Extra Part 2

10.4K 515 14
                                        

Kehidupan Alexander Ke-10
.
.
.
.
.

Alexander tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada ketenangan yang mengalir perlahan di dadanya.
Senyuman itu bukan hanya karena ia masih hidup, tetapi karena ia dapat melihat Floretta kembali.

Mobil yang ditumpangi Floretta berhenti tepat di seberang jalan.
Ia masih mengenakan scarf favoritnya. Wajahnya yang cantik menatap ke depan, tak menyadari bahwa seseorang menunggunya di sisi lain realitas.

Alexander telah kembali.
Kembali dengan penuh kesadaran bahwa ini adalah kehidupan ke-10.
Kesepuluh dari siklus panjang yang entah sampai kapan harus ia jalani.
Dan dari kehidupan pertama hingga kesembilan, akhir Floretta selalu sama—kematian.

Ia selalu gagal. Selalu terlambat.
Tapi hari ini… ia lebih cepat.

Ada begitu banyak yang ingin ia katakan.

“Aku ingat semuanya.”
“Aku tahu kau tak mengingat satu pun, tapi aku mencintaimu dalam sembilan cara berbeda, dan di setiap kematianmu…”
“Tapi kali ini, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”

Alexander turun dari motornya.
Langkahnya hati-hati, seperti sedang mendekati mimpi yang rapuh.
Matanya hanya tertuju pada Floretta.
Hatinya berdebar. Tapi tenang.
Karena ia percaya—akhirnya… waktunya tepat.

Tapi—

Dunia punya rencana lain.

Jeritan rem.
Suara klakson panjang.
Gemerincing kaca.

Semuanya terjadi terlalu cepat.
Sebuah truk besar—oleng, tak terkendali—menghantam mobil Floretta dari sisi kiri.

Benturan keras.
Mobil terguling.
Api menjalar.

Alexander hanya bisa menonton.

Mata tajam itu—yang biasanya penuh kendali—membeku.
Menyaksikan segalanya seperti mimpi buruk yang diputar ulang untuk kesepuluh kalinya.
Ia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berteriak.
Tidak bisa menyelamatkan.

Ledakan.

Api menjilat langit senja.
Kaca beterbangan.
Asap hitam membubung ke langit—seperti pengingat dari alam semesta, suara Rosella begitu menggema “Kamu tetap tidak bisa menyelamatkannya.”

Alexander terdiam.
Tubuhnya gemetar.
Tapi jiwanya terasa kosong.

Ia lebih cepat kali ini. Tapi tidak cukup cepat.
Dan untuk kesepuluh kalinya, ia kehilangan perempuan yang selalu ia cintai… tepat di depan matanya.
.
.
.
.
.
Leila mengerang kesakitan.
Tubuhnya tergelatak di lantai dingin, berlumuran darah.
Kedua kakinya tercabik. Tusukan demi tusukan menghantam tulangnya—bukan untuk membunuh,
tapi untuk membuatnya merasakan apa artinya tak bisa lagi melarikan diri.

Nafasnya tersengal. Tangannya gemetar memohon.

“Tolong… Alexander… a-aku—aku minta maaf…”

Suara itu nyaris tak terdengar di antara isak dan darah yang terus mengalir.

Alexander hanya berdiri di atasnya, diam.
Wajahnya tidak menunjukkan kebencian,
juga bukan kemarahan.
Hanya satu hal: kosong.

Karena ini bukan tentang balas dendam. Ini tentang akhir.
Dan ia sudah selesai menyisakan ampunan untuk wanita itu.

Tusukan terakhir ia tancapkan.
Dalam. Lambat. Presisi.
Leila menjerit. Tapi suaranya seperti tak mampu lagi menjangkau Alexander.

Dari balik bayangan, Tosca muncul.
Mengenakan jaket kulit hitam khasnya.
Ekspresinya tetap datar, tapi matanya seperti menyimpan puluhan cara kematian.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang