Floretta masih menjaga jarak.
Meski banyak hal telah ia lakukan untuk menebus kesalahanya… Floretta tetap membentangkan batas tak kasatmata di antara mereka.
Batas yang tidak terlihat, tapi terasa jelas. Batas yang dibangun dari luka dan rasa takut akan kecewa lagi.
Ia berbicara dengan Alexander jika perlu. Menjawab ketika ditanya. Mendengarkan saat pria itu mencoba menjelaskan, meminta, berharap.
Tapi Floretta tidak membuka pintu selebar dulu.
Tidak pada hati, tidak pada kehangatan, tidak pada kerinduan yang dulu pernah terlalu besar.
Meski begitu, ia tak bisa membohongi diri sepenuhnya.
Karena perasaannya kadang terenyuh, terutama saat menyaksikan kedekatan Alexander dan Zerrin—anak kecil yang hadir seperti sinar lembut dalam rumah yang penuh bayang-bayang masa lalu.
Malam itu, Zerrin demam.
Suhu tubuhnya tinggi sejak sore, dan semakin malam, tangisnya tak kunjung reda. Tubuh mungilnya panas dan menggigil bersamaan, membuat Floretta cemas dan panik dalam diam.
Ia sudah mencoba menyuapi obat, mengompres, memeluk Zerrin erat. Tapi balita itu terus menangis dalam pelukannya, rewel dan gelisah. Napasnya berat, dan setiap kali terisak, Floretta merasa hatinya ikut terbelah.
Lalu, tanpa banyak bicara, Alexander muncul di ambang pintu kamar.
Matanya langsung tertuju pada Zerrin yang menangis di pelukan Floretta. Ia mendekat perlahan, lalu berjongkok di samping kursi roda Floretta.
"Boleh aku bantu?" tanyanya, suara rendah dan hati-hati, seolah tahu bahwa menyentuh ruang ini berarti memasuki wilayah yang masih dilindungi tembok tinggi.
Floretta menatapnya sejenak ragu. Tapi melihat Zerrin yang semakin gelisah, ia menyerahkan anak itu dengan pelan ke dalam pelukan Alexander.
Dan sesuatu yang tak terduga terjadi.
Begitu Zerrin berpindah ke pelukan Alexander, tangisnya tidak langsung berhenti, tapi mulai mereda perlahan. Alexander berdiri, mengayun pelan tubuh mungil itu dalam dekapan hangat. Tangannya besar, tapi cara ia menggenggam Zerrin begitu lembut, seolah tubuh kecil itu adalah harta paling rapuh yang harus dijaga dengan nyawa.
"Shhh... sudah, Ayah di sini..." bisik Alexander sambil mengelus rambut Zerrin yang lepek oleh keringat.
Nadanya tenang, penuh kesabaran yang tidak dibuat-buat.
Floretta hanya bisa diam menatap mereka.
Dari balik cahaya temaram lampu tidur, ia melihat sesuatu yang menghantamnya diam-diam.
Alexander, pria yang dulu keras kepala dan egois, kini berdiri sebagai sosok yang lembut, sabar, dan penuh kasih terhadap anaknya.
Zerrin mulai tenang. Isaknya berubah menjadi napas berat yang perlahan mengendur.
Alexander tetap berdiri, mengayun pelan, bahkan tidak tergoda untuk duduk meski kakinya mulai gemetar. Peluh mengalir di pelipisnya, tapi ia tak peduli. Matanya hanya tertuju pada anak dalam pelukannya dan sesekali menatap Floretta dengan pandangan… bukan meminta maaf, tapi meminta izin untuk tetap di sini. Untuk tidak diusir dari tempat yang kini mulai terasa seperti rumah.
Dan Floretta… untuk pertama kalinya sejak ia menarik jarak, tidak menolak tatapan itu.
Ia hanya menatap balik masih diam, masih dengan tembok yang belum runtuh.
Tapi malam itu, ia tidak menarik diri.
Ia tidak memalingkan wajah, tidak pergi, tidak menyuruh Alexander keluar.
Ia membiarkan mereka ada di ruangan yang sama.
Dan itu, bagi Alexander… adalah cukup. Untuk malam ini.
.
.
.
.
Alexander menghilang.
Atau lebih tepatnya, dia pergi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
