benar menjadi kekasih Edmund. Pantas Edmund mengatakan Gadis ini sangatlah barbar.

Lyora segera meraih tasnya dan melangkah dengan cepat menuju pintu keluar. Ia tidak memperhatikan langkah sehingga.

Brak

Lyora tersandung meja hingga kopi milik Edward tumpah. Untung saja kopi itu tidak mengenai pakaian Edward.

"Maaf.. Aku benar-"Lyora tersentak melihat Edward

"Kak Edward, benar?"Tanyanya

Edward berpura-pura tidak mengenali Lyora "Ya, Kau?"

"Aku Lyora. Teman kuliah Edmund" Jawab Lyora memperkenalkan diri. Ia menampilkan senyuman manisnya, itung-itung untuk mengambil hati kakak ipar.

"Sekaligus adik iparmu" Sambung Lyora dengan suara seperti menggumam

Gumaman Lyora masih dapat di dengar Edward. Ia bingung harus bereaksi seperti apa didepan gadis ini.

Lyora yang malu berhadapan dengan Edward teringat telah menumpahkan kopinya "Aku minta maaf, Kak. Aku memang orang yang ceroboh. Biar aku ganti kopi mu sebentar"

Edward mengamati wajah Lyora yang memerah dan entah mengapa terlihat menggemaskan dimata Edward. Rupanya Gadis ini masih memiliki setidaknya satu urat malu.

"Noel.. Noel, Issh. Mengapa Kau diam saja disitu? Cepat ambilkan kopi untuk Kak-"

Ucapan Lyora terpotong oleh Edward.  "Tidak usah. Supirku sudah sampai" Potong Edward sambil berdiri  dan memakai jasnya kembali

"Aku sungguh minta maaf Kak"Kata Lyora yang masih merasa bersalah

"Tak apa" Jawab Edward sambil berlalu keluar

"Baiklah.. Hati-hati Kakak ipar" Ucap Lyora dengan nada pelan di akhir kalimat

Seperginya Edward, Lyora merutuk dengan memukul kepalanya. "Mengapa Aku bisa sebodoh ini, padahal ini percakapan pertama kami. Jangan sampai Kakak ipar tidak memberi restu"

Noel yang melihat itu menghampiri Lyora "Jangan terus memukul kepalamu. Kasihan otak kecil mu itu"

....

Edward memasuki pintu mobil yang dibuka oleh supirnya. Ia tersenyum tipis sambil memperhatikan Lyora dari dalam kaca mobilnya.

Sedangkan sang supir penasaran, Apa yang membuat Tuannya yang jarang tersenyum kecuali kepada keluarganya.

Ia ikut menolehkan kepalanya, mengikuti pandangan Edward dan tidak menemukan apa-apa kecuali sepasang anak muda didalam Kafe.

"Jalan, Pak" Perintah Edward begitu sadar akan tatapan supirnya. Ia berdehem menetralkan ekspresi diwajahnya.

Blame The Cupid [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang