Alexander memeluk erat anak perempuan yang kini tertidur dalam dekapannya. Tubuh mungil itu masih menggigil halus. Alexander melangkah cepat namun hati-hati, seakan tak ingin membangunkan sang anak dan sekaligus, tak sabar mempertemukannya kembali dengan orang-orang yang telah menunggu dengan napas tertahan.
Ia membuka pintu ruang rawat dengan dorongan pelan.
Lampu putih temaram menyinari ruangan rumah sakit itu. Dindingnya steril, namun aura yang menggantung di dalam ruangan bukan tenang melainkan cemas yang terlalu lama ditahan.
Di ranjang rumah sakit, Jared, kakek yang penuh wibawa dan cinta, kini terbaring lemah. Tubuhnya diselimuti selimut rumah sakit berwarna pucat. Sejak mendengar kabar bahwa cucunya diculik, ia langsung kehilangan kesadaran terpukul hebat. Dokter menyebutkan tekanan darahnya melonjak tajam karena shock.
Bibi Elena, yang duduk di sofa tak jauh dari sana, langsung berdiri begitu melihat sosok Alexander di ambang pintu.
"Oh, sayangku..." bisiknya, hampir tercekik oleh tangis yang tak selesai.
Wajahnya bengkak, rambutnya kusut, dan pakaiannya tampak kusut. Ia telah menangis sejak kemarin tak makan, tak tidur, hanya menunggu, berdoa, dan terus menunggu.
Tanpa menunggu penjelasan, Bibi Elena mendekat dan dengan gemetar menyambut tubuh kecil Zerrin ke dalam pelukannya.
Begitu anak itu berpindah ke dekapan sang bibi, isak tangis langsung pecah dari bibir Elena. Tubuhnya bergetar, air mata membasahi pipinya saat ia membenamkan wajah di rambut Zerrin.
Saat itu pula, Jared membuka matanya.
Kebisingan kecil dari suara isakan, langkah kaki, dan aroma khas rumah sakit perlahan membangunkannya dari tidur yang teramat dalam. Ia mengerjap pelan, dan begitu matanya menyesuaikan diri, ia melihat cucu kecilnya Zerrin sudah kembali, selamat, ada di dalam pelukan Elena.
Untuk sesaat, Jared tak bisa berkata-kata.
Matanya membesar. Napasnya tercekat. Tangannya yang lemah mengangkat pelan, seolah ragu, seolah takut semuanya hanya mimpi yang kejam.
Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
Air matanya mengalir diam-diam tanpa suara, tanpa denting.
Tangisan pria yang telah kehilangan terlalu banyak dalam hidupnya dan hampir kehilangan satu lagi.
Zerrin.
Darah dagingnya.
Dan kini dia kembali masih hidup. Masih bernapas.
"Zerrin..." bisiknya nyaris tak terdengar, suara yang parau dan retak, seakan baru pulih dari luka yang terlalu dalam.
"Aku... aku kira aku kehilanganmu..."
Zerrin menggerakkan tubuhnya dalam pelukan Elena, menggeliat kecil.
Mata mungil itu terbuka setengah. Ia memandang sekeliling, masih samar-samar. Lalu ia melihat wajah kakeknya yang penuh air mata, tetapi penuh cinta.
"Kakek?" bisiknya pelan, nyaris tak yakin.
Dan saat itu pula, Jared menangis.
Bukan tangis pelan. Tapi tangis pecah, lirih, namun dalam.
Tangis yang melepaskan seluruh ketakutan, kemarahan, penyesalan, dan rasa bersalah. Tangis seorang kakek yang merasa gagal melindungi cucunya, meski tahu itu bukan salahnya.
Ia membuka tangannya lebar, dan Elena membawakan Zerrin ke sisinya.
Gadis kecil itu memeluk leher Jared, dan Jared dengan seluruh sisa kekuatan yang ia punya memeluk balik.
"Maafkan Kakek... maafkan Kakek tak bisa menjaga kamu...," isaknya.
Zerrin tidak menjawab. Tapi pelukannya cukup erat untuk menjadi jawaban.
Alexander berdiri dalam diam.
Di balik ketegarannya yang nyaris tak tergoyahkan, dadanya sesak seperti ada ribuan kata yang menggantung, tapi tak pernah benar-benar diizinkan keluar. Ia menatap Jared yang kini berusaha duduk sedikit lebih tegak di tempat tidurnya. Meski wajahnya pucat, dan tubuhnya masih melemah, Alexander tahu pria itu sedang menahan sesuatu jauh lebih berat dari sekadar luka fisik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haru Haru
FantasyLariana memiliki ingatan tentang kehidupan pertamanya, Tuhan mungkin sedang menghukumnya sehingga ia memiliki ingatan yang utuh tentang kehidupan pertama sebagai Floretta Brown. Floretta Brown anak satu-satunya dari keluarga Brown, egois, sering men...
