Extra Part 3

9.9K 509 18
                                        

Kehidupan Alexander Ke-99
.
.
.
.
.

Kesadarannya telah kembali.
Langit-langit putih rumah sakit. Suara monitor. Napas tercekat. Tapi yang paling jelas adalah kenyataan yang menamparnya keras-ini kehidupan ke-99.

Alexander segera menyadari.

Ia tahu siapa dirinya.
Ia tahu apa yang ia cari.
Ia tahu siapa yang seharusnya tak pernah ia lepaskan.

"Floretta..." suara itu keluar lirih, menggema dalam dadanya yang mulai terbakar oleh rasa kehilangan yang belum terjadi-tapi terasa dekat.

Begitu ia bertanya pada Kevin di mana Floretta, dan mendengar jawabannya...

Alexander menggila.

Nyaris menubruk dinding lorong. Tak peduli siapa yang menghalangi. Ia bahkan tak sadar pakaiannya masih terpasang selang infus saat melompat turun dari ranjang.

Ia harus melihatnya. Sekarang. Sebelum semuanya berakhir.

Lift yang ia tumpangi bergerak seperti siput sialan. Lantai demi lantai terasa seperti jarum waktu yang menusuk dadanya.

Tujuannya satu, yaitu atap rumah sakit.
Dari tempat itu, semuanya bisa berakhir.

Pintu lift terbuka.

Angin menerpa wajahnya.
Langkah kakinya berderap cepat. Nafasnya berat. Suara detak jantung mengalahkan semua suara lain.

Dan di ujung atap itu...
Dua sosok wanita.

Floretta-berdiri di tepi pembatas atap, hanya sejengkal dari maut.
Leila-berdiri beberapa meter di depannya, tersenyum kejam, seperti iblis berpakaian manusia.

"Lompatlah."
Suara Leila terdengar ringan, namun penuh racun.
"Maka Ayahmu akan aman. Tak akan terusik. Aku janji."

Floretta menangis.
Tangan gemetar. Satu tangannya memeluk perutnya-perut yang membawa kehidupan, sebuah nyawa kecil yang tak bersalah.

Ketika ia mendongak, matanya bertemu pandangan itu-Alexander.

Mata yang selama ini selalu ia kenal tajam dan penuh benci, mata yang tak pernah memberinya kelembutan selain luka, yang selama ini hanya tahu caranya menyakitinya...

Kini memohon. Tatapan itu begitu putus asa, lembut dalam cara yang menyakitkan...
seolah berkata, "Jangan Pergi."

Alexander berlari.
Bukan sekadar lari-ia menembus takdir.

Menabrak angin. Menabrak batas.
Wajahnya penuh putus asa, tetapi sorot matanya menyala seperti lelaki yang akhirnya memilih cinta di atas segalanya.

"TIDAK! ALEXANDER!!"
Jeritan Leila memecah udara ketika menyadari pria itu muncul dari balik pintu.

Tapi terlambat.
Segalanya terlambat.

Alexander langsung melompat.
Tubuhnya menghantam angin. Tangannya meraih Floretta. Memeluknya.
Erangan, desahan, napas yang bersatu.
Dalam satu pelukan terakhir-mereka jatuh. Bersama.

Waktu seperti melambat.

"Setidaknya... di kehidupan ke-99 ini... kita mati bersama."
Suara Alexander nyaris tak terdengar. Tapi pelukannya mengerat.

Wajahnya penuh ketegangan. Napasnya tersengal.
Tapi di balik semua itu, matanya menyala.

Seperti lelaki yang akhirnya memilih cinta di atas segalanya.

Bukan karena dunia menyuruhnya,
bukan karena dendam yang harus ditebus, tapi karena untuk pertama kalinya... ia sadar bahwa hidupnya tidak berarti jika tak ada Floretta di dalamnya.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang