part 25

72.3K 4.2K 166
                                        

Setelah semalaman Lyora memeluk putrinya di ranjang rumah sakit. Pagi ini kondisi Lili sudah jauh lebih baik. Suhu badannya sudah kembali normal dan nafsu makan anak itu kembali seperti semula.

"Good job" Puji Lyora sambil menyuapkan suapan terakhir.

"Kapan Lili boleh pulang?"

Sebenarnya Lyora sudah meminta izin pada dokter agar putrinya itu boleh pulang. Dan dokter yang memeriksa Lili tadi pagi juga mengizinkan karena anak itu sudah membaik dan hasil lab juga tidak menunjukan adanya infeksi. Semua normal.

Namun, hingga saat ini Lili masih harus berada disini. Tentu saja karena ayah anaknya itu, Edward. Pria itu berkata memiliki urusan mendesak dikantor dan tidak memperbolehkan Lyora pulang membawa Lili tanpanya.

"Sebentar lagi ya"

"Kita tunggu papa?" Tanya Lili yang dijawab dengan anggukan oleh Lyora.

"Tapi Lili mau pulang ke rumah gemi" Kata anak itu lirih

Melihat wajah murung anaknya saat mengatakan ingin pulang ke rumah gemi sedangkan sebelumnya bocah itu mengatakan dengan lantang ingin bersama Edward, membuat Lyora mendengus.

"Lili kan pulang ke rumah papa" Kata Lyora menggoda anaknya. Ia pun akhirnya dengan keengganan hati menyebut Edward sebagai 'papa'.

Mata Lili langsung kembali berkaca-kaca. Membuat Lyora menahan tawa, akhirnya Ia bisa kembali menjahili bocah itu.

'Cengeng' Batin Lyora walaupun sebagian dirinya mengakui kalau dirinya pun cengeng.

"Lili gamau rumah papa. Mau ke rumah gemi"

Kini anak itu sudah menitikan air matanya, memandang Lyora memelas.

Lyora kembali mendekati Lili setelah menaruh peralatan makan. Ia duduk di ranjang dan langsung ditempeli oleh anaknya itu.

"Yasudah. Lili sama si mbok ya?"

"Mommy?"

"Mommy mau pergi ke Belanda lagi"

"Lili ikut" Balas anak itu cepat dan saat ini bocah yang tangannya sudah dilepas dari jarum infus naik ke pangkuan Lyora.

"Tidak boleh. Mommy kan mau cari anak baru"

Dan seketika ruangan itu dipenuhi oleh raungan Lili. Bocah itu memeluk Lyora seerat mungkin sambil berjanji tidak akan nakal lagi.

Lyora tak bisa menahan tawanya. Biarlah orang mengatakan dirinya ibu sinting yang tertawa lepas disaat anaknya meraung lirih. Tetapi memang ini adalah salah satu hiburan menyenangkan baginya selama menjadi ibu.

Saat Lili masih menangis dan Lyora tertawa. Pintu ruangan dibuka dari luar.

"Ada apa? Kenapa Lili menangis?"

Anak itu mengangkat kepalanya dari dada Lyora "Daddy" Panggilnya serak.

....

Pakaian Edward tak serapih biasanya. Bahkan saat tadi Ia menerima kunjungan dari mentri pembangunan negri ini yang digadang-gadang akan menjadi calon presiden selanjutnya, pria itu sama sekali tidak menggunakan jas. Hanya kemeja putih dengan kerah terbuka dan celana abu.

"Percepat meeting selanjutnya"

"Sekarang, Tuan?" Tanya Teguh ragu. Pasalnya sebentar lagi akan memasuki jam makan siang.

Pertemuan dengan para direktur beserta staf divisinya masing-masing dijadwalkan pukul 2. Tetapi tuannya ini meminta untuk dimajukan menjadi saat ini juga.

Blame The Cupid [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang