Extra Part 4

14.2K 618 46
                                        

Kehidupan Alexander ke-100
.
.
.
.
.

Mesin meraung.
Suara dentumannya membelah malam seperti auman binatang buas yang terluka parah. Asap tipis mengepul dari kap mobil yang dipaksa melaju terlalu cepat, melintasi jalanan basah yang berkilau memantulkan lampu kota.

Ban-ban menjerit. Melintasi aspal licin dengan kecepatan yang tak manusiawi—seolah waktu sendiri sedang mengejarnya. Dan mungkin memang begitu. Karena bagi Alexander, waktu bukan lagi sekadar angka yang tertera di jam dashboard.

Tangannya mencengkeram setir erat-erat, begitu kaku hingga buku jarinya memutih seperti tulang. Napasnya pendek, hampir tercekik oleh ketegangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Matanya fokus ke depan, tapi pikirannya terlempar jauh—pecah, tercerai, terbakar.

Ia baru sadar. Ini bukan sekadar hidup.
Bukan sekadar satu masa atau satu kesempatan. Ini adalah kehidupan ke-100.

Dan semuanya… berbeda.

Orang-orang yang biasa ia kenal? Nasib mereka berubah. Dean dan Vivian tidak ada di pihak Leila. Jared dinyatakan tidak bersalah dan bebas. Kemudian yang menghukum Gene Winston Alexander sendiri bukan Dean.

Cerita yang dulu ia hafal seperti nadi sendiri—alur yang selalu berulang dalam pola yang bisa ia ramal kini melenceng, liar dan kacau.

Takdir yang semula seperti roda berputar kini jadi jalan buntu penuh percabangan.
Semuanya bergeser.

Floretta.

Entah bagaimana, entah kenapa, perempuan itu tetap jadi poros segalanya. Tetap jadi pusat dari dunia yang runtuh ini.
Ia tak tahu apakah kali ini takdir akan membiarkannya memiliki Floretta. Tapi ia tahu satu hal.

Ia harus melihatnya.
Ia harus melihat wajah itu sekali lagi. Mendengar suaranya. Menyentuh kenyataan bahwa Floretta masih ada. Masih nyata. Masih hidup di dunia yang kini tak lagi bisa ia pahami.

Mobil meluncur tajam di tikungan.
Ban nyaris kehilangan traksi, sisi kendaraan sempat terangkat dari tanah. Tapi Alexander tidak menginjak rem. Tidak ada ruang untuk keraguan. Tidak ada waktu untuk takut.

Orang-orang menoleh.
Klakson berbunyi.
Seseorang berteriak panik.
Tapi semua itu hanyalah suara-suara samar dalam lorong waktu yang tengah runtuh.
Tidak ada yang penting sekarang.
Tidak saat ini.

Karena dari seratus kehidupan yang telah ia jalani, tidak satupun pernah membawanya ke titik ini.
Titik sadar.
Titik jernih.
Titik di mana semua ilusi telah hancur berkeping-keping dan yang tersisa hanyalah satu kenyataan pahit.
Ia bisa kehilangan Floretta. Selamanya.

"Kali ini aku tidak akan terlambat." gumamnya, lebih seperti janji yang ditancapkan ke dalam jantungnya sendiri.

Tangannya mulai gemetar.
Adrenalin memacu darahnya bagai aliran listrik brutal yang menyetrum setiap saraf. Detak jantungnya menghantam tulang rusuk seperti palu godam.

Dan di antara semua kekacauan yang menjerat, menyesakkan, menghancurkan, satu nama berulang-ulang menggema di dalam pikirannya:

Floretta. Floretta. Floretta.

Karena jika Floretta pergi sebelum ia sempat tiba...
maka kehidupan ke-100 ini akan menjadi neraka yang lebih kejam dari semua kematian yang pernah ia rasakan.
Lebih kejam dari semua kehilangan yang telah ia kubur.

Tidak akan ada kehidupan ke-101.
Tidak ada lembar kosong untuk memperbaiki kesalahan.
Tidak ada janji yang bisa ditepati jika ia gagal malam ini.

Dan di dalam dada Alexander yang kini terasa seperti rongga kosong, satu keyakinan tumbuh seperti duri.

Haru HaruCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang