Alexander kembali menghilang.
Sudah beberapa hari Floretta tidak melihatnya-tidak di kamar, tidak di teras belakang tempat biasanya pria itu duduk diam dengan kopi yang sudah dingin, bahkan tidak di sudut-sudut rumah yang biasanya sunyi dan hanya dihuni oleh bayangannya.
Begitu juga Kevin, mereka berdua pergi. Tanpa jejak, tanpa pesan, tanpa peringatan.
Satu-satunya wajah yang masih sering Floretta temui adalah Paul.
Pria bertubuh besar dengan bahu selebar pintu dan ekspresi nyaris selalu datar itu tampak seperti benteng bergerak. Luka melintang di pipinya-bekas sayatan lama yang tidak pernah ia jelaskan asal-usulnya-membuatnya tampak semakin menyeramkan bagi orang yang baru melihatnya.
Tapi Floretta tahu lebih baik.
Paul bukan seperti penampilannya. Ia tidak banyak bicara, tapi tindakannya selalu penuh perhatian-diam-diam memperbaiki kursi goyang yang rusak, menyimpan air hangat di termos Floretta, atau membawakan cemilan kecil tanpa diminta saat ia tahu Floretta tidak makan sejak pagi.
Dan yang paling mengejutkan: Zerrin sangat menyukainya.
Setiap kali balita itu melihat Paul, mata bulatnya langsung bersinar.
Tanpa ragu, Zerrin akan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke arah pria besar itu, meminta digendong dengan tawa kecil yang penuh semangat.
"Om!" serunya dalam logat bayi yang belum jelas sepenuhnya, tapi cukup membuat Paul akhirnya tersenyum, walau hanya sejenak.
Dan Paul, yang biasanya terlihat seperti batu besar yang tak tergoyahkan, akan dengan hati-hati membungkuk dan mengangkat Zerrin ke pelukannya. Tangannya besar, tapi gerakannya sangat lembut-seperti seseorang yang tahu betul bahwa sesuatu yang rapuh harus dijaga dengan seluruh nyawa.
.
.
.
.
.
Pagi itu, suasana rumah terasa lebih tenang dari biasanya.
Paul datang lebih awal dari biasanya. Langkah kaki besar pria itu terdengar mantap di lorong, lalu berhenti di depan ruang keluarga tempat Floretta duduk di kursi rodanya, ditemani secangkir teh hangat dan buku yang belum dibuka.
Floretta mengangkat wajah, menatap Paul yang berdiri dengan sikap ragu namun sopan.
"Nona Floretta," ujar Paul perlahan.
Nada suaranya berbeda pagi ini-lebih hati-hati, lebih pelan, seperti seseorang yang menyampaikan sesuatu yang tak ingin melukai.
"Saya diminta menyampaikan pesan..."
Floretta menunggu, diam. Ia tidak mendorong Paul untuk segera lanjut. Tidak ada desakan dalam dirinya-karena entah mengapa, ia merasa sudah tahu siapa dan apa isi pesan itu.
Paul menghela napas sebelum melanjutkan.
"Tuan Alexander... meminta waktu untuk bertemu. Hanya malam ini.
Ia tidak memaksa. Tapi dia berharap Nona bersedia."
Sesaat tak ada respons.
Hanya suara jarum jam dinding yang terdengar pelan di tengah ruangan.
Floretta menunduk, menatap cangkir tehnya yang uapnya mulai memudar.
Pertanyaan itu menggantung seperti awan tipis di dadanya.
Mengganggu, tapi tak bisa diabaikan.
Apakah ia bersedia bertemu Alexander?
Floretta mengangguk.
Satu kali. Pelan. Tapi cukup untuk menjawab.
Paul tidak mengatakan apa pun lagi. Ia hanya menunduk sopan, lalu mundur keluar ruangan, meninggalkan Floretta sendirian bersama pikirannya.
Di luar, sinar matahari mulai menyusup melewati celah awan.
Hari akan terus berjalan, seperti biasa.
Tapi malam ini, sesuatu akan berakhir. Atau... mungkin berubah untuk selamanya.
.
.
Malam itu langit begitu bersih.
Bulan menggantung tinggi, cahayanya jatuh lembut ke tanah seperti selimut perak yang membungkus dunia. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan bunga yang mulai mekar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasíaLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
