Kehidupan Pertama Alexander
.
.
.
.
.
Dengan napas memburu dan kemeja basah oleh keringat, Kevin menerobos masuk ke ruangan bosnya tanpa mengetuk. Pintu terbuka kasar, menabrak dinding di belakangnya dengan suara nyaring yang membuat beberapa kepala di luar menoleh. Tapi ia tak peduli. Napasnya berat, dadanya naik turun cepat. Sisa saus di sudut bibirnya belum sempat ia bersihkan setelah buru-buru meninggalkan makan siangnya di restoran seberang kantor.
Ia baru saja mendapat kabar dari Paul—dan kabar itu membuatnya nyaris menjatuhkan sendok dari tangan. Panik, ia segera meninggalkan meja, berlari melintasi trotoar tanpa sempat membayar, dan sepanjang jalan mencoba menghubungi Alexander berkali-kali—tanpa jawaban.
Ruangan itu kosong. Tidak ada jejak kehadiran Alexander. Laptop masih menyala di meja, dan jasnya tergantung rapi di sandaran kursi. Tapi orangnya tidak ada.
Tanpa membuang waktu, Kevin berbalik dan kembali berlari. Ada satu tempat lagi—tempat yang akhir-akhir ini sering dijadikan Alexander untuk menyendiri.
Taman Rooftop.
Ia melesat ke lift, menekan tombol lantai paling atas berulang kali seperti itu akan membuat lift lebih cepat. Sesampainya di sana, ia membuka pintu besi berat menuju taman atap yang sepi. Angin bertiup kencang di ketinggian itu, membawa aroma dedaunan basah dan kota yang baru saja diguyur hujan.
Dan di sanalah Alexander—berdiri sendiri di dekat pagar pembatas, membelakangi pintu. Dua kancing kemejanya terbuka, dasinya longgar, dan satu tangan dimasukkan ke saku celana. Tubuhnya tampak tenang, tapi ada sesuatu yang rapuh dalam posturnya.
Kevin menghampiri, masih terengah.
Alexander tidak menoleh, namun suaranya terdengar, dingin dan datar.
“Katakan.”
Kevin menelan ludah. Suaranya nyaris tersendat.
“Mansion… keluarga Brown. Terbakar.”
Alexander akhirnya menoleh. Tatapannya kosong—lalu perlahan berubah. Sorot matanya yang tadinya hanya lelah, kini mulai memijar. Tapi bukan dengan amarah. Lebih seperti… kehancuran yang sudah terlalu sering datang.
Kevin melanjutkan pelan, nyaris berbisik.
“Menurut laporan awal… tidak ada yang keluar tepat waktu.”
Keheningan menggantung. Hanya suara angin yang terdengar.
Alexander memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Tubuhnya tetap tegak, meski jelas terlihat bagaimana ia menahan guncangan dalam dirinya. Seperti seseorang yang sedang berdiri di atas tanah yang retak—berusaha tidak jatuh ke dalamnya.
Tanpa menoleh, ia berbicara. Suaranya rendah, namun tegas.
“Perketat penjagaan Floretta dan Jared.”
Hening sejenak, lalu ia menambahkan, lebih tajam.
“Katakan kepada Tosca, aku ingin laporan lengkap. Tidak lebih dari satu jam.”
Kevin mengangguk cepat, tak berani bertanya lebih. Ia tahu ini bukan saatnya. Dengan langkah cepat, ia meninggalkan rooftop, menyusuri lorong kembali ke lift untuk segera menindak perintah itu.
Alexander tetap di tempatnya. Diam. Sepi. Angin kembali berhembus melewati jasnya, membuat ujung rambutnya berkibar pelan. Ia mendongak sedikit, memandangi langit Yupei yang begitu terang siang itu—terlalu tenang untuk hari dengan kabar seburuk ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
