Sore itu, langit Kota Yupei tampak kelabu, digelayuti awan mendung yang menurunkan cahaya suram ke seluruh penjuru kota. Udara terasa berat, seakan menyerap kecemasan yang merambat dalam dada Leila sejak pagi.
Sudah beberapa minggu ini, Alexander sulit dihubungi. Tetapi masih bersikap sopan saat mereka bertemu. Wajahnya tetap tenang, suaranya tetap lembut. Tapi di balik semua itu, Leila melihatnya, tatapan yang menghindar, sentuhan yang terasa hampa, dan senyum yang tidak lagi sampai ke mata. Setiap kebersamaan mereka kini terasa seperti formalitas. Bisu. Kosong.
Alexander tak lagi tertarik membicarakan tentang rencana pernikahan atau kehidupan dimasa mendatang tentang mereka. Ia lebih sering termenung, menatap keluar jendela seolah mencari sesuatu yang jauh sesuatu yang bukan dirinya. Kadang, ia tiba-tiba pergi entah ke mana, dengan alasan samar, atau bahkan tanpa menjelaskan apa-apa.
Dan itu membuat Leila semakin yakin Alexander menyembunyikan sesuatu.
Tapi bagi Leila, ini lebih dari sekadar kecurigaan akan pengkhianatan. Ini adalah ancaman. Karena Alexander bukan hanya pria yang ia cintai ia adalah satu-satunya tempat Leila merasa diinginkan dan aman. Satu-satunya orang dalam hidupnya yang pernah melihatnya lebih dari sekadar 'anak dari istri kedua'
Sejak kecil, Leila tumbuh dalam bayang-bayang hinaan. Ibunya wanita muda dari keluarga kelas menengah dinikahi Richard secara diam-diam. Dan ketika ibunya meninggal karena sakit, Leila yang masih kecil dibawa masuk ke rumah keluarga bukan sebagai putri, melainkan aib.
Ibu tirinya, selalu memandangnya dengan jijik. Ia sering berkata bahwa Leila hanya 'sisa kesalahan masa lalu' bukan bagian dari darah bangsawan keluarga. Kakak dan adiknya memperlakukannya seperti pelayan tak bergaji. Tak terhitung berapa kali Leila dihina, dikurung, bahkan diisolasi secara diam-diam dari pesta keluarga.
Hanya Alexander yang berbeda.
Meski tak pernah benar-benar terbuka, Alexander adalah satu-satunya yang menatapnya tanpa kebencian. Ia bersikap baik, melindunginya diam-diam, memberinya tempat duduk di meja makan ketika orang lain mencibir. Bagi Leila, Alexander adalah jangkar terakhir yang membuatnya tetap waras. Dan ia telah menggantungkan segalanya pada pria itu hidup, status, harga diri.
Maka, bayangan kehilangan Alexander bukan sekadar menyakitkan. Itu mengerikan.
Jika Alexander benar-benar meninggalkannya, ia akan kehilangan segalanya. Ia akan terusir dari lingkaran keluarga, dijadikan bahan ejekan para sosialita, dan lebih dari itu ia harus kembali ke rumah yang dingin itu. Kembali ke ayahnya, Richard, yang pasti akan murka besar karena kehilangan peluang menyatukan dua warisan besar melalui pernikahan mereka. Dan Ibu tirinya, wanita itu pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk menyiksanya lebih dalam lagi.
Leila meremas jemarinya sendiri, menggigiti kuku yang sudah rapuh karena kegelisahan. Di matanya terpantul keremangan sore, namun pikirannya mulai menyusun terang.
Tidak. Ia tidak akan membiarkan semua yang ia pertahankan selama ini lepas begitu saja. Alexander adalah miliknya. Ia sudah berjuang terlalu lama untuk bisa berdiri di sisi pria itu bukan sebagai skandal, tapi sebagai calon istri pewaris Winston.
Dan jika sekarang ada sesuatu atau seseorang yang mencoba merebut itu darinya, maka orang itu harus bersiap kehilangan segalanya.
Otak Leila mulai bergerak cepat, pikirannya berpacu melawan detak waktu yang terasa menyesakkan. Ia tidak boleh diam. Tidak sekarang. Jika Alexander menyembunyikan sesuatu, maka hanya ada dua pilihan baginya: mengungkap semuanya atau kehilangan segalanya. Dan Leila bukan tipe wanita yang kalah tanpa perlawanan.
Tangannya gemetar halus saat meraih ponsel yang tergeletak di meja kaca. Ia menelusuri kontak, matanya berhenti pada satu nama yang sudah lama tak ia hubungi Hunter Blake kenalan lama dari masa kuliah, pria licin yang sekarang punya banyak koneksi gelap, termasuk ke dunia penyelidikan ilegal.
Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.
Nada tunggu berdering sebentar. Lalu suara berat khas Hunter menyapa, terdengar malas seperti biasa.
"Leila? Sudah lama. Kau tak biasanya menelepon kecuali..."
"Hunter, kau masih punya koneksi?" potong Leila cepat, nada suaranya tajam dan mendesak.
"Tentu saja" jawab Hunter, kini terdengar lebih serius. "Kau ingin tahu tentang siapa?"
Leila menarik napas panjang, sejenak menahan emosinya sebelum menjawab, "Alexander Winston. Aku butuh tahu ke mana dia pergi akhir-akhir ini. Siapa yang dia temui. Di mana dia menginap. Semuanya."
Ada jeda hening di seberang. Hanya suara napas tipis dan bunyi ketikan komputer samar yang terdengar.
"Kau mencurigai dia selingkuh?" tanya Hunter, nada suaranya ringan, hampir terdengar geli.
Leila mengeratkan genggaman di ponsel, matanya menatap kosong ke jendela. Angin sore meniupkan tirai tipis, menyentuh pipinya yang dingin.
"Bukan soal selingkuh." katanya, suara lebih pelan namun tajam seperti pisau. "Aku hanya ingin tahu, apakah ada orang dari masa lalunya yang kembali."
Hunter tampak mengerti. Ia bukan orang bodoh. Dunia orang-orang seperti Leila penuh rahasia, warisan, politik keluarga, dan… luka lama yang bisa muncul kembali seperti hantu.
"Baik." gumam Hunter akhirnya. "Beri aku waktu dua hari. Aku akan pastikan kita tahu setiap langkah Alexander. Termasuk jika dia mengunjungi seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang."
Leila menutup telepon perlahan, lalu menyandarkan tubuh ke sofa. Matanya kosong, namun pikirannya tak berhenti bekerja.
Jika benar ada orang dari masa lalu Alexander yang kembali… mungkinkah itu Floretta? Gadis yang dulunya hanya dianggap bayangan, yang katanya telah pergi tanpa jejak.
Leila menolak percaya. Tapi hatinya dan nalurinya sebagai wanita yang pernah dibuang oleh keluarganya sendiri tahu rasa takut itu datang karena ia tahu kebenaran sedang mendekat.
Dan Leila tak akan membiarkan siapa pun bahkan wanita dari masa lalu mengambil satu-satunya pria yang membuat hidupnya berarti.
.
.
.
Dua hari kemudian, Hunter mengirimkan foto ke email pribadinya.
Leila membuka laptopnya sambil duduk di ruang kerja pribadi, di apartemen mewah mereka yang didesain Alexander. Saat foto itu muncul di layar, detak jantungnya melambat.
Seorang wanita berdiri di taman, mengenakan gaun midi bermotif bunga. Di sampingnya, seorang balita mengenakan topi cukup kebesaran sedang memegang balon warna merah muda. Di sudut lain foto, berdiri Alexander menatap anak itu dari kejauhan dengan lembut dan penuh penyesalan.
Tatapan lembut yang belum pernah Leila lihat dalam dua tahun terakhir. Tatapan yang bukan milik tunangannya. Tapi milik seorang ayah.
Leila membesarkan foto anak itu.
Bibir kecil, Lekukan rahang yang terlalu familiar. Mirip seseorang yang telah menghilang.
Dan mata... ya, mata bayi itu. Mata Alexander ketika masih kecil, yang ia lihat dalam potret keluarga tua Winston.
Tangannya gemetar saat menutup laptop.
Napasnya memburu. Dadanya sesak menahan gelombang emosi yang menghantam seperti badai. Tangannya gemetar saat menutup laptop—bukan karena takut, tapi karena amarah yang menumpuk tanpa ruang pelarian.
Dengan gerakan tiba-tiba, Leila berdiri. Kursinya tergeser kasar ke belakang, berderit lantang.
Tanpa pikir panjang, dia mengangkat laptop itu dan melemparkannya sekuat tenaga ke sudut ruangan.
Brak!
Laptop itu terhempas ke lantai, terbelah. Pecah.
Layar retak seperti hatinya, dan bunyi plastik patah menjadi satu-satunya yang bisa menandingi jeritan batinnya.
"Kau berani—" suaranya tercekat oleh amarah.
Leila berdiri terpaku, tubuhnya gemetar, dadanya naik turun cepat. Pandangannya menatap puing laptop yang kini tak lebih dari sisa kebenaran yang baru saja terungkap.
.
.
.
Note :
Sampai ketemu di hari Sabtu yaa...
Terima kasih semuanya ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
